Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Januari 2025

HOBI

 

Udara pagi begitu menyegarkan membuat kedamaian yang menikmatinya. Matahari mengintip diantara awan yang bertebaran di angkasa. Bulan Januari, bulan yang menjadi bulan pertama masuk sekolah semester kedua. Bulan Januari bulan yang menyebabkan kekhawatiran karena intensitas hujan sering terjadi. Bahkan di beberapa daerah sudah mengalami banjir karenanya.

Upacara bendera telah usai dilaksanakan. Biasanya sesudah upacara para siswa berhamburan ke kantin untuk membeli minum. Tapi Senin ini tak begitu berhamburan karena cuaca tak panas. Hanya sebagian yang merasa kehausan yang langsung ke kantin untuk membeli minuman atau makanan supaya bisa bersemangat dalam kelas.

Suara pengeras suara menjadikan banyak siswa merasa kurang senang karena sebentar lagi akan memasuki kelas untuk belajar.

“Ang, kamu udah siap pidatonya”, tanya Bagus.

“Dikit-dikit. Smoga nggak dapat giliran pertama.

“Aku juga baru dikit. Mudah-mudahan Bu Suci nggak datang”, ujar Bagus.

“Jangan gitu bro. nggak baik”, tegur Aang.

“Salahku dimana?”, Bagus ngeles.

“Kamu mendoakan nggak baik”, kata Aang.mengijakkan

“Ah, nggak. Cuma mudah-mudahan aja nggak datang. Nggak baiknya dimana?”, tanyanya lagi.

“Kalau nggak datang pasti ada hal-ahl kan?”, tegas Bagus.

“Ah, sudahlah. Masuk yuk!”, potong Aang.

“Selamat pagi anak-anakku”, sapa Suci pada murid-muridnya.

“Pagi, Bu….”, jawab mereka serentak.

Suci, guru bahasa Indonesia memasuki kelas Aang yang sedang riuh rendah. Dengan langkah yang mantap menyebabkan beberapa siswa memberi sinyal agar tak rebut. Dan jeb, kelas menjadi hening bersamaan dengan sepatu Suci menginjak lantai pintu kelas. Dengan suka cita, Suci membuka pelajaran dengan penyemangat, menanyakan kehadiran, memantik siswa agar konsentrasi belajar.

“Baik, anak-anakku yang ganteng, yang cantik. Apa yang harus kalian lakukan hari ini?”, tanya Suci selanjutnya.

Semua terdiam. Pandangan Suci liar ke seluruh penjuru kelas. Yang bertatapan dengannya kemudian pura-pura balpennya jatuh, mencari sesuatu, atau membuka-buka buku. Hal itu sudah biasa dihadapi Suci bertahun-tahun.

“Ang, kamu ingat pertemuan hari ini harus apa?”, tanya Suci pada Aang.

“Emm, nggak yakin, sih Bu!”, jawab Aang pura-pura ragu.

“Ibu juga nggak yakin kamu nggak boong”, balas Suci. Kemudian kelas menjadi riuh karena ucapan Suci.

“Iya, Bu. Pidato, Bu. Tapi aku lum siap, Bu”, ucap Aang memohon.

“Iya, baik. Ibu yakin kalian pasti ingat. Tapi seperti kata Aang, pasti diantara kamu berasalan belum siap. Baik, kalau begitu. Duduk siap, grak”, Suci berkata dengan suara keras. Kemudian Suci melanjutkan ucapannya.

“Nah, sekarang kalian sudah siap. Siapa yang mau maju duluan?”, tanya Suci. Kelas hening lagi.

“Bu, boleh bawa catatan?”, tanya Indah.

“Kesepakatan kemaren, gemana?”, tanya Suci. Kelas hening lagi. Kemudian ada yang tunjuk jari.

“Bu, saya, Bu. Tapi nggak hapal semua”, Indah mengacungkan tangan.

“Baik. Kamu coba aja, ntar dikoreksi bareng-bareng, ya?”, ucap Suci.

Indah menggeserkan kursinya untuk berdiri. Kemudian menarik napas panjang. Kemudian lagi melangkah menuju ke depan menghampiri Suci.

“Apa temanya?”, tanya Suci.

“Seperti tugas Ibu. ‘Hobi: Kunci Kebahagiaan dan Pengembangan Diri’ gitu boleh?”, tanya Indah.

“Yang lain menyimak! Silakan princes!”, kata Suci sambil mengacungkan jempol.

“Selamat pagi, Ibu guru, dan rekan-rekan yang aku banggakan. Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena dengan ridlonya kita dapat berkumpul di sini”, ucap Indah memulai.

“Huhui, mana tepuk tangannya?”, salah seorang murid yang di belakang berujar.

“Eit. Jangan dipotong. Kita Simak sampai akhir. Indah, lanjut!”, ucap Suci.

“Hobi merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela dan dinikmati dalam waktu luang. Hobi bukan hanya sekadar kegiatan, tapi juga sarana untuk mengembangkan diri, meningkatkan kreativitas, dan mencapai kebahagiaan. Pertama, hobi membantu mengembangkan keterampilan dan bakat. Dengan menekuni hobi, kita dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam bidang tertentu. Misalnya, hobi melukis dapat meningkatkan kemampuan menggambar dan memahami warna. Kemudian yang kedua, hobi dapat mengurangi stres dan meningkatkan keseimbangan mental. Kegiatan hobi dapat menjadi sarana relaksasi dan mengalihkan perhatian dari kesibukan sehari-hari. Contohnya, hobi berkebun dapat membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan kualitas tidur. Yang ketiga…..” Indah menatap lagit-langit mengingat apa yang harus diucapkan.

“Tiga, Persatuan Indonesia”, seorang siswa yang duduk di belakang kembali berucap dan diikuti oleh gelak tawa teman-teman yang lain.

“Tenang, ya! Ntar kamu dapat giliran nangis-ngangis”, ucap Suci menanggapi siswa yang berucap dan diikuti oleh gelak tawa teman-temannya.

“Lanjutkan Indah! Yang lain tetap tenang!”, ucap Suci lagi.

“Ketiga, eeeem. Hobi memperluas kesempatan sosialisasi dan membangun komunitas. Dengan bergabung dalam komunitas hobi, kita dapat bertemu orang-orang dengan minat yang sama dan membangun persahabatan. Misalnya, hobi fotografi dapat memperkenalkan kita pada komunitas fotografi dan berbagi pengalaman. Terakhir, hobi dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Melihat hasil karya sendiri dapat membangkitkan rasa bangga dan percaya diri. Contohnya, hobi menulis dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya sastra yang bermakna. Kesimpulan, hobi bukan hanya sekadar kegiatan, tapi juga sarana untuk mengembangkan diri, meningkatkan kreativitas, dan mencapai kebahagiaan. Mari kita jadikan hobi sebagai bagian penting dalam hidup kita. Sekian yang dapat aku sampaikan, bila ada kata-kata yang kurang pas mohon diaafkan. Terima kasih”, Indah mengakhiri pidatonnya sambil lari kembali ke tempat duduknya.

Meta AI Llama 3.2 13/01/2025 06:29:46

Tanpa dikomando seluruh siswa bertepuk tangan. Ada yang sambil memukul-mukul meja, ada yang sambil berteriak, tapia da juga yang diam tak merespon.

“Baik. Anak-anak sekalian. Pidato yang bagus, memotivasi. Kamu hebat”, Suci memuji Indah dengan kata-kata dan acungan jempol.

“Nggak, Bu. Aku dapat dari Meta AI hehehe”, ucap Indah jujur tapi disambut oleh teriakan mengolok-olok.

“Sudah-sudah. Sekarang giliran Indah menunjuk ke salah satu temanmu. Laki-laki, ya!”, ujar Suci.

Suasana kelas menjadi hening dan tegang. Semua terdiam menunggu keputusan Indah. Semua laki-laki terdiam. Ada siswa yang langsung membuka-buka buku, ada yang komat-kamit, ada pula yang melototin Indah. Indah memandangi setiap laki-laki dari tempat duduknya. Kemudian buru-buru memindahkan pandangannya ketika beradadu padnag dengan temannya yang galak. Dengan mulut komat-kamit akhirnya Indah berucap.

“Aku ingin temanku yang spesial. Yaitu….eeeee….nomor urut 13”, ucap Indah yang tak menyebutkan namanya.

Semua teman laki-laki yang berada di nomor pertengahan berdebar-debar. Suci melihat daftar siswa yang biasa digunakan untuk mengabsen, kemudian berkata.

“Nomor tiga belas perempuan, Indah!”, kata Suci.

Anak laki-laki merasa lega karena yang ditunjuk bukan dirinya. Indah diam sejenak kemudian berucap lagi.

“Emmm nomor terdekat aja, Bu!”, ucap Indah.

“Atas bawah?”, tegas Suci.

“Emmm bawah”, ucap Indah lagi.

Suci kemudian menelusuri ke bawah sesudah angka tiga belas dan berlebel L. Suci memandangi ke seluruh siswa laki-laki. Semua siswa laki-laki terdiam.

Minggu, 05 Januari 2025

BAIK

 Kawan lama akan menjadi sebuah cerita. Kawan lama akan menjadi sebuah kerinduan. Kawan lama menjadi suasana semakin seru.

Warung kopi kekinian itu terlihat lengang. Hanya ada satu meja yang terisi oleh tiga orang yang sedang mengobrol sambil bermain hape. Widya tampak memasuki kafe itu sendirian. Ia melayangkan pandangannya ke seluruh yang bisa dipandang. Hanya meihat tiga orang yang sedang berada di meja sudut. Namun ia tak ragu untuk memasuki kafe itu kemudian memesan minuman kesukaannya. Setelah menduduki meja yang dianggapnya nyaman kemudian mengeluarkan gawainya. Dengan jemarinya yang terampil, kemudian menempelkan hapenya ke telinga. Beberapa saat kemudian ia kembali menarikan jemarinya di hapenya.

 


Bestie, aku dah nyampe                                                             14.51

Ia mengirimkan pesan disertai lokasi kafenya. Sambil berselancar melihat-lihat di layar hape, tersenyum sendiri melihat tayangan yang lucu-lucu dari netizen +62. Sesekali melihat pesan yang dikirimkan kepada teman lamanya NDY.

?                                                                                               14.55

“Hai”, keduanya bersamaan mengucapkannya.

Mereka berpelukan. Berbasa-basi. Menanyakan Kesehatan, keluarga, teman-teman, dan banyak lagi keseruan sebelumnya. Sesudah beres keseruannya kemudian Widya menagih janji yang harus diomongkan jikalau bertemu darat.

“Mana janjimu?”, tanya Widya.

“Okey. Kita buka kotak Ajaib”, sahut NDY sambil mengeluarkan kotak saktinya.

Dimulailah petualangan keduanya di kotak Ajaib milik NDY. Setelah menunggu tak lama, cemilan dan booting laptop bersamaan.

“Sejumlah keterampilan, dalam hal ini kemampuan seseorang dalam memanfaatkan teknologi. Ada beragam pengertian mengenai literasi digital. Literasi digital juga dapat didefinisikan sebagai "kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten / informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal”, NDY memulai.

“Wuih, keren Teh”, puji Widya.

“Bahkan UNESCO menguraikan literasi digital adalah kecakapan yang tidak hanya melibatkan kemampuan penggunaan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi, tetapi juga melibatkan kemampuan untuk dalam pembelajaran bersosialisasi, sikap berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetisi digital”, lanjutnya NDY.

“Hmmm”, Widya tak ada kata.

“Tentu saja dalam pemanfaatan teknologi tidak lepas dari keterampilan dalam menggunakan teknologi namun di satu sisi sebagai user kita harus mampu bersikap bijak dalam pemanfaatannya. Dalam praktiknya kita mengenal Empat pilar literasi digital yang merupakan bagian dari Roadmap Literasi Digital 2021-2024 yang disusun oleh Kementerian Kominfo”, kata NDY.

“Sok, lanjut. Aku nyimak trus”, ujar Widya.

“1. Digital Skill; Digital skill berkaitan dengan kemampuan individu dalam memahami dan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak, serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Digital skill termasuk keterampilan dasar seperti menggunakan komputer, smartphone, aplikasi, dan perangkat digital lainnya dalam keseharian. 2. Digital Culture; Digital culture adalah aktivitas masyarakat di ruang digital dengan tetap memegang nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, dan kebhinekaan. Meskipun ruang digital sering dianggap bebas aturan, sangatlah penting untuk mengingat bahwa etika dan tata krama tetap harus dijaga, sama seperti di ruang fisik. Digital culture membantu menjaga harmoni dan kerukunan di dunia digital. Dan nomor 3. Digital Ethics; Digital ethics adalah kemampuan untuk menyadari, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini bagaimana Ketika kita berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya dengan sopan santun dan menghormati privasi serta hak-hak orang lain. Terakhir 4. Digital Safety; Digital safety melibatkan kemampuan masyarakat untuk mengenali, menerapkan, dan meningkatkan kesadaran tentang perlindungan data pribadi dan keamanan digital. Sebagai pengguna/user, maka kita hendaknya memahami cara melindungi informasi pribadi, mengenali ancaman keamanan seperti malware dan phishing, serta mengetahui langkah-langkah yang perlu diambil untuk menjaga keamanan data”, paparnya panjanglebar.

“Wow wow materi daging semua. Lanjuut teeh. Eh…minum dulu”, ujar Widya.

“Okey, minum kopi dulu hehe”, sahutnya.

“Jangan sama cangkirnya yoo”, canda Widya.

“Selanjutnya komponen apa saja dalam Literasi Digital sehingga kita dapat mengoptimalkan keterampilan selaku motivator literasi digital?”, pertanyaan yang tak perlu dijawab Widya sambil menujukkan di layar.

Widya menatap dengan seksama gambar yang tertera di layar laptop sambil mengunyah cemilan.

“Pertama, Keterampilan Teknologi Dasar; Sebagai motivator literasi digital, hendaknya kita memahami terlebih dahulu cara menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak, seperti komputer, aplikasi, atau alat-alat online. Apakah harus menjadi expert? Tentu saja tidak, tetapi bagaimana ketika kita memahami petunjuk praktis sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan bidang masing-masing. Yang kedua,  Kemampuan Menavigasi Internet; Mengakses informasi melalui mesin pencari, menggunakan media sosial, dan memahami cara kerja situs web. Disini peran kita sangat penting dalam melakukan searching, hunting akan informasi dengan memanfaatkan mesin pencari. Hati-hati, awarnes dalam melakukan pencarian di mesin pencari pada situs web. Ketiga, Pemahaman Keamanan Digital; Melindungi data pribadi, mengenali ancaman seperti phishing atau malware, dan menggunakan kata sandi yang kuat. Berkaitan dengan poin kedua, kita hendaknya berhati-hati dalam menelusuri atau mencari informasi. Hal ini berkaitan dengan banyaknya situs yang berbahaya, bahkan dapat mencuri data pribadi. Dan yeng keempat, Etika Digital; Menggunakan internet secara bertanggung jawab, menghormati hak cipta, privasi, serta memperlakukan orang lain dengan baik dalam komunikasi digital. Dalam melakukan pencarian, mengunduh bahkan mem-publish. Selaku user yang cakap literasi digital hendaknya memperhatikan hak cipta dan privasi. Hal ini pun pernah disampaikan pada materi sebelumnya. Sebagai CC (content creator) ada yang harus kita cermati apa yang akan kita gunakan dan apa yang akan kita sebarkan yang berkaitan dengan informasi digital. Baik berupa gambar, tulisan bahkan produk. Selanjutnya, kelima, Kemampuan Analisis Informasi; Mengevaluasi kredibilitas sumber informasi online untuk membedakan fakta, opini, dan berita palsu. Hendaknya kita bijak dalam mengolah informasi, apakah sumber tersebut relevan dari ahlinya. Bahkan kita selaku penyebar informasi hendaknya berhati-hati, jangan sampai menyebarkan informasi tidak sesuai dengan keahlian kita. Bagiamana kita dapat melakukan analisis dan menyebarkan informasi dengan bijak? Dan yang terakhir, Kolaborasi dan Komunikasi Digital; Menggunakan alat kolaborasi online seperti email, aplikasi chatting, atau platform kerja bersama. Bahkan kita dapat berdiskusi dengan mengundang para ahli serta melakukan kolaborasi dalam penyampaian informasi. Sehingga dapat diterima relevansi dan keabsahannya”, jelas NDY.

“Mantab”, ucap Widya.

“Apa pentingnya cakap dalam Literasi Digita?”, NDY sambil menunjukkan lagi di layar.

“Ada lagi?”, tanya Widya balik.

“Melalui kecakapan dalam literasi digital maka praktek baik sebagai user, motivator literasi digital dapat menjadi lebih produktif dan bijak dalam memanfaatkan teknologi. Tidak saja bermanfaat untuk kita sebagai pengguna namun juga informasi yang kita sebarkan dapat menjadi kebermanfaatan bagi dunia digital, dengan meninggalkan jejak yang bermakna”, lanjutnya sambil menunjukkan lagi ke layar.

“Kasih contohlah, Teh!”, pinta Widya.

“Nah, ini kegiatan penerapan yang dapat dilakukan sebagai pendidik”, lagi-lagi NDY menunjukkan ke layar.

“Itu maksdunya apa?”, tanya Widya.

“Dari sekian contoh penerapan digital di atas, bahkan kita dapat lebih produktif dengan mengembangkan lagi melalui beragam platform, website atau blog. Dengan terus berkembangnya teknologi bukan berarti kita harus tergantung dengan teknologi tersebut. Disinilah pentingnya praktik baik dalam literasi digital, literasi digital merupakan kemampuan esensial yang harus dimiliki setiap individu untuk beradaptasi dengan dunia modern. Namun bijaklah dalam memanfaatkan teknologi, jangan sampai kita diperbudak dan akhirnya berdampak pada humanism”, jelasnya.

“Mo tanya, nih”, sela Widya.

“Sok lah!”

“Apakah pembelajaran digital dapat diterapkan untuk siswa kelas 1 & 2 SD?”, tanyanya ragu.

“Tentu saja  pembelajaran digital dapat diterapkan untuk siswa kelas 1 & 2 SD dapat dilakukan seperti mengenalkan warna, musik, bilangan hingga tulisan.. banyak aplikasi gratis yang dapat digunakan seperti menggunakan paint, ibis paint, google slide dan platform lainnya. Kok nggak bisa bisa? ”, jawab NDY sambil memencet-mencet keybord.

“Apanya?”, tanya Widya.

“Ini, laptopnya!”, jabaw NDY.

“Waduh, ngeheng, kali?”, Widia khawatir.

Kemudian NDY merestart laptopnya. Namun tidak berhasil dengan apa yang dilakukannya. NDY agak panik. Widya agak kecewa bercampur khawatir.

“Gini ajalah. Seingat aku aja, ya?”, pinta NDY.

“Siyap, Teteh. Jika di daerah yang lost sinyal bagaimana antisipasinya agar tetap dapat menerapkan digitalisasi dalam pembelajaran?”, tanya Widyab selanjutnya.

 

“Jika lost sinyal dapat menggunakan satu perangkat yang di tampilkan melalui layer di papan. Guru dapat mengajak anak berinteraksi dengan menampilkan kuis, media dan bahan ajar”, jawabnya.

“Permasalahan dalam belajar di era digital sekarang ini kadang timbul, trus?”, tanya Widya lagi.

“Permasalahan yang timbul bagi diri kita yaitu Ketika kita tidak ingin mencoba dan mengeksplor diri. Selaku pendidik banyak hal yang dapat kita lakukan dalam belajar di era digital, dengan melakukan pelatihan bahkan mencoba untuk lebih memanfaatkan beragam teknologi dalam pembelajaran. Bagi siswa, masalah yang timbul adalah perangkat dan filter dalam mencari, mengolah informasi. Disinilah peran kita untuk lebih cakap dalam literasi digital yang kemudian menerapkan dalam proses pembelajaran yang lebih baik dan menyenangkan. Tentu saja hal ini disesuaikan dengan profil satuan Pendidikan, tingkat/level siswa serta kolaborasi antar guru-guru, guru-siswa, siswa-guru dan orangtua”, jelasnya.

“Yang perlu untuk pembelajaran literasi berbasis digital, baik dari guru maupun siswa?” tanya Widia lagi.

“Pertama dengan mengenal dan mengetahui teknologi yang hendak kita terapkan di sekolah.

Kedua dengan merancang jenis teknologi digital yang hendak kita sampaikan dalam pembelajaran sesuai dengan jenjang pendidikan. Ketiga ajak peran serta siswa dalam proses pembelajaran yang partisipatif”, jelasnya lagi.

“Memastikan anak-anak kita berliterasi digital secara sehat?”

“ Untuk anak-anak kita di rumah, semua tanggung jawab dalam berliterasi digital adalah orangtua. Selalu berdiskusi, memantau setiap pemanfaatan aplikasi, berikan pemahaman dampak positif dan negatif dalam bermedia sosial. Untuk siswa dan orangtua, sekolah dapat melakukan kegiatan sosialisasi digital, pemanfaatan serta dampak yang akan mereka peroleh. Salah satunya dengan melakukan kampanye pemanfaatan teknologi yang sehat. Bagi orangtua, ikut sertakan kegiatan parenting dengan mengundang tenaga ahli bahkan dapat melakukan diskusi dengan pihak guru dan siswa mengenai apa literasi digital.

Berikan keguatan produktif yang dapat membuat siswa tertantang dalam menggunakan media social sebagai media belajar yang menyenangkan”, jelasnya.

“Untuk membentengi anak anak kita dari hal yang negatif?”, kelar Widya.

“Untuk membentengi secara digital, kini banyak aplikasi yang dapat digunakan untuk memantau aktifitas digital. Namun biasanya siswa lebih cerdas. Maka kita selaku pendidik dapat terus memberikan masukan positif, pendekatan dan kegiatan yang mengundang interksi dalam menggunakan teknologi yang sehat”, tandasnya.

“Okey. Gemana laptopnya?”, tanya Widia khawatir.

“Ups. Aku yang lupa. Ini nih chromebook, jadi harus pake jaringan. Berarti kuota habis lah”, jawab NDY sambil menyentuh jidat.

“Yeeeh. Gara-gara aku ye”, ucap Widya.

Subang, 5-1-2025

Resume 20

HADISUSILO

Jumat, 03 Januari 2025

BEBAS BERTANGGUNG JAWAB

 Tak terasa taun sudah berganti. Banyak yang menantikan di tahun 2025 ini sebagai tahun yang mengalami perubahan di berbagai bidang. Harapan dengan pemerintahan yang baru akan menata kehidupan yang lebih baik.

Ini adalah hari ketiga diselenggarakannya seminar sekolah. Para guru masih menunjukkan antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut. Hal itu ditunjukkan dengan kehadiran mereka yang tetap seperti ketika sekolah sudah efektif. Karena selain dapat mengisi sisa liburan juga menambah ilmu dan tentunya menambah sertifikat.

Dihari ketiga ini banner yang terpampang di dinding dengan tulisan ‘Era Teknologi Bebas namun Bertanggung Jawab’ dengan di sudut kanan bawah bertuliskan bersama Ali Marsono, S.Pd., M.Pd.

Di hari ketiga pula ada hal yang kurang menarik perhatian karena baik pembicara maupun narasumbernya dua orang pria. Mereka mengatakan supaya ada pemerataan pekerjaan. Semua harus merasakan. Tetapi tidak seperti pada hari pertama dan kedua, pada hari ketiga ini dikemas ala acara di tivi. Ada pembawa acara, ada moderator dan narasumber.

Setelah beberapa acara normatif dilalui kemudian pembawa acara membawa acara ke acara inti yaitu berupa dialog.

“Para hadirin sekalian, sampailah kita kepada acara pokok yaitu dialog bersama Bapak Ali Marsono, S.Pd., M.Pd., beliau adalah seorang guru, penulis, narasumber, dan guru berprestasi. Kalau disampaikan memakan banyak waktu, jadi saya kasih file-nya silakan dikagumi sendiri, heheh. Terima kasih”, Dail sebagai moderator mengawali memperkenalkan narasumber.

“Terima kasih, Pak Dail, atas pekenalannya, mudah-mudahan berkah”, Ali memuka perkataannya dengan ramah dan dilanjutkan dengan pengantar singkat.

“Okey, Bapak Ibu sekalian kita Simak pemaparan materi dengan santai tapi cius”, ujar Dail

“Terima kasih. Bapak Ibu sejalian. Bebas mengakses itu oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja, apa saja, sama saja. Tak ada batasannya”, lanjutnya.

“Bagaimana agar kita tak ketinggalan oleh kemajuan teknologi”, tanya Dail.

“Teknologi bebas diakses siapa saja dimana saja---tanpa batasan...teknologi jadi kebutuhan semua--namun ada 2 dampak : positif dan negatif. Gunakan untuk kepentingan yang bertanggung jawab. Kejadian di belahan bumi lain --bisa kita akses di waktu yang sama-- luar biasa”, ujarnya bersemangat.

“Maksud bebas?”

“Ada 4 karakter era teknologi bebas: 1. mudah diakses, kapan dimanapun. 2. fleksibel sesuai dengan kebutuhan.  3. kebebasan berkolaborasi satu dengan yang lain, dan 4 interkoneksivitas; terkoneksi dengan berbagai pihak dengan realtime”, jelasnya sambil menunjukkan ke layar.

“Yang dimaksud bebas”, tanya Dail.

“Ini dia”, jawabnya dengan menunjukkan slide berikutnya.

 “Apa saja manfaatera digital?”, tanya Dail selanjutnya.

“Ada 7 manfaat Era Digital: sangat luar biasa--1. mudah diakse, 2. efektifitas, efesiensi dan produktif, 3. peluang hasilkan uang; bangun market place, 4. promosi dan pemasaran, 5. membangun komunikasi dan kolaborasi; luar biasa-- kolaborasi is the best, 6, pengembangan inovasi, dan 7. sarana hiburan dan rekresi digital”, jelasnya sambil menunjuk-nunjuk di layar.

“Mantab juga, ya!”, ujar Dail

“Di samping itu ada tantangan yang harus dilalui dengan kebebasan teknologi ini”, ia memperingatkan.

“Wah ada tantangannya, ya... kebebasan berteknologi...”, ujar Dail.

“Makanya ada etika yang diperhatikan dalam memanfaatkan teknologi digital ini. Apa itu?”

“Etika digital harus perhatikan: 1. informasi benar, akurat, transparan, aukuntabel dan 2. jaga privasi orang lain dan kantora”, tambahnya.

“Tanggung jawab: kesadaran sosial -- saling hormati dan tak lakukan SARA”, tambahnya lagi sambil menunjuk ke layar.

“Jangan lupa keamanan digital! Jangan upload rahasia pribadi -data KTP dan lainnya! Harus seimbang sesuai kebbutuhan, jangan kultuskan teknologi”


“Saya malah bengong. Jadi intinya?”, ucap Dail

“Ini …”

“Kesimpulannya… Harus bijak dan bertanggung jawab dalam berteknologi”, ucapnya.

“Apakah teknologi bebas melanggar hak cipta dan privasi?”

“Maksdnya..salah satu yang perlu dihindari dalam kebebasan berteknologi adalah..kita jangan mengambil hak cipta orang lain, plagiasi dan mengaku karya orang lain menjadi milik dan karya kita. Jujur di era digital kadang berat melakukannya”.

“Bagaimana menentukan batasan etika dalam penggunaan teknologi bebas?”

“Batasan etika dalam penggunaan teknologi yang bebas diakses, kembali kepada pribadi kita, bijak, tanggung jawab. Selain itu, juga perhatikan regulasi tentang dunia digital. Tentang hak cipta, HakI, menyebar berita hoaks, adu domba.Dst.. Benar pak..maka di atas disampaikan..adanya kesadaran diri, sosial emosional”.

“Apakah teknologi bebas mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku?”

“Meski kita bebas mengakses apapun..harus tetap taat hukum peraturan perundangan yang berlaku”.

“Bagaimana menghormati hak-hak pengguna teknologi bebas?”

“Menghormati dengan cara: tdk mengambil hak ciptanya, memberikan apresiasi, mendukung hal positif, berkolaborasi dst.”.

“Apakah perlu ada regulasi untuk teknologi bebas?”

“Tentu, bbrp hal telah diatur dengan regulasi”.

“Bagaimana meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab teknologi?”

“Harus memiliki pemikiran positif bahwa apa yang kita lakukan, seharusnya kita lakukan PD diri sendiri. Jadi, tdk mungkin kita melakukan hal negatif PD diri sendiri”.

Apakah teknologi bebas dapat menjadi alat pembangunan berkelanjutan?”

“Teknologi bebas itu, bukan teknologi kebablasan..maksdnya..kita secara bebas mengakses secara Arif”.

“Aura Kasih pergi ke Bali, Terima kasih Mr. Ali”, tutup Dail

Subang, 3-1-2025

Resume 19

HADISUSILO

Kamis, 02 Januari 2025

KESEMPATAN KE-2

 “Mr., kayaknya AC-nya rusak”, kata Domo.

“Ya, nggak usah di-AC-an”, jawabnya.

“Tapi hareudang, Mr.”, keluh Domo.

“Ya, kipasan”, jawabnya lagi.

“Masih panas”, keluhnya lagi.

“Ya, buka baju”, jawabnya lagi.

“Masa buligir, isin lah. Ya, masuk kulkas. Kayak sayuran. Ya, tambah sirup..hahahaha”, Domo tak menunggu jawaban Mr. Bam. Kemudian keduanya tertawa di tengah udara yang gerah karena AC-nya error.

“Tolong bikini PPT, Dom!”, suruh Mr.

“PT panas dingin?”, tanya Domo.

“Pe..pe..te, pe-nya dua”, kata Mr. dengan suara keras.

“Iya, bos. Maksud aku, soal apa?”, Domo  menegaskan.

“Eehh. CIPTAKAN PELUANG MELALUI LITERASI DIGITAL”, jawabnya dengan tegas.

Dengan sigap Domo memutar musik di PC yang berada dihadapannya. Tangannya menari-nari di atas keyboar-nya.

Slide 1

CIPTAKAN PELUANG MELALUI LITERASI DIGITAL

Memaksimalkan Potensi Diri di Era Digital

Gambar: Siluet seseorang yang sedang memegang smartphone dengan latar belakang dunia digital yang dinamis.

“Kayak gini?”, tanya Domo.

“Selesaikan dulu, ntar sekaian ngoreksinya”, jawab Mr.

Kemudian Domo kembali mengutak-atik apa yang tertera di layar monitor.

“Slide 2: Literasi digital bukan hanya tentang sekedar bisa mengoperasikan gadget. Lebih dari itu, literasi digital adalah kemampuan untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan”, Mr. memberi gambaran.

Slide 2

Judul: Apa Itu Literasi Digital?

·       Kemampuan menggunakan teknologi digital secara efektif

·       Meliputi akses, pengelolaan, dan pembuatan konten digital

·       Keterampilan penting di era informasi

Gambar: Ilustrasi orang-orang yang sedang berinteraksi dengan berbagai perangkat digital (laptop, smartphone, tablet).

“Slide 3: Di era digital, informasi begitu mudah diakses. Dengan literasi digital, kita dapat menyaring informasi yang relevan dan mengabaikan yang tidak penting. Selain itu, literasi digital juga dapat meningkatkan produktivitas kita dalam bekerja maupun belajar”, ucap Mr. sambil melihat layar.

Slide 3

Pentingnya Literasi Digital

·       Akses informasi yang lebih luas

·       Meningkatkan produktivitas

·       Membuka peluang bisnis

·       Memperluas jaringan

Gambar: Grafik yang menunjukkan peningkatan penggunaan internet dari waktu ke waktu.

“Slide 4: Perkembangan teknologi digital telah menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru. Dengan memiliki literasi digital yang baik, kita dapat mengeksplorasi berbagai peluang karier yang menjanjikan”.

Slide 4

Peluang Karier yang Terbuka Lebar

·       Content creator

·       Digital marketer

·       Data analyst

·       Programmer

·       Influencer

Gambar: Kolase gambar yang menggambarkan berbagai profesi di era digital.

“Slide 5: Meningkatkan literasi digital tidaklah sulit. Kita bisa memulainya dengan hal-hal sederhana seperti mencari tutorial di internet atau mengikuti kursus online. Yang terpenting adalah konsisten dalam belajar dan berlatih”.

Slide 5

Cara Meningkatkan Literasi Digital

·       Aktif belajar hal-hal baru

·       Bergabung dengan komunitas online

·       Mengikuti kursus online

·       Praktik secara rutin

Gambar: Ilustrasi seseorang yang sedang belajar melalui laptop.

“Slide 6: Literasi digital adalah investasi yang sangat berharga. Dengan menguasai literasi digital, kita dapat membuka peluang yang tak terbatas dan meraih kesuksesan dalam hidup”, ucap Mr. sambil mengunyah cemilan.

Slide 6

Kesimpulan

·       Literasi digital adalah kunci sukses di era digital

·       Manfaatkan teknologi untuk mencapai tujuan

·       Terus belajar dan beradaptasi

Gambar: Tulisan "Literasi Digital = Peluang Tak Terbatas" dengan latar belakang yang menarik.

“Misalnya nih Bos, kalau ada pertanyaan ‘Di usia senja, termasuk phobia dengan dunia digital. Traumatik karena terkena cyberbullying secara mental dan materi. Ini menyisakan kesan ketidakpercayaan atau lebih ke overprotective dalam menghadapi setiap interaksi virtual. Bagaimana literasi digital mempengaruhi interaksi antara individu, masyarakat, dan teknologi?”, Domo mengilustrasikan.

“Interaksi yang dibangun harus interaksi yang SEHAT. Ini pentin dalam mindset kita. Contoh bila kita pengguna media sosial (memanfaatkan wa, IG, FB, dll, maka tanampkan dalam diri kita meskipun media sosial tidak nampak secara langsung, akan tetapi saat berinteraksi pastikan seperti di DUNIA NYATA. Bila di dunia nyata rasa saling menghomati, menghargai dan yang lainnya dilakukan maka di Media Sosial pun begitu”, beitu jawabn Mr.

“Okey. Yang kedua, Apakah literasi digital menciptakan kesempatan baru untuk pengembangan ekonomi dan sosial?”, Domo mengilustrasikan lagi.

“Kesempatan Baru pastinya akan selalu datang kepada orang-orang yang MAU melihat apapun sebagai PELUANG/KESEMPATAN. Tergantung dari tujuan orang tersebut”, jawab Mr.

“Yang ketiga, Bagaimana literasi digital memberikan peluang yang seluas-luasnya untuk menunjang kesuksesan individu?”, tanya Domo lagi.

“Bicara KESUKSESAN itu pasti setiap orang akan berbeda memahaminya. Orang dikatakan SUKSES bila banyak uang, misanya. Akan tetapi bagi Mr. Bams pengertian SUKSES adalah Pemanfaatkan waktu dalam menggunakan setiap kesempatan yang ada dengan tujuan ibadah kepada Allah Setiap orang wajib memiliki TUJUAN HIDUP karena sekarang INFORMASI sudah begitu Dasyat ada di depan mata. Maka DIGITAL MINIMALIS harus menjadi Keterampilan hidup kita. Maksudnya gunakan Teknologi ini hanya untuk kebutuhan kita yang sesuai dengan tujuan kita”, Mr. memberikan jawabannya.

“Trus, Apakah trik-trik agar literasi digital kita tidak miskonsepsi?”

“Menyikapi trik-trik agar tidak miskonsepsi tentunya dengan belajar terus menerus. Mempraktikan apa yang kita bisa lakukan. Mr. Bams berikan RUMUS 4B Mr. Bams . a) Belajar b) Berkarya c) Berbagi d) Berbakti. Saat kita rajin belajar, maka jadikanlah sebuah karya yang bisa dibagikan sebagai bentuk berbakti kepada semuaNYA. Masih ada?”, sambungnya menantang.

“Terasa sekali manfaatnya dari literasi digital. Tapi dengan pengaruhnya umur dan mata yang kadang kala tidak bisa diajak untuk bekerjasama bagaimana cara kita agar bisa konsisten dalam menulis dan berkarya di dunia digital?”, tanya Domo lagi.

“Wah ilustrasinya orang-orang manula melulu”, ledek Mr.

“Kan pesertanya manula”, Domo mengingatkan.

“Oh, iya. Nah, Umur dengan mata akan saling berhubungan. Tak usah khawatir dengan semuanya. Yakinkanlah saat kita melakukan sesuai dengan kemampuan diri, itu sudah menjadi ladang kebaikan. Niatkan semuanya ibadah, in syaa allah aktivitas akan mendapatkan Nilai Tambahan. Konsisten itu bukan Teori, karena konsisten itu pekerjaan real. Contoh saat dengan Azan mau nya ke Masjid, tapi karena saya masih belajar bersama ibu-bapak, saya niatkan akan Sholat Ashar setelah ini selesai. Ada rasa penyesalan saat tidak shola tepat waktu dan tidak di mesjid. Akan tetapi Allah Maha Tahu. Lakukan dengan riang gembira sesuai kemampuan dan motivasi ibu dan bapak”, jawabnya.

“Dengan semakin banyaknya guru junior yang ahli akan digital kita yang senior ini kadang ada rasa malu dan sedikit ragu untuk maju bersama. Tolong berikan tips dan motivasi agar guru yang senior tetap bisa aktif di literasi digital”, Domo mengira-ira.

“Ini sebenarnya membuly. Tapi mungkin nanti ada yang begitu, hehehe. Rasa Malu itu sebagian dari iman, akan tetapi bila tidak tepat mengapliksikannya maka itu kurang pas. Rasa Percaya Diri harus dibangun dari dalam, tentunya cari tempat dan orang yang selalu mendorong kita. Tetap semangat untuk melakukan yang terbaik. Junior dan senior itu hanya sebutan, karena kehidupan ini dilakukan bergiliran, kita dilahirkan lebih dulu sehingga dianggap senior, padalah kita tidak pernah minta dilahirkan kapan. Masih mau ngetes?”, Mr. bercanda.

“Apalagi, ya? Oh, gini: Bagaimana cara mengembangkan kemampuan analitis dalam literasi digital? Apa kelebihan web daripada platform lain?”, Domo mengatakannya ragu.

“Jadi gini. Kemampuan analitis. Sebentar saya coba sederhanakan dengan kata dasarnya yaitu ANALISIS. Kemampuan Analisis bisa dilatih dari kemampuan berpikir. Berpikir tentang apapun lebih mendalam. Biasanya analisis ada yang berbasis angka atau deskripsi. Misalnya : Kenapa saya membuat RAPOR LITERASI dengan menggunakan POIN LITERASI (POIN LITERASI). Pengamatan saya setiap mengolah data kesungguhan peserta didik khususnya kelas 9 itu sangat rendah. Saya berpikir : Gimana ya caranya agar anak-anak kelas 9 tetap semangat mengikuti kegiatan literasi dan poin literasi nya terjaga bagus. Maka saya berpikir kemudian mencari berbagai solusi. Untuk mencari solusi banyak cara, dengan berdiskusi atau mencari referensi yang berhubungan dengan masalah tersebut. Kemudian semua hasil aktivitas dalam kegiatan literasi saya dokumentasikan dalam bentuk Rapor Literasi. 1. Poin Literasi (Politera), 2. Hasil Tes Kecepatan Efektivitas Membaca (KEM), 3. Karya Literasi yang dibuat, 4. Jumlah buku yang dibaca dalam 1 semeter. Nah, kemudian saya rancang. Di sekolah saya selalu berkoordinasi dengan KEPALA SEKOLAH untuk  terus konsultasi dan menjelaskan apa yang akan dibuat. KEPSEK pun memberikan kesempatan untuk PRESENTASI dalam RAPAT DINAS di Semester Ganji TA 23-24 akan tetapi hasilnya belum diputuskan untuk digunakan. KEPSEK memberikan dukungan dengan mencoba adanya Laporan di Rapor Bulanan. Jadi ANALISIS merupakan kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah atau mengembangkan sesuatu. Kayaknya capek, deh”, ujar Mr. sambil kucek-kucek.

 

Subang, 3-1-2025

Resume 18

HADISUSILO

Rabu, 01 Januari 2025

BER-MEDSOS

 Ini adalah hari kedua seminar sekolah. Masih seperti hari pertama, di depan terdapat sebuah meja panjang yang dihiasi dengan vas bunga, ada piring berisi buah-buahan, dan kue basah. Tiga botol minuman diletakkan di belakang tulisan. Di sisi kanan bertuliskan kepala sekolah, di tengah narasumber, dan paling kiri moderator. Di tembok sisi belakang meja panjang tertempel banner pada hari kedua ini bertuliskan ‘Bijak dalam Ber-Media Sosial’.

Seperti hari-hari biasa, yang datang paling pagi, disusul dengan yang kedua, ketiga dan seterusnya tak berubah. Penjaga sekolah juga sudah hapal. Mereka memarkir kendaraan juga menempati tempat yang nyaris tak pernah berpindah seakan tempat parkir pun sudah menetap tak berpindah-pindah.

Jarum jam menunjukkan angka setengah delapan. Seperti sudah disetujui di hari pertama bahwa hari kedua ini dimulai pukul setengah delapan teng.

Pada hari kedua ini giliran Mutmainah yang akan memimpin jalannya seminar bersama dengan narasumber.

Seperti hari pertama juga, setelah moderator menyampaikan beberapa acara yang dilalui, akirnya pada acara pokok, yaitu penyampaian materi.

“Sebelum narasumber menyampaikan materi, akan saya sampaikan garis besar siapa narasumber kita hari ini. Ibu Widyawati Setianingsih lahir pada 29 september 1975. Beliau ini aktif sebagai pendidik, narasumber, dan penulis. Unuk lebih detailnya saya share kepada Bapak Ibu”, Emut panggilan Mutmainah membeberkannya.

“Terima kasih, Bu Emut. Bapak kepala sekolah yang terhormat, Bapak, Ibu guru, yang saya hormati dan saya kagumi, dan semua yang hadir disini yang mudah-mudahan dimuliakan Allah. Di zaman yang saat ini sudah serba digital, penggunaan media sosial berkembang dengan sangat pesat dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Sehingga media sosial menjadi kebutuhan pokok bagi tiap orang. Media sosial bisa memberi wadah bagi banyak orang untuk menjalin komunikasi, menemukan informasi, dan bahkan bisa mendatangkan penghasilan”, Widya memulai pembicaraannya.

Pembawaannya yang Anggun, dengan suara yang lembut namun tegas membuat peserta tertegun, terpana, dan terhipnotis.

“Namun tidak bisa dipungkiri bahwa penggunaan media sosial juga bisa berdampak buruk bagi penggunanya apabila tidak digunakan secara cerdas dan bijak. Cerdas bermedia sosial berarti cerdas berliterasi”, lanjutnya tak henti.

“Ibarat pisau bermata dua, media sosial memiliki nilai positif juga negatif, tergantung bagaimana cara menyikapinya. Suka tidak suka media sosial akan mengiringi perjalanan kehidupan manusia, maka harus dimanfaatkan secara positif. Saat ini Media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia kita. Mulai dari bangun tidur hingga kita akan terlelap, selalu kita intip, kita buka dan kita sambangi. Kondisi global saat ini menjadikan media sosial sebagai teman layaknya sahabat karib yg tak terpisah. Ibarat dua sisi mata uang logam. Selalu ada sisi baik dan sisi positif dari media sosial ini. Dibutuhkan kesadaran yang bijak untuk mengakrabi medsos ini”, panjang lebar Widya membeberkan.

Emut manggut-manggut. Peserta yang lain ada yang antusias mendengarkan, tetapi ada saja yang sambil menguap tak konsentrasi.

“Bapak Ibu sekalian. Medsos bisa menjadikan orang tenar seketika, menjadi kaya, populer. Akan tetapi melalui medsos pula seseorang akan jatuh terhinakan. Selang beberapa waktu yang lalu kita disuguhi tayangan film bioskop epik yang sarat akan gambaran kisah kehidupan saat ini. Mungkin saja hal itu pernah kita saksikan di lingkungan sekitar, keluarga, sahabat, teman, tetangga atau bahkan kita sendiri yang jadi tokoh utamanya. The power of Medsos, menjadi sesuatu berkah atau bahkan musibah tergantung bagaimana skenario dari sebuah kisah hidup. Dari tayangan film Budi Pekerti di atas, kita bisa mengambil pelajaran untuk berhati-hati dalam bermedia sosial. Bukan berarti kita anti pati, ilfiil atau phobia tapi lebih berhati-hati. Seperti pepatah Jawa yang berbunyi: yitna yuwana lena kena artinya Sing ati-ati bakal selamet, sing sembrana bakal cilaka ‘Yang berhati-hati akan selamat, yang ceroboh akan celaka’ kira-kira begitu”, ujarnya sambil membuka slide.

“Bisa dilihat ya! Generasi remaja kita terbanyak dalam penggunaan internet”, ujarnya melihat di layar.

“Berapa menit Bapak dan Ibu menngunakan hape?”, tanyanya.

“Agar kita kupas lebih mendetail kita cari dulu apa sih medsos itu?”, tanyanya yang tak membutuhkan jawaban peserta.


“Mengingat semakin men-globalnya dunia dalam era revolusi industri 5.0 menjadikan internet, medsos menjadi makanan sehari-hari yang harus kita asupi. Layaknya makanan tentu ada yang sehat tentu ada yang tidak sehat. Kita harus berhati-hati jika tidak ingin terkena kolestrol, diabetes, atau hipertensi”, belia mengingatkan.

“Tahukah Bapak Ibu Indonesia yang dikenal berpenduduk ramah dan sopan tergeser dengan adanya medsos, why???”, pertanyaanya sambil memandang ke seluruh peserta.

“Dalam riset yang dirilis oleh Microsoft, tingkat kesopanan netizen Indonesia memburuk delapan poin ke angka 76, di mana semakin tinggi angkanya tingkat kesopanan semakin buruk. Bahkan ada beberapa sumber yang bisa juga valid atau tidak menyebutkan seperti ini. Berikut ini adalah beberapa negara paling tidak sopan yang sudah dilansir dari berbagai sumber: Afrika Selatan. Afrika Selatan merupakan negara yang paling tidak sopan menurut DCI dengan angka sebesar 81 dari survey Microsoft. Disusul Rusia. Dan  Indonesia menempati urutan ketiga, baru Hungaria dan Brazil”, jelasnya.

“Miris sekali bukan? Akan tetapi kita tidak perlu berkecil hati. Sebagai seorang guru kita adalah tonggak perubahan. Bersama kita akan merubah stigma tersebut”, tuturnya dengan semangat.

“Luar biasa, Bunda. Beri aplous”, Emut bersuara lantang sambil bertepuk tangan dan diikuti peserta lainnya.

“Terima kasih”, ucap Widya.

“Sampailah kita pada sesi tanya jawab. Silakan Bu Mumun yang pertama”, ucap Emut.

“Izin bertanya. Terkadang susah membedakan informasi yang hoax dan yang nyata. Bagaimana cara membedakan informasi di medsos kalo berita itu hoax? Terimakasih”, tanya Mumun.

“Betul Bu Mumun. Memang susah membedakannya. Kita harus punya kendali 3 S: Saring sebelum sharing; Stop berita hoaks, Sebarkan kebaikan. Kita dapat mengecek berita tersebut valid apa tidak, melalui laman-laman resmi yang tersedia. Gunakan situs web pengecek fakta terpercaya seperti Snopes, FactCheck.org, atau Hoax-Slayer untuk memverifikasi klaim atau informasi yang meragukan”, jawab Widya.

“Pertanyaan selanjutnya, silakan Bu Endang!”, Emut menyilaan Endang.

“Terima kasih Bu Mutmainah dan Bu Widya Pertanyaan: 1. Apa itu revolusi industri 5.0? Dan apa dampaknya bagi tumbuh kembang anak? 2. Apa yang bisa kita lakukan jika anak sudah kecanduan gadget?”

“Apa Itu Revolusi Industri 5.0? Revolusi Industri 5.0 adalah konsep yang masih dalam tahap pengembangan dan perdebatan, tetapi secara umum mengacu pada perkembangan teknologi yang terus meningkatkan otomatisasi dan digitalisasi dalam industri dan sektor produksi. Karena kita pendidik saya akan menyoroti dampaknya dari segi pendidikan. Dampak Revolusi Industri 5.0 pada Bidang Pendidikan. Metode yang awalnya berpusat pada guru sekarang digantikan dengan pendekatan pada siswa yang menekankan pemecahan masalah, kreativitas, dan pemikiran kritis. Tugas yang diberikan pada zaman sekarang lebih berbasis proyek dikarenakan kemajuan teknologi. Society 5.0 akan mengubah cara hidup kita melalui transformasi digital. Teknologi canggih seperti AI, IoT, dan robotics akan mempermudah dan mempercepat proses sehari-hari, seperti belanja, bekerja, dan berkomunikasi. Tentu saja hal ini menuntut anak kita sebagai generasi Z dan gen Alpha untuk menguasainya. Bagaimana jika anak sudah kecanduan gadget? Pertama, Ajak berkomunikasi, tentukan batasan waktu bermain. Kedua, Alihkan dengan kegiatan positif yang mengembangkan bakat, misalnya olahraga, melukis, dan lain-lain. Ketiga, Gunakan kontrol penggunaan aplikasi pengontrol AnyDesk adalah program akses jarak jauh yang mendukung transfer file dan audio, serta fitur merekam sesi remote”, jelasnya panjang lebar.

“Jelas Bu Endang, Ya?”, tanya Emut pada Endang

Yang ditanya hanya mengacungkan jempol.

“Pertanyaan selanjutnya dari Pak Asep, silakan!”

“Kiayi di mesjid sudah jelaskan dengan dalil naqlinya dan contohnya, dia manggut-manggut. Tapi dia menyangkal dengan dasar di TikTok tidak seperti yang kiayi jelaskan. Itu saking percayanya dengan Medsos. Bagaimana mengatasi orang yang seperti ini, apa Kiayinya harus bikin video dan di-upload di Medsos?”, tanya Asep.

“Memang tidak mudah memberikan keyakinan pada seseorang. Apalagi jika orang-orang tersebut lebih percaya medsos. Langkah yang pertama ajak untuk berdiskusi dan  memberikan sumber informasi relevan berdasarkan Al Quran, dan hadits atau sumber Islam lainnya (tabiin dsbnya). Kedua, jika memang medsos sebagai bentuk kekuatan tersebut maka kyai dapat merangkul host atau conten creator profesional untuk meluruskan dalil yg menyesatkan tersebut. Dakwah lebih luas dan benar”, jawabnya.

“Selanjutnya, pertanyaan terakhir, ya! Soalnya waktu sudah habis. Atau kita lembur?”, canda Emut.

“Nama saya Ahmad. Ingin bertanya: Faktanya orang Indonesia bermedia sosial lebih dari 8 jam tanpa adanya batasan usia. Tentu ini sangat membahayakan, sebab separuh waktunya digunakan untuk bermain medsos. Apakah ada kiat-kiat untuk menghindari medsos paling tidak meminimalisir?”

“Medsos menjadi alternatif utama untuk berkomunikasi, mencari hiburan dan mencari informasi yang up todate. Perlu adanya pembatasan online, baik untuk anak-anak kita maupun kita sendiri. Adapun beberapa caranya adalah 1. Menetapkan jadwal dalam berdasarkan kemanfaatan medsos. Seperti menetapkan waktu terbatas untuk menggunakan platform-platform tersebut, menghapus aplikasi media sosial dari perangkat selama beberapa jam atau hari tertentu; 2. Carilah aktifitas lainnya yang mengalihkan keinginan untk berinteraksi dengan media sosial. Misalnya bersosialisasi di organisasi sosial, membaca, menulis; dan 3. Batasi konten di pengaturan sebagai bentuk komitmen diri. Semua ini memerlukan komitmen dan konsisten dari diri kita masing-masing. Selamat mencoba”, Widya mengakhiri ucapannya.

Subang, 1-1-2025

Resume 17

HADISUSILO