Ini adalah hari kedua seminar sekolah. Masih seperti hari pertama, di depan terdapat sebuah meja panjang yang dihiasi dengan vas bunga, ada piring berisi buah-buahan, dan kue basah. Tiga botol minuman diletakkan di belakang tulisan. Di sisi kanan bertuliskan kepala sekolah, di tengah narasumber, dan paling kiri moderator. Di tembok sisi belakang meja panjang tertempel banner pada hari kedua ini bertuliskan ‘Bijak dalam Ber-Media Sosial’.
Seperti hari-hari
biasa, yang datang paling pagi, disusul dengan yang kedua, ketiga dan seterusnya
tak berubah. Penjaga sekolah juga sudah hapal. Mereka memarkir kendaraan juga
menempati tempat yang nyaris tak pernah berpindah seakan tempat parkir pun
sudah menetap tak berpindah-pindah.
Jarum jam
menunjukkan angka setengah delapan. Seperti sudah disetujui di hari pertama
bahwa hari kedua ini dimulai pukul setengah delapan teng.
Pada hari kedua
ini giliran Mutmainah yang akan memimpin jalannya seminar bersama dengan
narasumber.
Seperti hari
pertama juga, setelah moderator menyampaikan beberapa acara yang dilalui,
akirnya pada acara pokok, yaitu penyampaian materi.
“Sebelum narasumber
menyampaikan materi, akan saya sampaikan garis besar siapa narasumber kita hari
ini. Ibu Widyawati Setianingsih lahir pada 29 september 1975. Beliau ini aktif
sebagai pendidik, narasumber, dan penulis. Unuk lebih detailnya saya share
kepada Bapak Ibu”, Emut panggilan Mutmainah membeberkannya.
“Terima kasih,
Bu Emut. Bapak kepala sekolah yang terhormat, Bapak, Ibu guru, yang saya
hormati dan saya kagumi, dan semua yang hadir disini yang mudah-mudahan
dimuliakan Allah. Di zaman yang saat ini sudah serba digital, penggunaan media
sosial berkembang dengan sangat pesat dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan
sehari-hari. Sehingga media sosial menjadi kebutuhan pokok bagi tiap orang. Media
sosial bisa memberi wadah bagi banyak orang untuk menjalin komunikasi,
menemukan informasi, dan bahkan bisa mendatangkan penghasilan”, Widya memulai
pembicaraannya.
Pembawaannya yang
Anggun, dengan suara yang lembut namun tegas membuat peserta tertegun, terpana,
dan terhipnotis.
“Namun tidak
bisa dipungkiri bahwa penggunaan media sosial juga bisa berdampak buruk bagi
penggunanya apabila tidak digunakan secara cerdas dan bijak. Cerdas bermedia
sosial berarti cerdas berliterasi”, lanjutnya tak henti.
“Ibarat pisau
bermata dua, media sosial memiliki nilai positif juga negatif, tergantung
bagaimana cara menyikapinya. Suka tidak suka media sosial akan mengiringi
perjalanan kehidupan manusia, maka harus dimanfaatkan secara positif. Saat ini
Media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia kita. Mulai dari
bangun tidur hingga kita akan terlelap, selalu kita intip, kita buka dan kita
sambangi. Kondisi global saat ini menjadikan media sosial sebagai teman
layaknya sahabat karib yg tak terpisah. Ibarat dua sisi mata uang logam. Selalu
ada sisi baik dan sisi positif dari media sosial ini. Dibutuhkan kesadaran yang
bijak untuk mengakrabi medsos ini”, panjang lebar Widya membeberkan.
Emut manggut-manggut.
Peserta yang lain ada yang antusias mendengarkan, tetapi ada saja yang sambil
menguap tak konsentrasi.
“Bapak Ibu
sekalian. Medsos bisa menjadikan orang tenar seketika, menjadi kaya, populer. Akan
tetapi melalui medsos pula seseorang akan jatuh terhinakan. Selang beberapa
waktu yang lalu kita disuguhi tayangan film bioskop epik yang sarat akan
gambaran kisah kehidupan saat ini. Mungkin saja hal itu pernah kita saksikan di
lingkungan sekitar, keluarga, sahabat, teman, tetangga atau bahkan kita sendiri
yang jadi tokoh utamanya. The power of Medsos, menjadi sesuatu berkah
atau bahkan musibah tergantung bagaimana skenario dari sebuah kisah hidup. Dari
tayangan film Budi Pekerti di atas, kita bisa mengambil pelajaran untuk
berhati-hati dalam bermedia sosial. Bukan berarti kita anti pati, ilfiil atau
phobia tapi lebih berhati-hati. Seperti pepatah Jawa yang berbunyi: yitna
yuwana lena kena artinya Sing ati-ati bakal selamet, sing sembrana bakal
cilaka ‘Yang berhati-hati akan selamat, yang ceroboh akan celaka’ kira-kira
begitu”, ujarnya sambil membuka slide.
“Bisa dilihat ya! Generasi remaja kita terbanyak dalam penggunaan internet”, ujarnya melihat di layar.
“Berapa menit Bapak dan Ibu menngunakan hape?”, tanyanya.
“Agar kita kupas lebih mendetail kita cari dulu apa sih medsos itu?”, tanyanya yang tak membutuhkan jawaban peserta.
“Tahukah Bapak
Ibu Indonesia yang dikenal berpenduduk ramah dan sopan tergeser dengan adanya
medsos, why???”, pertanyaanya sambil memandang ke seluruh peserta.
“Dalam riset
yang dirilis oleh Microsoft, tingkat kesopanan netizen Indonesia
memburuk delapan poin ke angka 76, di mana semakin tinggi angkanya tingkat
kesopanan semakin buruk. Bahkan ada beberapa sumber yang bisa juga valid atau
tidak menyebutkan seperti ini. Berikut ini adalah beberapa negara paling tidak
sopan yang sudah dilansir dari berbagai sumber: Afrika Selatan. Afrika Selatan
merupakan negara yang paling tidak sopan menurut DCI dengan angka sebesar 81
dari survey Microsoft. Disusul Rusia. Dan Indonesia menempati urutan ketiga, baru Hungaria
dan Brazil”, jelasnya.
“Miris sekali
bukan? Akan tetapi kita tidak perlu berkecil hati. Sebagai seorang guru kita
adalah tonggak perubahan. Bersama kita akan merubah stigma tersebut”, tuturnya
dengan semangat.
“Luar biasa,
Bunda. Beri aplous”, Emut bersuara lantang sambil bertepuk tangan dan diikuti
peserta lainnya.
“Terima kasih”,
ucap Widya.
“Sampailah kita
pada sesi tanya jawab. Silakan Bu Mumun yang pertama”, ucap Emut.
“Izin bertanya.
Terkadang susah membedakan informasi yang hoax dan yang nyata. Bagaimana
cara membedakan informasi di medsos kalo berita itu hoax? Terimakasih”,
tanya Mumun.
“Betul Bu
Mumun. Memang susah membedakannya. Kita harus punya kendali 3 S: Saring sebelum
sharing; Stop berita hoaks, Sebarkan kebaikan. Kita dapat mengecek
berita tersebut valid apa tidak, melalui laman-laman resmi yang tersedia. Gunakan
situs web pengecek fakta terpercaya seperti Snopes, FactCheck.org,
atau Hoax-Slayer untuk memverifikasi klaim atau informasi yang
meragukan”, jawab Widya.
“Pertanyaan
selanjutnya, silakan Bu Endang!”, Emut menyilaan Endang.
“Terima kasih
Bu Mutmainah dan Bu Widya Pertanyaan: 1. Apa itu revolusi industri 5.0? Dan apa
dampaknya bagi tumbuh kembang anak? 2. Apa yang bisa kita lakukan jika anak
sudah kecanduan gadget?”
“Apa Itu
Revolusi Industri 5.0? Revolusi Industri 5.0 adalah konsep yang masih dalam
tahap pengembangan dan perdebatan, tetapi secara umum mengacu pada perkembangan
teknologi yang terus meningkatkan otomatisasi dan digitalisasi dalam industri
dan sektor produksi. Karena kita pendidik saya akan menyoroti dampaknya dari
segi pendidikan. Dampak Revolusi Industri 5.0 pada Bidang Pendidikan. Metode
yang awalnya berpusat pada guru sekarang digantikan dengan pendekatan pada
siswa yang menekankan pemecahan masalah, kreativitas, dan pemikiran kritis.
Tugas yang diberikan pada zaman sekarang lebih berbasis proyek dikarenakan
kemajuan teknologi. Society 5.0 akan mengubah cara hidup kita melalui
transformasi digital. Teknologi canggih seperti AI, IoT, dan robotics
akan mempermudah dan mempercepat proses sehari-hari, seperti belanja, bekerja,
dan berkomunikasi. Tentu saja hal ini menuntut anak kita sebagai generasi Z dan
gen Alpha untuk menguasainya. Bagaimana jika anak sudah kecanduan gadget?
Pertama, Ajak berkomunikasi, tentukan batasan waktu bermain. Kedua, Alihkan
dengan kegiatan positif yang mengembangkan bakat, misalnya olahraga, melukis, dan
lain-lain. Ketiga, Gunakan kontrol penggunaan aplikasi pengontrol AnyDesk
adalah program akses jarak jauh yang mendukung transfer file dan audio, serta
fitur merekam sesi remote”, jelasnya panjang lebar.
“Jelas Bu Endang,
Ya?”, tanya Emut pada Endang
Yang ditanya
hanya mengacungkan jempol.
“Pertanyaan
selanjutnya dari Pak Asep, silakan!”
“Kiayi di
mesjid sudah jelaskan dengan dalil naqlinya dan contohnya, dia manggut-manggut.
Tapi dia menyangkal dengan dasar di TikTok tidak seperti yang kiayi jelaskan.
Itu saking percayanya dengan Medsos. Bagaimana mengatasi orang yang seperti
ini, apa Kiayinya harus bikin video dan di-upload di Medsos?”, tanya
Asep.
“Memang tidak
mudah memberikan keyakinan pada seseorang. Apalagi jika orang-orang tersebut
lebih percaya medsos. Langkah yang pertama ajak untuk berdiskusi dan memberikan sumber informasi relevan
berdasarkan Al Quran, dan hadits atau sumber Islam lainnya (tabiin dsbnya). Kedua,
jika memang medsos sebagai bentuk kekuatan tersebut maka kyai dapat merangkul host
atau conten creator profesional untuk meluruskan dalil yg menyesatkan tersebut.
Dakwah lebih luas dan benar”, jawabnya.
“Selanjutnya,
pertanyaan terakhir, ya! Soalnya waktu sudah habis. Atau kita lembur?”, canda
Emut.
“Nama saya Ahmad.
Ingin bertanya: Faktanya orang Indonesia bermedia sosial lebih dari 8 jam tanpa
adanya batasan usia. Tentu ini sangat membahayakan, sebab separuh waktunya
digunakan untuk bermain medsos. Apakah ada kiat-kiat untuk menghindari medsos
paling tidak meminimalisir?”
“Medsos menjadi
alternatif utama untuk berkomunikasi, mencari hiburan dan mencari informasi yang
up todate. Perlu adanya pembatasan online, baik untuk anak-anak
kita maupun kita sendiri. Adapun beberapa caranya adalah 1. Menetapkan jadwal
dalam berdasarkan kemanfaatan medsos. Seperti menetapkan waktu terbatas untuk
menggunakan platform-platform tersebut, menghapus aplikasi media
sosial dari perangkat selama beberapa jam atau hari tertentu; 2. Carilah
aktifitas lainnya yang mengalihkan keinginan untk berinteraksi dengan media
sosial. Misalnya bersosialisasi di organisasi sosial, membaca, menulis; dan 3.
Batasi konten di pengaturan sebagai bentuk komitmen diri. Semua ini memerlukan
komitmen dan konsisten dari diri kita masing-masing. Selamat mencoba”, Widya
mengakhiri ucapannya.
Subang, 1-1-2025
Resume 17
HADISUSILO





Tidak ada komentar:
Posting Komentar