Total Tayangan Halaman

Rabu, 01 Januari 2025

BER-MEDSOS

 Ini adalah hari kedua seminar sekolah. Masih seperti hari pertama, di depan terdapat sebuah meja panjang yang dihiasi dengan vas bunga, ada piring berisi buah-buahan, dan kue basah. Tiga botol minuman diletakkan di belakang tulisan. Di sisi kanan bertuliskan kepala sekolah, di tengah narasumber, dan paling kiri moderator. Di tembok sisi belakang meja panjang tertempel banner pada hari kedua ini bertuliskan ‘Bijak dalam Ber-Media Sosial’.

Seperti hari-hari biasa, yang datang paling pagi, disusul dengan yang kedua, ketiga dan seterusnya tak berubah. Penjaga sekolah juga sudah hapal. Mereka memarkir kendaraan juga menempati tempat yang nyaris tak pernah berpindah seakan tempat parkir pun sudah menetap tak berpindah-pindah.

Jarum jam menunjukkan angka setengah delapan. Seperti sudah disetujui di hari pertama bahwa hari kedua ini dimulai pukul setengah delapan teng.

Pada hari kedua ini giliran Mutmainah yang akan memimpin jalannya seminar bersama dengan narasumber.

Seperti hari pertama juga, setelah moderator menyampaikan beberapa acara yang dilalui, akirnya pada acara pokok, yaitu penyampaian materi.

“Sebelum narasumber menyampaikan materi, akan saya sampaikan garis besar siapa narasumber kita hari ini. Ibu Widyawati Setianingsih lahir pada 29 september 1975. Beliau ini aktif sebagai pendidik, narasumber, dan penulis. Unuk lebih detailnya saya share kepada Bapak Ibu”, Emut panggilan Mutmainah membeberkannya.

“Terima kasih, Bu Emut. Bapak kepala sekolah yang terhormat, Bapak, Ibu guru, yang saya hormati dan saya kagumi, dan semua yang hadir disini yang mudah-mudahan dimuliakan Allah. Di zaman yang saat ini sudah serba digital, penggunaan media sosial berkembang dengan sangat pesat dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Sehingga media sosial menjadi kebutuhan pokok bagi tiap orang. Media sosial bisa memberi wadah bagi banyak orang untuk menjalin komunikasi, menemukan informasi, dan bahkan bisa mendatangkan penghasilan”, Widya memulai pembicaraannya.

Pembawaannya yang Anggun, dengan suara yang lembut namun tegas membuat peserta tertegun, terpana, dan terhipnotis.

“Namun tidak bisa dipungkiri bahwa penggunaan media sosial juga bisa berdampak buruk bagi penggunanya apabila tidak digunakan secara cerdas dan bijak. Cerdas bermedia sosial berarti cerdas berliterasi”, lanjutnya tak henti.

“Ibarat pisau bermata dua, media sosial memiliki nilai positif juga negatif, tergantung bagaimana cara menyikapinya. Suka tidak suka media sosial akan mengiringi perjalanan kehidupan manusia, maka harus dimanfaatkan secara positif. Saat ini Media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia kita. Mulai dari bangun tidur hingga kita akan terlelap, selalu kita intip, kita buka dan kita sambangi. Kondisi global saat ini menjadikan media sosial sebagai teman layaknya sahabat karib yg tak terpisah. Ibarat dua sisi mata uang logam. Selalu ada sisi baik dan sisi positif dari media sosial ini. Dibutuhkan kesadaran yang bijak untuk mengakrabi medsos ini”, panjang lebar Widya membeberkan.

Emut manggut-manggut. Peserta yang lain ada yang antusias mendengarkan, tetapi ada saja yang sambil menguap tak konsentrasi.

“Bapak Ibu sekalian. Medsos bisa menjadikan orang tenar seketika, menjadi kaya, populer. Akan tetapi melalui medsos pula seseorang akan jatuh terhinakan. Selang beberapa waktu yang lalu kita disuguhi tayangan film bioskop epik yang sarat akan gambaran kisah kehidupan saat ini. Mungkin saja hal itu pernah kita saksikan di lingkungan sekitar, keluarga, sahabat, teman, tetangga atau bahkan kita sendiri yang jadi tokoh utamanya. The power of Medsos, menjadi sesuatu berkah atau bahkan musibah tergantung bagaimana skenario dari sebuah kisah hidup. Dari tayangan film Budi Pekerti di atas, kita bisa mengambil pelajaran untuk berhati-hati dalam bermedia sosial. Bukan berarti kita anti pati, ilfiil atau phobia tapi lebih berhati-hati. Seperti pepatah Jawa yang berbunyi: yitna yuwana lena kena artinya Sing ati-ati bakal selamet, sing sembrana bakal cilaka ‘Yang berhati-hati akan selamat, yang ceroboh akan celaka’ kira-kira begitu”, ujarnya sambil membuka slide.

“Bisa dilihat ya! Generasi remaja kita terbanyak dalam penggunaan internet”, ujarnya melihat di layar.

“Berapa menit Bapak dan Ibu menngunakan hape?”, tanyanya.

“Agar kita kupas lebih mendetail kita cari dulu apa sih medsos itu?”, tanyanya yang tak membutuhkan jawaban peserta.


“Mengingat semakin men-globalnya dunia dalam era revolusi industri 5.0 menjadikan internet, medsos menjadi makanan sehari-hari yang harus kita asupi. Layaknya makanan tentu ada yang sehat tentu ada yang tidak sehat. Kita harus berhati-hati jika tidak ingin terkena kolestrol, diabetes, atau hipertensi”, belia mengingatkan.

“Tahukah Bapak Ibu Indonesia yang dikenal berpenduduk ramah dan sopan tergeser dengan adanya medsos, why???”, pertanyaanya sambil memandang ke seluruh peserta.

“Dalam riset yang dirilis oleh Microsoft, tingkat kesopanan netizen Indonesia memburuk delapan poin ke angka 76, di mana semakin tinggi angkanya tingkat kesopanan semakin buruk. Bahkan ada beberapa sumber yang bisa juga valid atau tidak menyebutkan seperti ini. Berikut ini adalah beberapa negara paling tidak sopan yang sudah dilansir dari berbagai sumber: Afrika Selatan. Afrika Selatan merupakan negara yang paling tidak sopan menurut DCI dengan angka sebesar 81 dari survey Microsoft. Disusul Rusia. Dan  Indonesia menempati urutan ketiga, baru Hungaria dan Brazil”, jelasnya.

“Miris sekali bukan? Akan tetapi kita tidak perlu berkecil hati. Sebagai seorang guru kita adalah tonggak perubahan. Bersama kita akan merubah stigma tersebut”, tuturnya dengan semangat.

“Luar biasa, Bunda. Beri aplous”, Emut bersuara lantang sambil bertepuk tangan dan diikuti peserta lainnya.

“Terima kasih”, ucap Widya.

“Sampailah kita pada sesi tanya jawab. Silakan Bu Mumun yang pertama”, ucap Emut.

“Izin bertanya. Terkadang susah membedakan informasi yang hoax dan yang nyata. Bagaimana cara membedakan informasi di medsos kalo berita itu hoax? Terimakasih”, tanya Mumun.

“Betul Bu Mumun. Memang susah membedakannya. Kita harus punya kendali 3 S: Saring sebelum sharing; Stop berita hoaks, Sebarkan kebaikan. Kita dapat mengecek berita tersebut valid apa tidak, melalui laman-laman resmi yang tersedia. Gunakan situs web pengecek fakta terpercaya seperti Snopes, FactCheck.org, atau Hoax-Slayer untuk memverifikasi klaim atau informasi yang meragukan”, jawab Widya.

“Pertanyaan selanjutnya, silakan Bu Endang!”, Emut menyilaan Endang.

“Terima kasih Bu Mutmainah dan Bu Widya Pertanyaan: 1. Apa itu revolusi industri 5.0? Dan apa dampaknya bagi tumbuh kembang anak? 2. Apa yang bisa kita lakukan jika anak sudah kecanduan gadget?”

“Apa Itu Revolusi Industri 5.0? Revolusi Industri 5.0 adalah konsep yang masih dalam tahap pengembangan dan perdebatan, tetapi secara umum mengacu pada perkembangan teknologi yang terus meningkatkan otomatisasi dan digitalisasi dalam industri dan sektor produksi. Karena kita pendidik saya akan menyoroti dampaknya dari segi pendidikan. Dampak Revolusi Industri 5.0 pada Bidang Pendidikan. Metode yang awalnya berpusat pada guru sekarang digantikan dengan pendekatan pada siswa yang menekankan pemecahan masalah, kreativitas, dan pemikiran kritis. Tugas yang diberikan pada zaman sekarang lebih berbasis proyek dikarenakan kemajuan teknologi. Society 5.0 akan mengubah cara hidup kita melalui transformasi digital. Teknologi canggih seperti AI, IoT, dan robotics akan mempermudah dan mempercepat proses sehari-hari, seperti belanja, bekerja, dan berkomunikasi. Tentu saja hal ini menuntut anak kita sebagai generasi Z dan gen Alpha untuk menguasainya. Bagaimana jika anak sudah kecanduan gadget? Pertama, Ajak berkomunikasi, tentukan batasan waktu bermain. Kedua, Alihkan dengan kegiatan positif yang mengembangkan bakat, misalnya olahraga, melukis, dan lain-lain. Ketiga, Gunakan kontrol penggunaan aplikasi pengontrol AnyDesk adalah program akses jarak jauh yang mendukung transfer file dan audio, serta fitur merekam sesi remote”, jelasnya panjang lebar.

“Jelas Bu Endang, Ya?”, tanya Emut pada Endang

Yang ditanya hanya mengacungkan jempol.

“Pertanyaan selanjutnya dari Pak Asep, silakan!”

“Kiayi di mesjid sudah jelaskan dengan dalil naqlinya dan contohnya, dia manggut-manggut. Tapi dia menyangkal dengan dasar di TikTok tidak seperti yang kiayi jelaskan. Itu saking percayanya dengan Medsos. Bagaimana mengatasi orang yang seperti ini, apa Kiayinya harus bikin video dan di-upload di Medsos?”, tanya Asep.

“Memang tidak mudah memberikan keyakinan pada seseorang. Apalagi jika orang-orang tersebut lebih percaya medsos. Langkah yang pertama ajak untuk berdiskusi dan  memberikan sumber informasi relevan berdasarkan Al Quran, dan hadits atau sumber Islam lainnya (tabiin dsbnya). Kedua, jika memang medsos sebagai bentuk kekuatan tersebut maka kyai dapat merangkul host atau conten creator profesional untuk meluruskan dalil yg menyesatkan tersebut. Dakwah lebih luas dan benar”, jawabnya.

“Selanjutnya, pertanyaan terakhir, ya! Soalnya waktu sudah habis. Atau kita lembur?”, canda Emut.

“Nama saya Ahmad. Ingin bertanya: Faktanya orang Indonesia bermedia sosial lebih dari 8 jam tanpa adanya batasan usia. Tentu ini sangat membahayakan, sebab separuh waktunya digunakan untuk bermain medsos. Apakah ada kiat-kiat untuk menghindari medsos paling tidak meminimalisir?”

“Medsos menjadi alternatif utama untuk berkomunikasi, mencari hiburan dan mencari informasi yang up todate. Perlu adanya pembatasan online, baik untuk anak-anak kita maupun kita sendiri. Adapun beberapa caranya adalah 1. Menetapkan jadwal dalam berdasarkan kemanfaatan medsos. Seperti menetapkan waktu terbatas untuk menggunakan platform-platform tersebut, menghapus aplikasi media sosial dari perangkat selama beberapa jam atau hari tertentu; 2. Carilah aktifitas lainnya yang mengalihkan keinginan untk berinteraksi dengan media sosial. Misalnya bersosialisasi di organisasi sosial, membaca, menulis; dan 3. Batasi konten di pengaturan sebagai bentuk komitmen diri. Semua ini memerlukan komitmen dan konsisten dari diri kita masing-masing. Selamat mencoba”, Widya mengakhiri ucapannya.

Subang, 1-1-2025

Resume 17

HADISUSILO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar