Gangsing Cinta
Pagi yang cerah di hari Minggu yang bisu. Matahari tetap setia
memancarkan sinarnya menembus langit menghangatkan dunia. Arjun bersiap-siap
beraktivitas di akhir liburnya.
“Ma, aku mo jongging dulu, ya!”, ucapnya sembari berjalan ke luar
rumah.
“Tumben pagi-pagi”, sahut ibunya dengan nada agak heran.
“Iya, Ma. Kalo siangan dikit gak ramai”, dia membei alasan.
“Oh… tiati, ya….”, ucap ibunya.
“Siap grak. Dah Mama….”, sambil menutup pintu dirinya mulai beranjak.
Arjun mengayunkan kakinya sekehendak dirinya menyusuri jalan beraspal
bercoran berbecek silih berganti. Dengan penuh semangat berpenampilan bak peragawan
atlet yang akan menampilkan kostum barunya. Sepatu bersih, kaos celana sepasang
baru disertai ikat kepala. Ia berharap akan bertemu dengan seseorang yang
selalu terbayang.
Di jalan yang biasanya dilalui buat jogging sudah banyak anak-anak, ada
yang berdua, bertiga, atau banyakan. Ada juga keluarga yang berjalan-jalan
saja. Ada juga yang hanya nongkrong di pinggir jalan menikmati suasana atau
cuci mata. Ada juga anak-anak kecil yang bermain di pinggir jalan.
Arjun kelihatan tak tenang di sepanjang jalan. Matanya selalu melihat-lihat
gerombolan-gerombolan pejalan kaki atau yang sedang nongkrong. Bahkan tak
memperhatikan gerombolan yang sedang dia lewati.
“Hai, Jun”, sapa seseorang dari gerombolan yang ia lewati.
“Hai…”, sahut Arjun sambil menengok ke belakang dari sumber suara.
Arjun tak menemukan siapa yang memanggilnya. Namun ia tak mempedulikan karena
gerombolan yang ia lewati dan suaranya laki-laki. Ia melanjutkan joggingnya
sambil melambaikan tangannya ke atas karena mendahului.
Lapang bola Saradan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang jalan-jalan
atau jogging. Di tempat itu banyak yang jalan atau lari keliling lapang pada lintasan
yang tersedia. Banyak juga yang hanya berkumpul-kumpul sambil jajan jajanan
yang ada lokasi sekitar lapang. Sedangkan anak-anak biasanya bemain di wahana
yang berada di lapak-lapak di tengah lapang. Suasana riuh ramai. Bahkan ada sekelompok
ibu-ibu senam yang memutar musik pengiringnya begitu keras menguasai arena.
Arjun gelisah pada suasana meriah di lokasi lapang. Ia berkeliling
dengan berjalan kaki ke seluruh sudut lapang. Memasang telinga kalau-kalau
mendengar suaranya. Tak menghiraukan kawan atau kenalan yang dikenalnya. Hanya sekedar
menjawab sapaan yang dilontarkan pada dirinya.
Ia duduk di pinggir lapang sendirian sambil memperhatikan orang-orang
yang berlalu lalang. Pandangannya menyusuri luasnya lapang. Di dekatnya
sekelompok anak sedang bermain gangsing. Ia tak mempeduikannya. Soraksorai anak-anak
tak mengganggu konsentrasi pandangannya ke seluruh penjuru lapang.
Dag. Benturan gangsing yang dilemparkan salah seorang anak mengenai
gangsing lainnya. Gangsing yang terlempar berputar tak tentu arah dan puarannya
melemah. Gangsing berhenti dekat kaki Arjun dengan tanpa epala tempat
membelitkan tambang. Arjun memungutnya. Dilihatnya gangsing yang dipegangnya. Tanpa
kepala. Menyerupai jantung. Utuh. Tak terluka.
“Aku tak boleh terluka”, gumam Arjun dalam hati.
Arjun dengan penuh rasa kecewa berjalan menuju pulang. Ia tetap
berjogging masih dengan penuh pengharapan. Sama seperti ketika berangkat, ia
pun masih tetap berpandangan liar ke sana ke mari. Masih dengan penuh
pengharapan. Keringat yang menetes di dahinya sebagai saksi keseriusannya
menemukannya. Irama joggingnya mengantarkannya pada gangsing yang patah kepalanya
membentuk jantung.
Tak terasa ia sudah berada di depan rumahnya.
“Yah”, sapa Arjun pada ayahnya yang sedang merawat burung murai
kesayangannya.
“Tumben kamu udah pulang”, ucap ayahnya yang merasa heran.
“Iya, Yah. Mo bikin sesuatu. Tapi mo diajarin sama ayah,” jawabnya.
“Emang mo bikin apa?”, tanya ayahnya.
“Ini yah, bikin mainan tradisional. Tadi aku lihat di lapang ada anak-anak
main gangsing pake kayu. Gangsing mainan tradisional bukan, yah?”, jawab Arjun.
“Kayaknya kalo yang pake kayu mainan tradisional, deh. Soalnya kan ada
gangsing yang bikinan pabrik. Tinggal pencet, jadi deh”. Jelas ayahnya.
“Okelah. Jadi bantuin ya, Yah?”, rayu Arjun.
“Ya. Kamu cari bahannya, ya!”, ucap sang ayah.
Kemudian Arjun masuk rumah untuk membersihkan badan dan beres-beres. Sebagai
anak laki-laki, ia tak membutuhkan banyak waktu untuk mandi dan berbenah diri. Ia
sudah tak sabar ingin memulai kerjaannya sebagai tugas P5.
“Yah,aku sudah siap”, ucap Arjun penuh semangat.
“Ya, kamu siapkan dulu bahannya”, kata ayahnya.
“Kayu, kan, Yah?”, tanya Arjun.
“Iya. Kamu cari batang kayu sebesar betis kamu”, jelas ayahnya.
“Kayu apa, Yah? Carinya dimana?”, tanyanya.
“Kirain udah tau. Kayu jambu. Kemaren Mang Endang nebang jambu di
depa rumahnya. Kamu minta aja. Tiga puluh
sentianlah. Jangan lupa yang segede betis kamu”, ayahnya mengingatkannya.
Arjun segera bergegas ke rumah Mang Endang yang hanya berjarak beberapa
rumah dari rumahnya. Tanpa dengan lama Arjun sampai di rumah Mang Endang dan
kebetulan ada di rumah dan sedang membereskan batang kayu yang ditebangnya
kemarin.
“Lagi beres-beres, Mang?”, tanta Arjun basa-basi.
“Eh, Jun. Mau kemana?”, tanya Mang Endang.
“He, mau ke sini”, jawabnya malu-malu.
“Oh. Tapi si Ujang baru nganter mamahnya ke Pagaden”, kata Mang Endang.
“Mmmm. Ada perlu sama Mang”, katanya memberanikan diri.
“Ooohhh. Ada apa?”, tanyanya lagi.
“Ujang nggak cerita?”, ia pura-pura sudah ngobrol sama Ujang anaknya
Mang Endang.
“Nggak ada cerita apa-apa tuh”, kata Mang Endang.
Arjun memang nggak ada cerita ke Ujang apapun. Karena takut ketahuan ia
buru-buru berterus terang mengutarakannya.
“Mau bikin gangsing, Mang”, ujar Arjun ragu-ragu.
“Oh… Maksudnya nyuruh bikini gangsing?”, tanyanya.
“Ehh. Bukan. Maksudnya saya mau bikin gangsing, trus kata ayah suruh
minta kayu sama Mang Ujang”, jawab Arjun.
“Ohhh. Mana gergajinya? Soalnya gergajiku ada yang pinjam belum
dikembalikan”, kata Mang Ujang.
Lalu Arjun izin dulu pulang ambil gergaji.
“Yah, mau ambil gergaji. Kata Mang Ujanggergajinya ada yang pinjem
belum dikembalikan”, kata Arjun terburu-buru.
“Ehhhh, iya. Ayah lupa, gergaji Mang Ujang dipinjam sama aku. Ya, ya,
ya. Maaf ke Mang Ujang, ya!”, kata ayahnya sambil menepak jidat.
“Ah… ayah bikin malu aku aja”, ujar Arjun sambil masam sama ayahnya.
Tak lama kemudiann Arjun kembali ke rumah Mang Endang untuk mengembalikan
gergaji dan minta kayu sebagai bahan gangsing.
“Mang, kata ayah minta maaf gergaji yang dipinjam lama ngembalikannya”,
ujar Arjun agak sungkan.
“Ah…nggak apa-apa. Pilih kayu sesukamu, Jun!”, suruh Mang Endang.
Arjun memilah-milih kayu yang bdisarankan ayahnya. Agak lama Arjun
memilih kayu sebagai bahan gangsing. Sesudah
mendapatkannya kemudian ia memotongnya dengan gergaji Mang dang yang
sudahbdibawa dari rumahnya. Sesudahnya, Arjun berterima kasih dan berpamitan
untuk pulang.
Waktu sudah menjelang siang. Arjun sedang asyik bersama ayahnya untuk
membuat gangsing. Sedikit-sedikit Arjun bertanya kepada ayahnya. Memang pekerjaan
yang belum sesuai dengan usianya yang masih dudui di bangku SMP. Alat-alat yang
digunakan memang sering dilihat oleh Arjun, namun ia tak memperhatikan cara
menggunakannya. Wajarlah kalau ia selalu bertanya cara menggunakannya.
“Jun, coba kamu potong kayu dari Mang Endang, 10 cm!”, suruh ayahnya.
“10 cm tuh segini, ya, Yah?”, tanya Arjun sambil menunjukkan kepada
ayahnya.
“Ya. Pelan-pelan aja, yah!”, saran ayahnya.
“Udah, Yah. Trus digemanain?”, tanya Arjun lagi.
Ayahnya berdiskusi soal bentuk gangsing, cara membuatnya, cara
memainkan, dan alat serta bahan yang dibutuhkan. Arjun meyebutkan satu persatu
alat yang digunakannya.
“Ayah, mesin bubut disimpan dimana?”, tanya Arjun.
“Kamu ada-ada saja. Mesin bubut itu yang punya orang yang memiliki usaha
perbubutan”, ujar ayahnya.
“Trus, nggak jadi dong bikin gangsingnya?”, Arjun merasa kecewa.
“Jangan khawatir! Kita ke tukang bubut”, ayahnya menghiburnya.
Arjun kembali bersemangat. Ia bersama ayahnya pergi ke tukang bubut
yang agak jauh dari rumahnya. Dengan mengendarai sepeda bermotor, Arjun bersama
ayahnya pergi ke Pagaden ke tukang bubut. Ayah Arjun orang yang taat
berlalulintas. Walaupun ia tahu kalau di Pagaden jarang ada opresai tertib lalu
lintas namun Arjun dan ayahnya tetap menggunakan pakaian berkendara. Mereka berencana
mampir ke toko bangunan untuk membeli alat yang belum ada di rumah.
“Yah, hampelas”, Arjun mengingatkan.
“Ya, kita ke toko Jaya”, jawab ayahnya.
Sesudah selesai di tukang bubut, mereka bergegas ke toko Jaya yang disebutkan
ayahnya. Toko tersebut tak jauh dari tukang bubut.
“Pak, mau apa?”, tanya pelayan toko Jaya.
“Hampelas”, jawab Arjun singkat.
“Yang meteran, apa yang lemabaran?”, tanya pelayannya lagi.
“Yah, aku nggak tahu. Ayah aja yang bilang”, ujar Arjun pada ayahnya.
“Yang meteran aja, Kang. Satu meter. Ada tambang?”, tanya ayah Arjun.
“Siap. Itu tambangnya, Bapak pilih sendiri!”, jawab pelayan.
“Tambang yang bahannya dari benang?”, tanya ayah Arjun.
“Oh. Nggak jual, Pak”, jawab pelayan.
Sesudah selesai transaksinya, Arjun dan ayahnya segera meninggalkan
toko Jaya dan mencari tambang yang berbahan benang ke toko lain. Arjun ingat
waktu beli tambang pramuka di toko kelontong di sekitar pasar Inpres. Kemudian mereka
memutar arah dan pergi ke toko yang diingat Arjun.
Sesuai ingatan Arjun, toko yang menjual tambang banyak pembelinya. Tambang
yang dimaksud oleh mereka tergantung dan kelihatan dari sebelum mereka turun
dari motor. Tak membutuhkan waktu lama mereka berhasil membawa pulang tambang
yang akan digunakan sebagai pemutar gangsing.
“Jun, bikini kopi lah!”, suruh ayahnya.
“Hitam?”, tanya Arjun.
“Yang ada aja!”, jawab ayahnya.
Arjun membawa segelas kopi hitam yang masih mengepul tanda panas. Tangan
kirinya memegang gelas agak besar berisi es kopi.
Mereka berdua menikmati minumannya masing-masing. Dahaga mereka
terobati. Bahan gangsing yang sudah membentuk kartu sekop dikeluarkan dari keropak
motor.
“Yah, trus digemanain?”, tanya Arjun nggak sabar.
“Coba kamu bayangin gangsing yang sudah jadi. Kurang apa gangsingmu”,
ayahnya balik bertanya.
Arjun berpikir sejenak. Tidak hanya sejenak. Ternyata beberapa jenak. Baru
berkata dengan yang tak pasti.
“Perasaan ada pakunya, deh”, ujar Arya.
“Betul sekali. Sekarang kamu cari bor di gudang. Mata bornya di kotak peralatan
yang kecil. Sama paku, ya!”, ujar ayahnya.
Arjun mencari barang-garang yang disebutkan ayahnya. Ada beberapa mesin
di gudang. Ia takt ahu sebenarnya mesin bor yang mana. Ia menebak-nebak mesin
bor yang disebutkan ayahnya. Kotak peralatan juga dibawanya. Ia mencari-cari
paku yang juga disebutkan ayahnya.
“Semua tersedia”, kata Arjun semangat.
“Nah, sekarang kamu cari mata bor ang sesuau dengan paku yang kamu
bawa! Kabel sambungan mana?”, tanya ayahnya.
“Ayah, sih. Coba disebutkan”, kata Arjun sambil mengambil kabel
sambungan.
“Gini caranya!”, kata ayahnya sambil memasangkan mata bor ke mesinnya.
Dengan hati-hati ayahnya melubangi kayu yang sudah berbentuk gangsing
di ujungnya sebagai tempat menancapkan paku.
“Kayaknya aku juga bisa, Yah”, kata Arjun.
“Ntar masang pakunya aja”.
“Oke. Mana?”
Kemudian sesudah selesai dilubangi gangsing tadi diberikan kepada
Arjun. Dengan memegang paku dan palu Arjun mau menancapkan pakunya.
“Eeee…. Kebalik, Jun”, cegah ayahnya.
“Ya, susah, Yah. Kan ada kepalanya”, sanggah Arjun.
“Kalu dipasang kayak gitu, masak kepalanya di bawah?”
“Oh, iya, ya. Trus gemana, dong?”
“Potong dulu kepalanya”.
Dengan susah payah Arjun memotong kepala paku dengan menggunakan gergaji
besi. Usahanya membuahkan hasil. Kepala paku terpisah dari badannya. Dengan sigap
ia menagmbil palu dan paku yang telah hilang kepalanya. Dengan penuh kepercayaan
yang mendalam dipukulnya ujung paku agar menancap di badan gangsinng.
Tag, tag, tag. Paku menacap di badan gangsing dengan sempurna. Senyum
merekah di bibir Arjun.
“Hah….”, betapa kagetnya Arjun melihat kepala gangsing potong dari
bandannya.
“Ayah…….”, teriak Arjun.
Ayah Arjun kaget. Ia khawatir. Ia mengira Arjun kecelakaan kerja. Ayahnya
buru-buru menghampiri Arjun.
“Kenapa?”, teriak ayahnya.
“Kepala gangsing potong”, jawab Arjun dengan lemas hamper menangis.
Mereka terdiam beberapa saat. Terdiam beberapa saat lagi. Terdiam lagi
beberapa saat yang lama. Arjun berharap agar ayahnya segera menemukan cara
menyambung kepala gangsing dengan badannya. Setelah bersaat-saat mereka tetap
terdiam. Ayahnya justru mengemasi peralatan yang berserakan ke dalam kotak
penyimpanan.
“Ayah, maafin aku”, kata Arjun memohon.
“Tenang. Kita ke dokter untuk menyambungkan kembali kepala dan tubuh
gangsing. Atau ilmu pancasona buat gangsingmu”, ujar ayahnya menghibur.
“Nggak lucu, Yah”, ujar Arjun ngambek. Arjun hanya ingat waktu di
lapang yang menginspirasinya membuat gangsing. Namun kejadian yang dialami oleh
anak yang malang di lapang tadi pagi telah menimpanya. Gangsing cinta yang akan
dimainkannya tak terwujud. Tak terwujud.
Ayahnya tak menjawabnya. Namun ia berusaha untuk menemukan cara agar
gangsing yang sudah dibuatnya tetap dapat dimainkan. Bukan ayah Arjun kalau
nggak bisa menyelesaikan persoalan. Setelah bersaat-saat akhirnya ia menemukan
cara agar gangisng yang dibuat anaknya dapat dimainkan. Aahnya memodifikasi
kepala tempat membelitkan tambang dengan menancapkan bauta gak besar ke bEndang
gangsing. Dengan segala akal dayanya, gangsing dapat dimainkan di depan Arjun. Arjun
memandang ayahnya dengan bangga. Diambilnya gangsing tadi dan dibawa ke luar
rumah. Dengan penuh semangat gangsing dibanting dengan kuat. Gangsing berputar,
berlari ke jalan. Bersamaan dengan keluarnya gangsing ke jalan, ada motor
lewat. Pengendara motor kaget. Set. Motor direm. Roda depan melindas gangsing. Cesssssss.
Suara angin keluar dari ban motor. Arjun kaget siapa pengendara motor yang melindas
gangsingnya.
“Srika”, tak terucap.
11/11/2024