Total Tayangan Halaman

Selasa, 31 Desember 2024

TEROMPET

 Terompet terdengar bersahut-sahutan dengan suara yang tak kencang. Di sepanjang jalan utama, deretan pertokoan ada beberapa tukang terompet menjajakan dagangannya.

“Berapa, Mang?”, tanya pembeli.

“Seratus, Bu?”, kata pedagang menjawab.

Pelanggan hanya menanyakan, bahkan tak menyentuh barang yang ditanyakan. Pedagang merasa kecewa namun hanya pasrah. Katanya ada penurunan pembeli terompet di akhir tahun ini.  Entah fenomena apa

“Berapa, Mang?”, tanya pelanggan.

Pertanyaan yang selalu diutarakan oleh pelanggan yang ketika mendekati dagangannya. Dan tak bosan-bosan pedagang itu menjawabnya.

“Satu, bungkus!”, kata pelanggan setelah menanyakan harganya dan tak menawarnya. Seorang ibu yang menggunakan pakaian elegan dan nampak berwibawa namun ramah.

Pedagang itu kaget namun menuruti kemauan pelanggan. Dengan mengucap syukur pedagang itu mengipas-kipaskan uang seratusan ke dagangannya.

“Laris, laris, laris”, ucapannya.

Pedagang itu berpikir jikalau semua pembeli tak menawar harga yang ditawarkannya…tapi mungkin hanya sekali dalam hidup.

“Kemana lagi, Bu?”, tanya pemuda yang mengiringi pembeli terompet tadi.

“Udah cukup, kita pulang aja. Mau bakso?”, tanyanya.

“Ibu….”, seorang pria menyapa.

“Helwiyah”, jawab yang disapa.

“Iya…. Masyallah. Bu Helwiyah. Lama nggak ketemu. Gemana kabar?”, pria itu berkata.

“Baik. Pak Dail, gemana kabar Bapak, sehat, sukses, tetap semangat?”, tanya Hel bertubi-tubi.

“Ngeborong mengahbiskan anggaran akhir tahun, kayaknya? Hehehe”, Dail bercanda.

“Wah, Pak Dail bisa aja. Ini uang pribadi bukan uang negara”, jawabnya.

“Maaf, Bu”, takut lawan bicaranya tersinggung.

“Kita ngobrol di tempat ngopi, yu!”, ajak Hel.

“Ah, takut mengganggu waktunya”, Dail ragu.

“Enggak. Kebetulan kita lagi santai. Bang kita ngopi dulu, ya!”, kata Hel kepada orang yang membuntutinya.

Mereka bertiga berjalan menuju kedai kopi yang berada di dekat tempat memarkir mobilnya. Setelah duduk dan memesan minuman serta cemilan, mereka mulai duduk bersantai.

“Pak Dail mau kemana?”, tanya Hel

“Enggak, cuma nganter anak ke sanggar buat persiapan pentas tahun baru. Jadi jalan-jalan aja melihat kehiruk-pikukan akhir tahun”, jawab Dail

“Nah, ini dia. Pedagang terompet mengeluhkan, dagangannya yang sisa tahun kemaren aja nggak laku juga tahun ini. Banyak yang beli online katanya”, Hel mulai pembicaraan.

“Itu yang jadi masalah. Para pedagang yang kurang memahami perkembangan zaman. Sekarang kan zaman digital. Orang nyebut gaji aja pakai digit. Gajinga berapa digit?”, Dail bercanda, kemudian mereka tertawa bersama.

“Nah ......sekarang kita akan pelajari bagaimana mengembangkan kualitas hidup dengan memanfaatkan literasi digital. Jika kita bijak, maka utamakan kebutuhan daripada keinginan. KEBUTUHAN UTAMAKAN -- DAN JANGAN KEINGINAN. Kebutuhan sesuatu yang harus kita lakukan dan dapatkan untuk dapat hidup

Sedangkan keinginan lebih kepada kesenangan atau pelengkap...”, Mel berapi-api.

“Betul, Bu. Orang-orang sekarang banyak gaya. Dikit-dikit upload, Dikit-dikit upload, Dikit-dikit upload”, ujar Dail.

“Literasi digital dapat kita simpulkan sebagai kemampuan untuk memahami dan  memanfaatkan  teknologi digital dan media sosial secara efektif, aman dan bertanggung jawab. Nah .....kualitas hidup  dapat kita kembangkan dengan memanfaatkan literasi digital. Di era digital, kalau literasi kita kurang, malah bisa kudeT. Perkembangan teknologi saat ini membuat banyak lapangan pekerjaan baru”, sambungnya.

“Betul ...kurang update ....”, Dail menegaskan.

“Dengan digitalisasi hal terbaru dapat diakses dengan mudah”, tegas Hel.

“Misalnya....?”, tanya Dail.

“Jadi Kontent kreator melalui YouTube, Tiktok, IG, FB, atau yang lainnya. Nah, yang konten kreator ini, besar tuh peluangnya. Melalui media digital, masyarakat di pelosok daerah dapat  memiliki penghasilan dari membuat konten, yang rajin dan kontennya viral bisa cepat banyak uang”, katanya.

“Berarti?”, tanya Dail.

“Dibutuhkan kreatifitas dan kemampuan memanfaatkan media sosial serta digital untuk bisa menghasilkan cuan”, tegasnya lagi.

“Ibu rumah tangga di rumah dengan hobi masak pun bisa hasilkan banyak uang, ya Bu!”, selang Dail.

“Dari hal seperti ini sangat terasa manfaat kemampuan literasi digital  bagi pengembangan kualitas hidup. Saya sering buka konten resep dan cara memasak. ..ternyata banyak peminatnya. Semakin banyak view...  Like....dan followers. Adah mesin uang ....hanya dengan  duduk santai di rumah  tanpa transpor”, kata Hel lagi.

“Mungkin ada faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hidup?”, tanta Dail.

“Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas hidup Pak  Dail”, katanya.

What?”

“Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup: pertama, Usia dan kondisi Kesehatan. Kedua, Jenis kelamin dan identitas gender. Ketiga, Pendidikan dan pengetahuan. Kemudian yang keempat, Penghasilan dan status sosial-ekonomi. Selain itu, Lingkungan hidup dan geografis. Keenam, Kebijakan pemerintah dan regulasi. Dan yang terakhir, Perubahan teknologi dan globalisasi”, jawabnya.

“Ada dong yang utama?”, Dail mendesak.

“Nah ......usia dan kesehatan faktor utama yang membuat orang merasa hidupnya berkualitas, no.1 tambah usia-- kesehatan makin menurun jika kurang bisa menjaganya. Ditunjang dengan rasa syukur atas karunia Tuhan Atas  kesehatan dan usia yang manfaat”, jelasnya.

“Bagaimana dengan faktor yang lainnya?”, tanya Dail lagi.

“Iya nomor 2 sampai 7 juga sangat pengaruh -- bagi kualitas hidup. Maka dari itu manfaatkan literasi digital untuk memperoleh info tentang bagaimana menjaga Kesehatan. Banyak konten cara menjaga Kesehatan, dengan kaya literasi maka kita bisa menjadi dokter bagi diri sendiri”, ia menekankan.

“Setuju dan itu gratis modal ada kuota atau WiFi”, Dail membenarkan.

“Betul. ..banyak tawaran  hallo doc. Konsultasi dokter dari rumah, kesehatan mental dengan banyak mendekatkan diri pada Tuhan --ini juga penting bagi Kesehatan. Jenis kelamin dan identitas gender, juga sedikit berpengaruh terhadap kualitas hidup ..tergantung dimana komunitasnya ...”, tambahnya.

Pesanan minuman dan makanan datang. Mereka sejenak melapas dahaga sambil menikmati cemilan yang dipesan. Dengan tak sabar Dail melanjutkan perbincangannya.

“Bagaimana dengan pendidikan?”, tanya Dail lagi.

“Pendidikan Tinggi bukan jaminan  kualitas hidupnya juga tinggi lho. Mungkin kurang bijak dalam memanfaatkan  dan mengelola pengetahuannya. Kalau orang zaman dahulu....pendidikan rendah tapi pendidikan  Anak anaknya tinggi dan beretika bagus, tingkat kesehatannya juga bagus, kenapa? Namun secara umum--- yang terdidik biasanya tahu-- sehingga ia akan melalukan yang positif. Perkembangan teknologi, keaneka ragaman makanan, jenis hiburan, kualitas makanan dn minuman yang dikonsumsi,  kesehatan mentar, faktor psikologis. Adalah hal hal yang relatif berpengaruh punya doa dan bisa memotivasi anaknhya”, tambahnya lagi.

“Berarti wajib bagi kita di zaman ini harus menguasai teknologi. Begitu kan?”, pancing Dail.

“Benar, dengan menguasai teknologi berarti menguasai zaman, ada yang beranggapan begitu sehingga lupa akan Tuhan. Teknologi dan globalisasi suatu negara harus berkembang, tentu saja dengan banyaknya konsekuensi. Pergeseran selera  masyarakat, hiburan, kesenangan, disiplin, perubahan konsep jual beli adalah hal yang nampak jelas terpengaruh”, ucapnya.

“Maksudnya?”, tanya Dail

“Saat ini banyak  toko-toko, mall, pasar ,minimarket , warnet yang makin sepi bahkan tutup, tergusur oleh perkembangan teknologi  dan globalisasi. Serba online”, singkatnya.

“Yang masih eksis adalah  pemodal besar yang memiliki strategi penjualan dan  manajemen yang  mahir”, tambah Dail.

“Betul. ...jual-beli bergeser ke marketplace .....secara online. Yang penting  M banking penuh ....barang datang sendiri, bisa pilih-pilih dari rumah sambil rebahan dan nonton TV”, Hel menambahkan.

“Kalo kita lanjutin bisa panjang lebar nih.  Merambat ke hal Lain, heheh”, ujar Dail.

Hape Dail berdering. Ia melihat ke layarnya. Rupanya anaknya yang tadi diantar yang menelponnya. Setelah menjawab telponnya kemudian Dail segera berpamitan.

Subang, 1-1-2025

Resume 16

HADISUSILO

Senin, 30 Desember 2024

EXPLORE

 Matahari tak ingkar janji

rintangan ia hadapi

rintangan datang berganti

angin mengusir semampu membantu

Apa daya jika terlalu

Sebait puisi merintang waktu di hari yang tak muncul matahari yang dinanti. Sejak pagi awan menutupi langit. ‘Mendung Tanpo Udan’ mungkin sebuah lagu yang mewakili hari ini.

“Pa, jadi nggak kita pergi”, Chen menanyakan pada papanya.

“Kita tunda aja ya!”, jawab papanya dengan harapan.

“Tapi kenapa?”, Chen minta penjelasan.

“Nak, kata BMKG, seminggu ini cuaca ekstrim, lebih baik kita di rumah aja”, jelas papanya.

“Eskrim kan enak, Pa?”, ujar Chen.

“Hehehe, ekstrim, bukan eskrim. Ekstrim itu melebihi batas. Maksudnya cuacanya nggak menentu, tak terduga, berbahaya”, jawab papanya.

Suasana menjadi hening. Chen kecewa karena tak jadi pergi. Padahal ia sudah bersiap-siap untuk berlibur sesuai janji papanya.

“Bagaimana kalau kita menjelajah di rumah aja?”, tanya papanya.

“Menjelajah kok di rumah, gemana Papa nih?”, Chen kecewa.

“Kita menjelajah di dunia maya, oke?”, papanya menjelaskan sambil menjulurkan tangannya untuk tos.

Chen dengan malas membalasnya. Kemudian mereka berpelukan. Chen lalu duduk di samping papanya yang sedang duduk sambil menikmati teh.

“Menjelajah alam digital yang luas bisa berarti banyak hal yang kita dapat. Misalnya; Eksplorasi teknologi,  Jelajahi internet, Dunia game, Pembelajaran online atau yang lainnya. Mana yang kamu suka?”, papanya memulai.

“Main gim, Pa”, jawabnya semangat.

“Bagus, tapi papa mau mulai dengan yang berhubungan dengan sekolah”, ujar papanya.

“Kan baru libur masa ngomongin sekolah?”, protes anaknya.

“Ntar soal gim buat penutupnya, oke?”, jelas papanya.

Chen hanya menaikkan bahunya tanda terserah pada papanya.

“Di era digital ini, perkembang teknologi di bidang informasi teknolgi berdampak juga pada dunia pendidikan. Dipacu lagi pada masa pandemi, teknologi digital ini meningkat penggunaannya. Dan juga memacu dunia pendidikan untuk cepat beradaptasi menghadapi perubahan yang terjadi”, Koko memulainya.

“Kok kayak ngasih materi sama peserta seminar, Pa?”, Chen heran.

“Ya, anggap aja kamu peserta pelatihan, hehehe”, papanya tak mau kalah.

“Siap, aku menyimak. Lanjut”, Chen memberikan semangat.

“Okey. Peran Teknologi Digital dalam Pendidikan; pertama, Akses Informasi yang luas: Pendidik mebuka akses ke sumber daya tanpa batas, platform seperti e-book, jurnal online, dan video pembelajaran. Kedua, Pembelajaran Berbasisi Teknologi: Pembelajaran daring (online learning) memungkinkan belajar kapan saja dan dimana saja. Ketiga, Kustomisasi Pendidikan: Teknologi seperti AI dapat menyesuaikan mteri dengan kebutuhan individu. Dan yan keempat, Kolaborasi Global: yaitu Diskusi lintas negara melalui forum, webinar, atau platform pembelajaran kolaboratif”, Koko bersemangat.

“Gitu doang, Pa?”

“Nggaklah. Keluasaan yang tercipta dari alam digital ini sebaiknya dapat juga meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Peran yang pertama, ini akan membantu bapak ibu dalam mencari informasi. Dahulu mungkin kita perlu menyediakan waktu khusus pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi itu di berbagai buku yang tersedia. saat ini dalam hitungan detik saja, kita dapat menemukan informadi dengan bantuan mesin pencari, seperti google. Peran kedua  dari teknologi digital ini, terlah kita rasakan pada saat pandemi covid lalu. Dapat dibayangkan tanpa teknologi ini, kemungkinan sekolah dan aktivitas lainnya akan terhambat. Peran ketiga ini, sedang ramai juga dibicarakan dan sedang berkembang luar biasa. AI (Artificial Intelligence), ini sangat membantu berbgaai pekerjaan kita, termasuk menyesuaikan materi pengajaran. Bahkan saya sedang mencoba juga sesat keterampilan baru dan program belajarnya lewat AI ini. Peran ke empat tidak kalah pentingnya bagi dunia pendidikan. dl mungkin kita harus menunggu beberpa waktu untuk mendapatkan informasi atau hasil penelitian terbaru. Saat ini kita bahkan dapat berkolaborasi, mendapatkan informasi terkkini dari narasumbernya langsung, tapa perlu meninggalkan tempat kita”, jelasnya lagi.

“Wuiiih, Papa memang hebat. Ntar jadi pembicara di sekolah aku, ya?”, anaknya memberi semangat.

“Tetapi perlu diingat juga karena luasnya dan banyaknya informasi kita perlu melatih kemampuan literasi kita. Dari peran-peran tersebut, berbagai situs maupun aplikasi (perangkat lunak) bermunculan untuk mempermudah berbagai aspek kehidupan termasuk dalam dunia pendidikan. Berikut bebarapa alat bantu dalam dunia pendidikan”, Koko menalnjutkan.

“Trus apalagi, Pa?”, Chen memancingnya.

“Alat dan Teknologi Utama; 1. Learning management systems (LMS): moodle, google classroom, Edmodo. 2. Aplikasi pembelajaran interaktif: duolingo, khan academy, quizizz. 3. Virtual reality (VR) dan Augmented reality (AR): simulasi visualisasi konsep-konsep sulit. Dan 4. AI dan machine learning: analisis kemajuan siswa, pembuatan rencana belajar personalisasi”, ujar Koko.

“Pa, minum dulu, nih!”, Chen memberikan minuman untuk papanya.

“Semuanya dapat kita akses baik dengan menggunakan komputer, smartphone kita atau gawai lainya. Sehingga kita memiliki istilah dunia dalam genggaman. Jadi jangan cuma buat main gim doang”, Koko mengingatkan.

“Tapi kan harus ada aplikasinya, Pa?”, tanya Chen.

“Sama aja kan, gim juga pake aplikasi. Untuk jenis perangkat lunak yang pertama, kamu kan pernah menggunakannya terutama saat online learning. Beberapa tahun lalu untuk perangkat lunak di kelompok dua, yaitu Aplikasi Pembelajaran Interaktif, beberapa gurumu yang hebat juga pernah menggunakannya bahkan sampai saat ini masih ada yang menggunakannya termasuk saya dalam proses mengajar. Sedangkan untuk perangkat lunak di kelompok ketiga memang belum terlalu familiar, tapi bukan berarti tidak digunakan, dapat menggunakan VR dan AR  mendapat pengalaman. Misal : untuk reaksi kimia tertentu yang bahan nya relatif mahal, atau berbahasa dapat dilakukan dalam laboratorium virtual, sehingga dapat menekan biaya operasional dan juga menggurangi resiko berbahaya pada peserta didik

Wooow materi yg sangat menarik”, jelas Koko.

“Pa, kasihan, ya. Temen-temen yang nggak bisa internetan”, keluh Chen.

“Ya ya ya. Tantangan dalam Menjelajhi Dunua Digital karena Kesenjangan akses teknologi: Tidak semua memiliki akses ke perangkat dan internet atau Ketergantungan teknologi: Mengurangi interaksi langsung, mungkin juga karena Keamanan data dan privasi: Ancaman kebocoran data pribadi”, ujar Koko.

“Trus gemana dong Pa?”, tanya Chen.

“Solusi untuk Mengoptimalkan Digitalisasi Pendidikan pertama, Infrastruktur Teknologi yang Merata: Penyediaan perangkat murah dan akses internet. Kedua, Pelatihan Guru: Meningkatkan kemampuan tenaga pengajar dalam menggunakan teknologi. Ketiga, Penerapan Kebijakan Keamanan Data: Perlindungan privasi siswa dan data institusi. Dan yang terakhir, Integrasi Teknologi dengan Metode Tradisional: Mengombinasikan pembelajaran digital dengan pembelajaran tatap muka”, jelasnya.

“Apalgi, Pa?”, Chen bertanya sambil menguap.

“Masa Depan Pendidikan Digital, Hybrid Learning: kombinasi online (daring) dan offline (luring). Peningkatan Realitas Virtual dan AI: membawa pendidikan Tingkat imersi yang lebih tinggi. Pendidikan Berkelanjutan: teknologi memungkinkan pembelajaran sepanjang hayat. Pembelajaran Mandiri: baik sisw maupun guru dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang tidak dipelajari di sekolah. Alam digital sebagai peluang besar: dengan strategi yang tepat, teknologi dapat memajukan pendidikan. Pentingnya kolaborasi: antara pemerintah, sekolah, guru, siswa, dan masyarakat untuk memaksimalkan manfaat teknologi digital. “teknologi adalah alat: tujuan akhir tetaplah manusia yang terdidik dan bermartabat”, gitu princesku”, Koko menjelaskan.

Ternyata putrinya sudah pindah ke alam maya. Kemudian dibenarkannya posisinya. Dikasih bantal dan dibiarkannya terlelap dalam mimpinya.

Subang, 31-12-2024

Resume 15

HADISUSILO

Minggu, 29 Desember 2024

RAMA SINTA

 Tiiiit. Suara klakson mobil yang berhenti di sebuah rumah indah nan asri. Tak lama kemudian keluarlah Sintayani, seorang gadis dengan pakaian kebaya modern warna navy selaras dengan warna batik yang digunakan Ramadani.

“Sepi?”, tanya Rama.

“Bapak sama ibu olga”, jawab Sinta.

Tak menunggu lama mereka berdua sudah berada di keramaian jalan. Tak banyak yang dibicarakan dalam perjalanan dari rumah sampai jalan raya. Sinta sibuk dengan hapenya.

“Ngobrol dong!”, ujar Rama.

“Sebel, tiap buka LinkedIn ‘Untuk rekan-rekan yang masih mencari pekerjaan, terus semangat, dan jangan menyerah, sedikit informasi, kamu bisa cari kerja melalui https://lnkd.in/gQ5pTQK7. Kemudian disarankan via WA dengan tulisan: ”Selamat pagi, nama saya [xx] yang sudah interview untuk posisi [xx] pada [TANGGAL & WAKTU], sudah [xx] hari sejak interview terakhir dan saya belum menerima hasil dari interview, jadi jika sudah ada hasilnya, saya harap saya diberitahu perihal tersebut. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih." Atau, ah sudahlah”, ucap Sinta kesal.

Rama tak menanggapi dengan serius apa yang diucapkan kekasihnya itu. Kemudian ia memilih memutar radio untuk mengalihkan pembicaraan.

“Selamat pagi kakak-kakak. Pada pagi ini menemani perjalanan kakak, kami sajikan lagu-lagu sambil bincang-bincang seputar Literasi Digital ‘Menciptakan Kemampuan dan Kesempatan’ bersama aku Jay si ganteng kelam, hehehe”, demikian suara yang terdengar dari radio yang baru saja ditemukan gelombangnya.

“Literasi digital memang membuka peluang dan kesempatan luas bagi individu, masyarakat dan bangsa. Lalu apa manfaatnya?”, Jay sang penyiar bicara sendiri.

Rama memperhatikan jalan yang agak ramai. Sementara Sinta diam-diam menyimak dengan menambah volume radio.

“Manfaat Individu yang pertama, Meningkatkan kemampuan mengakses informasi. Kemudian, Membangun keterampilan berpikir kritis. Yang ketiga, Mengembangkan kemampuan berkomunikasi efektif. Dan yang keempat, Meningkatkan kesadaran akan keamanan online. Terakhir, Membuka peluang kerja dan wirausaha”, suara Jay yang ngebas tapi enak di telinga.

Sinta menyimak dengan seksama. Rama tetap fokus pada jalanan yang masih padat merayap namun bisa dipacu dengan kecepatan sedang. Di radio terdengar musik yang mengiringi penyiar yang berbicara.

“Kakak-kakak yang setia, manfaatnya bisa buat masyarakat dan bangsa, tapi nggak aku sampaikan ya ntar dikira uih patriotism niye, hehehe”, Jay bercanda.

“Dengan literasi digital ini akan menciptakan Peluang Baru seperti Pendidikan online, Wirausaha digital, Kerja remote, Pengembangan aplikasi, dan Konten kreator”, lanjutnya.

Sinta semakin serius mendengarkannya. Volume suaranya ditambah satu level.

“Bagaimana untuk meningkatkan literasi digital? Nah, kakak-kakak bisa melalui Pendidikan formal dan non-formal, Pelatihan dan workshop, Kampanye kesadaran, Pengembangan infrastruktur digital, dan juga  Kolaborasi antara pemerintah, industri dan masyarakat”, tambahnya.

“Demikian yang bersumber dari UNESCO: Literasi Media dan Informasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta World Economic Forum. Literasi Digital: Kunci Kemampuan dan Kesempatan di Era Digital”, Jay mengakhiri sesi pertamanya dengan memutarkan sebuah lagu Terlukis Indah - Rizky Febian feat Ziva Magnolya.

“Serius bener, Yang?”, Rama berucap sambil melirik ke arah Sinta. Sinta hanya tersenyum sambil menikmati lagu sambil menirukannya.

“Baik kaka-kakak, terima kasih masih bersama aku, Jay ganteng kalem. Literasi digital telah menjadi kebutuhan fundamental di era digital saat ini. Kemampuan memahami, mengakses, dan menggunakkan teknologi digital secara efektif membuka peluang dan kesempatan baru bagi individu, masyarakat, dan bangsa. Apa sih sebenarnya Manfaat Literasi Digital?”, Jay terdengar bertanya pada pendengarnya.

Sinta bercermin membenarkan wajahnya sehabis meneguk air mineral. Sesekali melihat ke hapenya, kalau-kalau ada pesan masuk.

“Kaka-kakak, literasi digital dapat Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis: Literasi digital membantu individu membedakan informasi akurat dan palsu. Selain itu dapat Membangun Keterampilan Berkomunikasi: Kemampuan berkomunikasi efektif melalui media digital. Dapat pula Mengembangkan Kesadaran Keamanan Online: Melindungi diri dari ancaman cyber. Mungkin juga dapat Membuka Peluang Kerja dan Wirausaha: Meningkatkan daya saing di pasar kerja global. Atau dapat Meningkatkan Kualitas Pendidikan: Akses ke sumber belajar online”, tegas Jay.

Jalan yang berkelak-kelok menyebabkan kendaraan tak bisa dipacu dengan kecepatan tinggi. Aplagi disertai dengan tanjakan. Sinta menikmati perjalanan karena bersama kekasih hatinya.

“Jadi kesimpulannya; Literasi digital merupakan kunci untuk membuka kemampuan dan kesempatan baru. Dengan meningkatkan kemampuan literasi digital, kita dapat menciptakan masyarakat yang berpengetahuan, berinovasi, dan berdaya saing” Jay menutup sesi 2 dengan disertai dengan lagu Tentang Dirimu - Raisa.

“Kaka-kakak, ada pesan masuk ‘Apa itu literasi digital?’ Nah, yang dimaksud dengan Literasi digital adalah kemampuan untuk memahami, mengakses, dan menggunakkan teknologi digital secara efektif dan bijak. Ini mencakup: Kemampuan Utama yaitu Mengakses dan mencari informasi online. Kemudian Membuat keputusan berdasarkan informasi online. Selain itun juga Berkomunikasi efektif melalui media digital. Bisa juga Menggunakan teknologi digital untuk belajar dan berkarya. Dan Mengenali dan melindungi diri dari ancaman online (keamanan cyber). Literasi digital juga meliputi aspek satu, Literasi informasi: memahami sumber dan keakuratan informasi. Dua, Literasi media: memahami bahasa dan struktur media digital. Tiga,  Literasi teknologi: memahami cara kerja perangkat dan aplikasi. Empat, Literasi etika: memahami norma dan etika online. Lima, Literasi keamanan: melindungi diri dari ancaman cyber. Ini dikutip dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Juga dari UNESCO: Literasi Media dan Informasi. Kemudian dari World Economic Forum. Dan dari  Situs web pendidikan online seperti Coursera, edX”, Jay memaparkan dengan jelas.

“Yang, AC-nya dimatiin dulu, ya! Biar bertenaga”, ucap Rama.

“Sok, aja”, jawab Sinta singkat.

“Mengapa sih kita perlu belajar literasi digital? Apa urgensinya”, Jay bersuara dengan nada bertanya.

“ Sebenarnya kita perlu belajar literasi digital karena: Alasan Utama dapat Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam mencari informasi online. Juga bisa Menghindari penyebaran informasi palsu (hoax).  Bisa Melindungi diri dari ancaman cyber (keamanan online).  Bisa juga Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesempatan kerja. Dan juga bisa Membuka peluang wirausaha dan inovasi”, ujar Jay.

“Kakak-kakak kalau Belajar literasi digital akan membantu kita menjadi warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Nah, Bagaimana cara kita belajar literasi digital sehingga mampu memberikan kemampuan dan kesempatan?”, tanya Jay lagi.

“Nah, ini tips belajar literasi digital untuk meningkatkan kemampuan dan kesempatan. Belajar Mandiri seperti Kursus online: Coursera, edX, Udemy, Situs web pendidikan: Kemenkominfo, UNESCO, World Economic Forum, Buku "Literasi Digital" oleh Kemenkominfo, atau Aplikasi pembelajaran: Google Digital Garage, Microsoft Learn” lanjut Jay.

Perjalanan melambat bukan karena kelokan dan tanjakan tetapi karena padatnya kendaraan yang entah akan bepergian kemana.

“Kakak-kakak juga bisa Pelatihan dan Workshop dari Pelatihan literasi digital Kemenkominfo, Workshop UNESCO, atau Konferensi teknologi, bisa juga Pelatihan di institusi pendidikan. Selain itu bisa juga mengikuti Komunitas dan Forum di Grup Facebook "Literasi Digital Indonesia" atau Forum Komenkominfo atau juga Komunitas teknologi atau Diskusi online. Dikutip dari  YouTube: channel teknologi dan pendidikan, Podcast: "Literasi Digital" dan "Teknologi", Blog teknologi dan Situs web berita teknologi”, sambung Jay.

Suara Jay berhenti digantikan dengan alunan suara Judika dengan judulnya ‘Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik-Baik Saja’.

“Kakak-kakak, jangan bosen, ya! Masih ada beberapa informasi tentang topik kita. Apa itu cakap digital?”, jay lagi-lagi bertanya dan lagi-lagi taka da yang menjawabnya.

“Cakap digital adalah kemampuan berkomunikasi efektif dan bijak melalui media digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, dan email. Cakap digital dengan Aspek Utama: Komunikasi yang jelas dan efektif, Penggunaan bahasa yang tepat dan sopan, Kemampuan memahami audiens dan konteks, Penggunaan teknologi komunikasi secara bijak, dan Kesadaran akan etika dan keamanan online. Selain itu juga ada Keterampilan Cakap Digital yang mencakup: Menulis pesan yang efektif, Berbicara dengan bahasa yang tepat, Menggunakan emoji dan simbol dengan bijak, Memahami nuansa bahasa online, Menghindari kesalahan ketik dan tata Bahasa dan Menggunakan bahasa yang inklusif dan tidak diskriminatif”, tambah Jay.

“Nah, ini juga penting. Apa itu aman digital? Samakah dengan keamanan digital? Aman digital dan keamanan digital memiliki makna yang terkait namun tidak sama. Aman digital merujuk pada kondisi di mana individu atau organisasi terlindungi dari berbagai ancaman digital, seperti: Serangan siber (hacking, malware), Penipuan online (phishing, scam), Kebocoran data pribadi, Penggunaan teknologi yang tidak etis, dan Ketergantungan pada teknologi. Aman digital ini mencakup aspek Keamanan fisik (perangkat keras), Keamanan logis (perangkat lunak), Keamanan psikologis (perlindungan mental), dan Keamanan sosial (perlindungan dari penipuan). Terus, Keamanan digital yaitu upaya untuk melindungi sistem, jaringan, dan data dari ancaman digital. Perbedaan Utama, kalau Aman digital lebih fokus pada keselamatan individu dan organisasi secara keseluruhan sedangkan Keamanan digital lebih fokus pada teknologi dan system”, Jay menyampaikan dengan santai.

“Lalu bagaimana agar kemanan yang aman? Tips Meningkatkan Aman Digital; Gunakan kata sandi kuat, Aktifkan autentikasi dua faktor, Perbarui perangkat lunak, Gunakan antivirus, Berhati-hati dengan email dan link mencurigakan, Lindungi data pribadi, dan Ikuti pedoman keamanan digital. Dikutip dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, UNESCO, World Economic Forum, dan Buku "Aman Digital" oleh Kemenkominfo”, tambahnya.

“Sebelum kita ke etika digital, nikmati persembahan alunan  Ingkar – Tulus!”, Jay memutarkan lagunya.

Sinta kembali membuka-buka hapenya sambil menyimak lagu yang diputarkan sang penyiar. Rama menguap karena jalan melambat.

“Sampai pada apa itu etika digital? Etika digital adalah prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai yang mengatur perilaku individu dan organisasi dalam menggunakan teknologi digital. Etika digital mencakup Aspek Utama; Privasi: melindungi informasi pribadi, Keamanan: melindungi data dari akses tidak sah, Hak cipta: menghormati karya orang lain, Kebenaran: menghindari penyebaran informasi palsu, Kesopanan: berkomunikasi dengan hormat, Keterbukaan: transparansi dalam berinteraksi online, dan Tanggung jawab: bertanggung jawab atas tindakan online. Selain itu juga memiliki Prinsip Etika Digital yaitu Jangan menyebarluaskan informasi palsu, Hormati hak cipta orang lain, Jangan mengakses data pribadi tanpa izin,  Berkomunikasi dengan sopan dan hormat, Lindungi data pribadi, Jangan menggunakan teknologi untuk melakukan kejahatan, dan Bertanggung jawab atas tindakan online. Etika Digital juga bermanfaat antara lain; Meningkatkan kepercayaan online, Melindungi reputasi, Meningkatkan kesadaran akan keamanan, Membangun komunitas yang beretika, dan Mengurangi risiko hukum. Dikutip dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, UNESCO, World Economic Forum, Buku "Etika Digital" oleh Kemenkominfo, dan Jurnal "Etika Digital dan Masyarakat" oleh Universitas Indonesia. Kakak-kakak semuanya, mudah-mudah-mudahan apa yang Jay sampaikan bisa menjadi referensi kakak-kakak. Acara ini Jay pungkasi dengan sebuah tembang ‘Pesan Terakhir’ alunan Lyodra. Terima kasih, Wassalamu’alaikum, bye-bye”, Jay mengakhiri siarannya dengan memutar lagunya.

Subang, 29-12-2024

Resume 14

HADISUSILO

Sabtu, 28 Desember 2024

HOAX 2

 “Mengelupas Uang Jadi Cara Mendeteksi Uang Palsu”, Om Jay bilang suatu saat.

Tanaya membuka hapenya setelah semalaman lupa nencabut chasannya. Beberapa pesan belum dibacanya. Grup alumni SMP tak lepas dari amatannya.

‘Informasi loker PT Arutmin Indonesia dengan gaji puluhan juta rupiah blablabla….’

Kemudian ditambah dengan kata-kata ‘Bagi rekan-rekan yang memiliki putra-putri atau sudara yang ingin bergabung dengan PT Arumni bisa …..’

Tanaya heran dengan sebagian temannya yang selalu memposting berita yang tak dicek kebenarannya. Padahal pada suatu waktu ketika diadakan reuni atau di postingan sudah pernah dibahas mengenai bagaimana postingan yang boleh diunggah di grupnya. Semua harus konsisten dengan kesepakatan akan hal tersebut. Padahal juga kalau tidak bisa menaati aturan yang dibuat bersama admin bisa mengeluarkan dengan paksa. Namun terkadang tak tega melakukannya.

‘Kalau ada berita hoax atau tidak jelas, sebaiknya di skip saja dan tak usah dikirimkan ke sana kemari. Apalagi kita belum tahu sumbernya’, begitu kata Omjay yang diingatnya.

Pada kesempatan yang lain Om Jay juga berkata, ‘Hal hal yang bernuansa SARA itu sebaiknya tidak kita sebarkan dan disebarkan di media sosial. Sebab kita belum tahu sumber utama beritanya. Apalagi di era kecerdasan buatan atau AI saat ini. Seringkali banyak orang jahat sengaja membuat video hoax’, begitu kalau tak salah.

‘Jadi pantaslah kalau ada lembaga yang bernama masyarakat anti fitnah Indonesia atau mafindo’, pikirnya.

Kemudian hal itu ia tanyakan kepada Om Jay, “Lembaga itu sebenarnya untuk apa?”

“Lembaga ini membantu pemerintah untuk membantu berita bohong atau hoax”, jawab Om Jay.

Hoax itu sangat berbahaya dan bisa membuat manusia saling membenci dan tidak lagi saling berkasih sayang”, lanjut Om Jay.

“Apa yang harus dilakukan dengan semakin banyaknya berita bohong atau hoax?”, tanya Tanaya.

“Saring sebelum sharing. Saat menerima berita, harus memahami dengan logika. Sebaiknya lebih bijaksana dan smart dalam menerima sebuah berita apalagi bersifat hoax. Penyebaran berita bohong atau hoax merupakan masalah serius yang dapat mempengaruhi masyarakat secara luas. Dengan meningkatkan literasi media, berpikir kritis, dan bertanggung jawab dalam berbagi informasi, masyarakat dapat berperan aktif dalam menangkal hoax. Selain itu, dukungan dari pemerintah melalui regulasi yang ketat juga sangat penting untuk menciptakan lingkungan informasi yang lebih sehat” jelas Om Jay.

“Nah, itu sudah sering kita bahas di grup-grup kami, Om”, Tanaya ingin memberikan perannya juga.

“Di era digital, berita hoax menyebar seperti virus. Kita harus waspada dan bijak dengan memverifikasi sumber, memeriksa tanggal, dan mencari sumber lain. Mari jadikan kebenaran sebagai senjata melawan kebohongan.

Langkah Pribadi

1. Verifikasi sumber: Periksa kredibilitas sumber berita.

2. Cari informasi lengkap: Cross-check dengan beberapa sumber.

3. Jangan membagikan informasi tanpa memastikan: Pastikan kebenaran informasi sebelum membagikan.

4. Gunakan filter: Aktifkan filter anti-hoax di media sosial.

5. Edukasi diri: Pelajari tentang literasi digital dan kritik sumber.

Langkah Komunitas

1. Bahas dengan keluarga dan teman: Berbagi pengetahuan tentang bahaya hoax.

2. Membuat komunitas anti-hoax: Bergabung dengan grup atau komunitas yang peduli dengan literasi digital.

3. Melaporkan hoax: Beritahu platform media sosial atau pihak berwenang.

Langkah Nasional

1. Mendukung kebijakan anti-hoax: Mendukung peraturan dan kebijakan pemerintah.

2. Mengikuti kampanye kesadaran: Mengikuti kampanye kesadaran tentang bahaya hoax.

3. Mendukung lembaga verifikasi: Mendukung lembaga verifikasi seperti FactCheck dan Snopes.

Sumber Informasi Terpercaya

1. Kementerian Komunikasi dan Informatika

2. FactCheck

3. Snopes

4. BBC Reality Check

5. UNESCO: Literasi Media dan Informasi

Tips Tambahan

1. Jangan mempercayai berita yang memicu emosi.

2. Periksa tanggal publikasi.

3. Cari sumber primer.

4. Jangan membagikan informasi tanpa memastikan kebenarannya.

5. Gunakan teknologi anti-hoax.                       16.48

“Dengan mengambil langkah-langkah ini, kita dapat mengurangi dampak hoax dan menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat”, tambah Om Jay.

 “Kalau kita pernah tertipu berita bohong atau hoax bagaimana?”, Tanaya melanjutkan pertanyaannya. Kemudian dia juga menuliskan pertanyaan di Meta AI.

 

Apa yang harus dilakukan apabila tertipu berita bohong atau hoax?                                                                                            16.51

Mengakui Kesalahan

1. Akui bahwa Anda salah dan jangan malu mengakui kesalahan.

2. Jangan mempertahankan pendapat yang salah.

 

Mencari Kebenaran

1. Cari sumber informasi yang kredibel dan terkini.

2. Periksa fakta dan data yang mendukung.

3. Baca artikel atau berita dari sumber yang berbeda.

 

Mengoreksi Kesalahan

1. Beri klarifikasi atau koreksi pada media sosial atau forum diskusi.

2. Beritahu orang-orang yang mungkin terpengaruh.

3. Jelaskan mengapa Anda salah dan apa yang Anda pelajari.

 

Meningkatkan Keterampilan

1. Pelajari cara mengidentifikasi hoax.

2. Ikuti kursus atau pelatihan literasi media.

3. Baca artikel tentang kritisisme dan pemikiran logis.

Menghindari Penyebaran Hoax

1. Jangan membagikan informasi tanpa memeriksa kebenaran.

2. Gunakan faktor-faktor berikut untuk mengidentifikasi hoax:

- Sumber tidak jelas atau tidak kredibel.

- Bahasa yang emosional atau provokatif.

- Tidak ada bukti atau sumber yang mendukung.

- Informasi yang tidak sesuai dengan logika.

 

Membangun Kesadaran

1. Bagikan pengalaman Anda untuk mengedukasi orang lain.

2. Dorong orang lain untuk memeriksa kebenaran informasi.

3. Dukung kampanye anti-hoax dan literasi media.

 

Sumber:

 

1. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) - Pedoman Mengenali dan Menghindari Hoax.

2. UNESCO - Literasi Media dan Informasi.

3. (link unavailable) - Cara Mengenali Hoax.                    16.52

Bagaimana caranya supaya tahu bahwa ini berita hoax karena bahasanya sangat meyakinkan dan kadang mencantumkan sumber aslinya?                                                                          16.53

Ciri-ciri Berita Hoax

1. Bahasa yang emosional atau provokatif.

2. Judul yang sensasional atau menyesatkan.

3. Tidak ada tanggal atau waktu yang jelas.

4. Sumber tidak jelas atau tidak kredibel.

5. Tidak ada bukti atau sumber yang mendukung.

6. Informasi yang tidak sesuai dengan logika atau fakta.

7. Menggunakan kata-kata seperti "eksclusif", "breaking news", atau "terungkap).

 

Cara Mengidentifikasi Sumber

1. Periksa situs web resmi sumber tersebut.

2. Cari informasi serupa dari sumber lain yang kredibel.

3. Periksa tanggal dan waktu publikasi.

4. Cari informasi tentang penulis atau pengarang.

5. Periksa apakah sumber tersebut memiliki reputasi baik.

 

Cara Memeriksa Kebenaran

1. Cari verifikasi dari fakt-checker seperti Kompas Fact Check atau AFP Fact Check.

2. Periksa situs web resmi pemerintah atau lembaga terkait.

3. Cari informasi dari sumber yang berbeda.

4. Gunakan mesin pencari untuk mencari informasi serupa.

5. Periksa apakah berita tersebut sudah dikoreksi atau ditarik.

Tips Tambahan

1. Jangan langsung membagikan berita tanpa memeriksa kebenaran.

2. Gunakan logika dan pertimbangkan kemungkinan.

3. Jangan terpengaruh emosi.

4. Ikuti kursus atau pelatihan literasi media.

5. Berhati-hati dengan berita yang mengandung prasangka atau bias.

 

Sumber:

 

1. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo)

2. UNESCO - Literasi Media dan Informasi

3. Kompas Fact Check

4. AFP Fact Check                                                                                                 16.54                                                                                                          

Bagaimana caranya supaya tahu bahwa ini berita hoax karena bahasanya sangat meyakinkan dan kadang mencantumkan sumber aslinya?                                                                          16.54

Ciri-ciri Berita Hoax

1. Bahasa yang emosional atau provokatif.

2. Judul yang sensasional atau menyesatkan.

3. Tidak ada tanggal atau waktu yang jelas.

4. Sumber tidak jelas atau tidak kredibel.

5. Tidak ada bukti atau sumber yang mendukung.

6. Informasi yang tidak sesuai dengan logika atau fakta.

7. Menggunakan kata-kata seperti "eksclusif", "breaking news", atau "terungkap).

 

Cara Mengidentifikasi Sumber

1. Periksa situs web resmi sumber tersebut.

2. Cari informasi serupa dari sumber lain yang kredibel.

3. Periksa tanggal dan waktu publikasi.

4. Cari informasi tentang penulis atau pengarang.

5. Periksa apakah sumber tersebut memiliki reputasi baik.

 

Cara Memeriksa Kebenaran

1. Cari verifikasi dari fakt-checker seperti Kompas Fact Check atau AFP Fact Check.

2. Periksa situs web resmi pemerintah atau lembaga terkait.

3. Cari informasi dari sumber yang berbeda.

4. Gunakan mesin pencari untuk mencari informasi serupa.

5. Periksa apakah berita tersebut sudah dikoreksi atau ditarik.

Berikut beberapa pilihan closing statement tentang hoax dan media sosial:

 

# Pilihan Singkat

1. "Mari kita bijak menggunakan media sosial dan selalu memeriksa kebenaran informasi untuk menghindari penyebaran hoax."

2. "Hoax dapat merusak, mari kita lawan dengan literasi media dan kritisisme yang sehat."

 

# Pilihan Panjang

1. "Dalam era digital ini, kita harus meningkatkan kesadaran akan bahaya hoax dan memperkuat literasi media untuk memastikan informasi yang kita terima akurat dan kredibel."

2. "Mari kita manfaatkan media sosial secara bijak, memeriksa kebenaran informasi, dan menghindari penyebaran hoax untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas dan bertanggung jawab."

 

# Pilihan Inspiratif

1. "Jadilah penjaga kebenaran di media sosial, lawan hoax dengan kecerdasan dan kejujuran."

2. "Bijaklah dalam mencari informasi, karena kebenaran adalah kunci bagi kemajuan bangsa."

# Pilihan untuk Pembicaraan Resmi

1. "Kita harus mengambil langkah serius untuk mengatasi penyebaran hoax di media sosial dan mempromosikan literasi media yang sehat."

2. "Pentingnya memeriksa kebenaran informasi dan menghindari penyebaran hoax merupakan tanggung jawab kita bersama dalam menjaga keutuhan informasi di era digital."

Berikut beberapa pilihan closing statement singkat tentang hoax dan media sosial:

 

# Pilihan Umum

1. "Bijaklah menggunakan media sosial."

2. "Lawan hoax dengan kebenaran."

3. "Cerdaslah mencari informasi."

 

# Pilihan Inspiratif

1. "Jadilah penjaga kebenaran."

2. "Kebenaran adalah kunci kemajuan."

3. "Bersama lawan hoax."

 

# Pilihan Praktis

1. "Periksa sebelum membagikan."

2. "Kritislah terhadap informasi."

3. "Jangan sebarkan hoax."                                                 16.55

Subang, 29-12-2024

Resume 13

HADISUSILO

Jumat, 27 Desember 2024

EKSIS

 Ruangan yang biasanya tak begitu enak dipandang, kini lebih tertata dan lumayan bisa dikatakan lebih pantas. Ruangan yang biasanya setiap meja penuh dengan buku pelajaran, buku tugas siswa, modul pembelajaran, tumpukan karya siswa, dan entah apalagi. Hari ini mulai dari kemarin, ruangan dibersihkan dari beberapa barang yang sebenarnya bukan ditempatkan di meja kerja. Pemandangan yang ada di atas meja hanyalah file box yang terdapat nama seperti nama yang ada di meja. Selain itu, ruangan juga berbau harum. Di depan terdapat sebuah meja panjang yang dihiasi dengan vas bunga, ada piring berisi buah-buahan, dan kue basah. Tiga botol minuman diletakkan di belakang tulisan. Di sisi kanan bertuliskan kepala sekolah, di tengah narasumber, dan paling kiri moderator. Di tembok sisi belakang meja panjang tertempel banner bertuliskan ‘Menegkspresikan Diri yang Baik di Media Sosial’.

Orang-orang mulai berdatangan dan memasuki ruangan. Mereka sudah fasih dengan jalan anatar meja dengan meja lainnya kemudian menempati mejanya sendiri-sendiri.

“Assalamu’alaikum warahmatulullahi wabarakaatuh”, suara Lely menghentikan riuh obrolan setiap orang.

Lely kemudian dengan bla-bla-bla membawa mereka ke acara pokok.

“Sampailah kita pada acara pokok, yaitu pemaparan materi ‘Menegkspresikan Diri yang Baik di Media Sosial’, yang akan disampaikan oleh Ibu Ritawati, M.Pd. Beliau adalah terlahir di Tanjungpinang dari orang tua berdarah minang. Masa kecil hingga remaja penulis habiskan di Tanjungpinang Kepulauan Riau kemudian melanjutkan studi S1 di Yogyakarta. Pernah bekerja di Serang kemudian menikah dan kini menetap di Bali. Pendidikan S2 Magister Teknik Informatika. Aktivitasnya Teacher (SMP Negeri 2 Mendoyo), Blogger, Writer, Moderator, dan Youtuber HP : 085219585451. Untuk menyingkat waktu selengkapnya lebih jauh tentang narasumber kita ini nanti saya share”, Lely memperkenalkan narasumbernya dan langsung memberikan kesempatan sepenuhnya kepada Rita.

“Terima kasih, Bu Lely. Bapak kepala sekolah yang terhormat, Bapak, Ibu guru, yang saya hormati dan saya kagumi, dan semua yang hadir disini yang mudah-mudahan dimuliakan Allah. Salah satu indikator yang mengantarkan saya menjadi guru inspiratif Kemendikbud tahun 2021 bisa jadi karena saya ‘mengekspresikan diri di media sosial’. Karena pada saat itu saya mengangkat Praktik baik dengan judul Literasi Blog dan Tutorial Youtube dalam Mengatasi Learning Loss. Saya yakin jika saya TIDAK mengekspresikan Keterampilan Digital saya lewat tulisan di blog dan youtube, tentu saja kecil harapan saya bisa menjadi peserta terbaik guru inspiratif jenjang SMP ketika itu”, Rita mmengawali ucapannya.

“Bapak Ibu, kita lihat bersama di era serba Digital ini hampir semua kalangan banyak mengekspresikan dirinya di media sosial. Banyak diantara mereka mendapatkan penghasilan karena berhasil menjadi konten creator. Dan tidak sedikit pula yang berurusan dengan hukum karena konten yang menyangkut, Pencemaran nama baik, SARA dan hal lainnya yang melanggar hukum. Akhir-akhir ini ada yang viral guru ASN yang resign karena ‘merasa lingkungannya yang toxic’ (kasus ini ada pro dan kontra dari netizen). Yang terbaru Guru yang mengekspresikan kekecewaan terhadap tulisan siswa yang tidak bisa dibaca hingga menyalahkan guru pada jenjang SD”, nana Rita serasa dipenuhi keprihatinan.

“Bapak Ibu yang Budiman, mengekspresikan diri di media sosial ibarat berakting di panggung virtual. Kita adalah individu yang mencari perhatian dan validasi dari orang lain. Kita lihat bersama ratusan atau ribuan yang berteman dengan kita di sosmed memiliki aneka ragam dalam mengekspresikan postingannya. Ada  yang memposting tentang kegiatan sehari-harinya, ada yang mengekspresikan di sosmed tentang hobinya, tentang masalahnya, tentang perasannya dan lainnya”, sambil menunjukkan visual di layar smart tivi besar.

“Bapak Ibu, sebelum kita mengekspresikan diri pada sosial media ada baiknya kita ketahui Landasan Hukum tentang Etika Bermedia Sosial”, ucapnya sambil menunjukkan slide tentang itu.

UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) memuat beberapa pasal yang mengatur tentang etika bermedia sosial. Pasal-pasal tersebut, antara lain:

• Pasal 27 ayat (3): Larangan menyebarkan informasi yang tidak benar dan menyesatkan.

• Pasal 28 ayat (2): Larangan menyebarkan ujaran kebencian.

• Pasal 32 ayat (1): Larangan mencemarkan nama baik orang lain.

Kemudian menjelaskan yang terpampang di layar.

“UU ITE mengatur berbagai perlindungan hukum atas kegiatan yang memanfaatkan internet sebagai media, baik saat melakukan transaksi, pemanfaatan informasi maupun mengekspresikan diri pada sosmed. Maka dari itu kita harus bijak bermedia sosial dengan cara: 1. Menggunakan media sosial sesuai dengan kebutuhan. 2. Menjaga sikap dan etika dalam berinteraksi dengan pengguna lain. 3. Menyaring informasi yang didapat. 4. Menghindari akun-akun provokatif, dan terakhir 5. Memaksimalkan manfaat penggunaan media sosial”, ucapannya berhenti sejenak menatap semua yang hadir.

“Bapak Ibu, pada dasarnya ada lima hal yang harus kita perhatikan ketika akan berekspresi disosial media yang dikenal dengan “THINK” yang merupakan akronim dari is it True? T (Apakah informasi yang kita sampaikan benar) , is it Helpful? H (Apakah informasi yang kita sharing dapat membantu pembacanya), is it Inspiring? I (Apakah informasi yang kita sharing dapat menginspirasi), is it Necessary? N (Apakah informasi yang kita sharing itu diperlukan), dan is it Kind? K (Apakah informasi yang kita sharing itu baik/ bermanfaat). Jika Bapak Ibu menggunakan pedoman ‘THINK’ dalam mengekspresikan diri di Sosmed, Insyaallah konten Bapak Ibu akan memiliki value dan berkualitas. Jika Bapak Ibu menggunakan pedoman ‘THINK’ dalam mengekspresikan diri di Sosmed, Insyaallah konten Bapak Ibu akan memiliki value dan berkualitas”, penjelasannya tentanh akronim yang digunakan.

“Selain bijak dalam bermedia sosial kita juga harus menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab. Caranya bagaimana? Mari lihat di layar!”, sambil menunjukkan ke layar.

·       Bersikap sopan dan santun dalam berkomunikasi. Hindari penggunaan bahasa yang kasar dan menyinggung.

·       Menghormati privasi orang lain. Jangan menyebarkan informasi pribadi orang lain tanpa persetujuan mereka.

·       Tidak menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Selalu cek kebenaran informasi sebelum membagikannya.

·       Berfikir kritis sebelum membagikan konten. Pertimbangkan dampak konten yang Anda bagikan kepada orang lain.

·       Laporkan konten yang tidak pantas. Jika Anda menemukan konten yang melanggar etika, laporkan kepada platform media sosial terkait.

Setelah menjelaskan slide tentang bijak bersosmed, kemudian melanjutkan ke slide berikutnya.

“Mengapa Etika Bermedia Sosial Penting? Karena dapat :”, sambil menunjukkan ke slide.

·       Menciptakan ruang digital yang aman dan nyaman: Menghormati privasi, menghindari ujaran kebencian, dan menyebarkan informasi yang benar akan menciptakan lingkungan online yang kondusif bagi semua.

·       Melindungi diri dari bahaya: Etika dapat membantu mencegah cyberbullying, pelecehan online, dan penipuan.

·       Meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi: Berkomunikasi dengan sopan dan santun, serta menghargai pendapat orang lain akan membangun pertukaran informasi yang lebih positif dan produktif.

“Bapak Ibu pasti punya alasan tersendiri mengapa senang mengekspresikan diri di platform yang Bapak Ibu senangi. Berikut beberapa platform media sosial populer yang bisa Bapak Ibu ekspresikan diri : Instagram: Cocok untuk berbagi foto dan video pendek. TikTok: Platform video pendek yang sangat populer. YouTube: Ideal untuk membuat konten video yang lebih panjang. Twitter: Untuk berbagi pemikiran dan mengikuti tren. Facebook: Platform yang serbaguna, bisa digunakan untuk berbagai tujuan.

Mengekspresikan diri di media sosial memang menyenangkan, tapi juga penting untuk melakukannya dengan bijak”, ucapnya sambil menunjukkan medsos yang disebutkan ke layar.

“Berikut beberapa cara yang bisa Anda coba!”, sambil membuka slide berikutnya.

1.       Temukan Identitas Dirimu:

o   Passion dan minat: Apa yang paling kamu suka dan ingin bagikan? Bisa berupa hobi, minat, atau pandangan hidup.

o   Gaya pribadi: Bagaimana cara kamu ingin terlihat di mata orang lain? Apakah kamu ingin terlihat lucu, inspiratif, atau informatif?

o   Nilai-nilai: Apa yang kamu percaya dan ingin promosikan? Nilai-nilai ini akan menjadi panduan dalam membuat konten.

2.       Pilih Platform yang Tepat:

o   Sesuaikan dengan target audiens: Setiap platform memiliki pengguna dengan minat yang berbeda.

o   Perhatikan jenis konten: Apakah kamu lebih suka berbagi foto, video, tulisan, atau kombinasi semuanya?

3.       Buat Konten yang Menarik:

o   Otentik: Jadilah diri sendiri dan jangan takut untuk unik.

o   Bernilai: Tawarkan sesuatu yang bermanfaat atau menghibur bagi pengikutmu.

o   Visual yang menarik: Gunakan foto dan video berkualitas baik.

o   Tulisan yang jelas dan ringkas: Sampaikan pesanmu dengan efektif.

o   Gunakan hashtag yang relevan: Ini akan membantu orang lain menemukan kontenmu.

4.       Berinteraksi dengan Pengikut

o   Balas komentar: Tunjukkan bahwa kamu menghargai pendapat mereka.

o   Follow akun lain: Bangun koneksi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

o   Ikuti tren: Bergabunglah dalam percakapan yang sedang populer.

5.       Jaga Etika

o   Hormati orang lain: Hindari komentar yang kasar, menyinggung, atau diskriminatif.

o   Jangan menyebarkan hoaks: Pastikan informasi yang kamu bagikan akurat.

o   Lindungi privasi: Jangan terlalu banyak membagikan informasi pribadi.

“Contoh Konten yang bisa Bapak Ibu sesuai dengan passion Ibu Bapak: •              Jika  suka memasak: Bagikan resep, tips memasak, atau foto makanan yang menarik. • Jika suka menulis: Buat blog atau tulis puisi pendek. • Jika suka traveling: Bagikan cerita perjalanan dan foto-foto destinasi wisata. • Jika  suka menggambar: Posting karya seni kamu”, Rita memungkasi layar.

TERIMA KASIH

“Beri apresiasi buat Ibu Ritawati. Baik Bapak dan Ibu sekalian, kita buka sesi diskusi. Pak Amin, silakan!”, ujar Lely sambil bertepuk mic.

“Kita sebagai orang tua mungkin ada yang tidak lakukan konten/bahkan banyak yang melakukannya demi macam-macam tujuan. Nah saya sering sekali melihat anak-anak murid melakukan live di sekolah walau hanya menari-nari dsb. Sering sekali saya mengingatkan hatihati dan bijaksana dalam bermedia, banyak kejadian karena konten anak-anak kita terjerumus banyak hal mulai dari salah bergaul, terpedaya bahkan sampai tindakan kriminal. Dan juga bisa diam-diam melakukan konten di kamar dsb. tanpa sepengetahuan ortu. Nah, bagaimana kita bisa mengontrol prilaku ini?”, tanya Amin.

“Baik, terimakasih Pak, untuk pertanyaan yang luar biasa. Bapak dan ibu yang punya tips dan trik dalam mengontrol prilaku anak dalam bersosmed bisa sharing disini ya. Saat ini sebagai ortu dan guru ini adalah tantangan terbesar kita. Cara mengontrol prilaku anak dalam bersosmed: pertama, Lakukan komunikasi terbuka dengan anak , huat anak merasa nyaman menceritakan apa pun yang mereka lakukan dan alami tunjukkan kita peduli dan.siap mendengarkannya. Kedua, Jelaskan kepada mereka tentang bahaya yg timbul dr konten mereka, dan yang ketiga, Ajarkan bagaimana sosmed bekerja”, jawab Rita.

“Selanjutnya, Bu Marlina, dipersilakan!”, Lely berkata sambil memberikan mikropon kepada Marlina.

“Saya memiliki gaya belajar visual kinestetik, membaca sebuah keharusan bagi saya dan menulis membuat saya dapat menuangkan ide-ide yang berlintasan di kepala saya. Saya ingin dikenal sebagai penulis inspiritif. Mohon sarannya agar tulisan yg kita buat mencerminkan diri kita, hidup dan bisa menginspirasi pembaca. Jika dalam beberapa tulisan, kita menyelipkan karakter positif diri atau orang terdekat, apakah itu etis, akankah dipandang menyombongkan diri?”, ujar Marlina

“Terimakasih, Bu Marlina. Saya ucapkan selamat dengan gaya belajar ibu . Untuk menjadi penulis yang inspiratif kita harus banyak membaca dan menulis. Jika Ibu ingin menulis perjalanan hidup ibu hingga mencapai puncak kesuksesan silahkan saja Bu! Silahkan Ibu tuangkan bagaimana proses Ibu dari zero from hero. Hal tersebut akan menginspirasi bagi pembaca. Baik cara belajar yang saya lakukan saya banyak menjadi follower sang juara. Dari sana saya banyak belajar bagaimana mereka mengekspresikan diri di sosmed sangat menginspirasi dan jauh berbeda dari kita. Sehingga banyak saya ATM”, jawab Rita.

“Bu Yuyun, silakan!”, Lely mempersilakan dengan tangannya.

“Dengan adanya ruang yang tak terbatas dalam platform digital, bagaimana memastikan keaslian dan kejujuran dalam ekspresi diri di media digital?”, pertanyaan singkat Yuyun.

“Baik Bu Yuyun, salam kenal . Untuk masalah kejujuran kembali lagi dari pribadi yang mengekspresikan Bu, jika plagiat akan mudah terdeteksi. Jika kita ingin mengekspresikan diri, usahakan dari kita sendiri dengan  keunikan yang kita miliki jika ada ide yang sama it's ok, cara mengekspresikannya harus berbeda”, jawab Rita juga singkat.

“Selanjutnya, Pak P5 hehehe. Maaf Bu, Pak Aman sebagai koordintor P5. Jadi beliau dijuluki Pak P5 hehehe”, Lely bercanda.

“Terima kasih. Dengan kemajuan teknologi tentu saja ekspresi kita di dunia digital semakin tak terbatas. Misalnya, dengan adanya kecerdasan buatan Articiple Intelligent (AI), di awal peluncurannya bahkan similarity-nya 0%. Sejauh mana kita bisa memodifikasi karya kita dari AI?, terima kasih”, tanya Aman.

“Pak P5, hehehe. AI seperti Articiple Intelligent memberikan kita alat yang sangat powerful untuk menghasilkan konten. Namun, penting untuk diingat bahwa AI hanyalah alat bantu. Kreativitas dan pemikiran kritis manusia tetap menjadi faktor yang paling penting dalam menghasilkan karya yang berkualitas”, jawab Rita.

“Pak Winarno, silakan!”

“Teria kasi Bu Lely. Maaf Bu Rita ada tiga pertanyaa, boleh?”, Winarno menanyakannya.

“Oh silakan! Masih ada waktu?”, Rita bertanya kepada Lely.

“Masih cukup, Bu”, jawab Lely.

“Terima kasih. Pertama, Seberapa penting kejujuran dalam postingan media sosial? Kedua, Apakah media sosial mempengaruhi perilaku dan pikiran kita? Dan yang ketiga, Bagaimana media sosial dapat digunakan untuk membangun komunitas positif?”, Winarno mengucapkan pertanyaannya.

“Terimakasih untuk pertanyaannya Pak Winarno. Pertama, Sangat penting Pak , itu akan menjadi indikator untuk follower kita. Apalagi kita ingin dikenal sebagai konten creator. Kedua, Bisa berpengaruh. Contoh saja ketika kita memposting hasil karya siswa kita yang meraih juara. Maka akan ada komentar dari pembaca, ini akan mempengaruhi prilaku dan pikiran kita untuk melakukan hal yang lebih baik lagi kepada peserta didik kita. Yang ketiga, Untuk membangun komunitas positif silahkan bapak membuat grup misal berbagi praktik baik dan mengundang guru-guru untuk mengikuti kegiatan tersebut”, jawab Rita.

“Demikian, karena  waktu….”, Lely belum selesai ada yang memotongnya.

“Izin bertanya satu lagi Ibu...?”, Iga mengacungkan tangan.

“Bisa sesingkat-singkatnya?”, tanya Lely.

“Ada orang itu mengunggah SW atau apapun itu tanpa menyebutkan nama orng yang dituju. Contoh misalnya: SW itu ditujukan orang tertentu, dan yang menulis SW itu tahu betul kehidupan orang yang disindir. Nah apakah itu bisa masuk UU ITE?”, taya Iga.

“Baik Bu, kasus seperti itu banyak Bu, ya. Maka dari itu perlu bijak dalam bersosmed jangan sampai melakukan sindir-menyindir dalam sosmed. Jika menyebutkan inisial bisa kena pencemaran nama baik Bu”, jawab Rita singkat.

Closing, Bu”, Lely mempersilakan kepada Rita.

“Tips: • Konsisten: Posting secara teratur agar pengikutmu tetap tertarik. • Jangan terlalu fokus pada jumlah pengikut: Kualitas interaksi lebih penting. • Ambil jeda: Jangan terlalu sering online, berikan waktu untuk diri sendiri. Bpk/ibu mengekspresikan diri di media sosial adalah tentang menemukan suara unik kita dalam berbagi . Yang terpenting adalah tetap menjadi diri sendiri, patuhi aturan ITE, gunakan THINK dan nikmati prosesnya”, Ritawati mengakhiri sesinya.

Subang, 28-12-2024

Resume 12

HADISUSILO