Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Januari 2025

HOBI

 

Udara pagi begitu menyegarkan membuat kedamaian yang menikmatinya. Matahari mengintip diantara awan yang bertebaran di angkasa. Bulan Januari, bulan yang menjadi bulan pertama masuk sekolah semester kedua. Bulan Januari bulan yang menyebabkan kekhawatiran karena intensitas hujan sering terjadi. Bahkan di beberapa daerah sudah mengalami banjir karenanya.

Upacara bendera telah usai dilaksanakan. Biasanya sesudah upacara para siswa berhamburan ke kantin untuk membeli minum. Tapi Senin ini tak begitu berhamburan karena cuaca tak panas. Hanya sebagian yang merasa kehausan yang langsung ke kantin untuk membeli minuman atau makanan supaya bisa bersemangat dalam kelas.

Suara pengeras suara menjadikan banyak siswa merasa kurang senang karena sebentar lagi akan memasuki kelas untuk belajar.

“Ang, kamu udah siap pidatonya”, tanya Bagus.

“Dikit-dikit. Smoga nggak dapat giliran pertama.

“Aku juga baru dikit. Mudah-mudahan Bu Suci nggak datang”, ujar Bagus.

“Jangan gitu bro. nggak baik”, tegur Aang.

“Salahku dimana?”, Bagus ngeles.

“Kamu mendoakan nggak baik”, kata Aang.mengijakkan

“Ah, nggak. Cuma mudah-mudahan aja nggak datang. Nggak baiknya dimana?”, tanyanya lagi.

“Kalau nggak datang pasti ada hal-ahl kan?”, tegas Bagus.

“Ah, sudahlah. Masuk yuk!”, potong Aang.

“Selamat pagi anak-anakku”, sapa Suci pada murid-muridnya.

“Pagi, Bu….”, jawab mereka serentak.

Suci, guru bahasa Indonesia memasuki kelas Aang yang sedang riuh rendah. Dengan langkah yang mantap menyebabkan beberapa siswa memberi sinyal agar tak rebut. Dan jeb, kelas menjadi hening bersamaan dengan sepatu Suci menginjak lantai pintu kelas. Dengan suka cita, Suci membuka pelajaran dengan penyemangat, menanyakan kehadiran, memantik siswa agar konsentrasi belajar.

“Baik, anak-anakku yang ganteng, yang cantik. Apa yang harus kalian lakukan hari ini?”, tanya Suci selanjutnya.

Semua terdiam. Pandangan Suci liar ke seluruh penjuru kelas. Yang bertatapan dengannya kemudian pura-pura balpennya jatuh, mencari sesuatu, atau membuka-buka buku. Hal itu sudah biasa dihadapi Suci bertahun-tahun.

“Ang, kamu ingat pertemuan hari ini harus apa?”, tanya Suci pada Aang.

“Emm, nggak yakin, sih Bu!”, jawab Aang pura-pura ragu.

“Ibu juga nggak yakin kamu nggak boong”, balas Suci. Kemudian kelas menjadi riuh karena ucapan Suci.

“Iya, Bu. Pidato, Bu. Tapi aku lum siap, Bu”, ucap Aang memohon.

“Iya, baik. Ibu yakin kalian pasti ingat. Tapi seperti kata Aang, pasti diantara kamu berasalan belum siap. Baik, kalau begitu. Duduk siap, grak”, Suci berkata dengan suara keras. Kemudian Suci melanjutkan ucapannya.

“Nah, sekarang kalian sudah siap. Siapa yang mau maju duluan?”, tanya Suci. Kelas hening lagi.

“Bu, boleh bawa catatan?”, tanya Indah.

“Kesepakatan kemaren, gemana?”, tanya Suci. Kelas hening lagi. Kemudian ada yang tunjuk jari.

“Bu, saya, Bu. Tapi nggak hapal semua”, Indah mengacungkan tangan.

“Baik. Kamu coba aja, ntar dikoreksi bareng-bareng, ya?”, ucap Suci.

Indah menggeserkan kursinya untuk berdiri. Kemudian menarik napas panjang. Kemudian lagi melangkah menuju ke depan menghampiri Suci.

“Apa temanya?”, tanya Suci.

“Seperti tugas Ibu. ‘Hobi: Kunci Kebahagiaan dan Pengembangan Diri’ gitu boleh?”, tanya Indah.

“Yang lain menyimak! Silakan princes!”, kata Suci sambil mengacungkan jempol.

“Selamat pagi, Ibu guru, dan rekan-rekan yang aku banggakan. Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena dengan ridlonya kita dapat berkumpul di sini”, ucap Indah memulai.

“Huhui, mana tepuk tangannya?”, salah seorang murid yang di belakang berujar.

“Eit. Jangan dipotong. Kita Simak sampai akhir. Indah, lanjut!”, ucap Suci.

“Hobi merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela dan dinikmati dalam waktu luang. Hobi bukan hanya sekadar kegiatan, tapi juga sarana untuk mengembangkan diri, meningkatkan kreativitas, dan mencapai kebahagiaan. Pertama, hobi membantu mengembangkan keterampilan dan bakat. Dengan menekuni hobi, kita dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam bidang tertentu. Misalnya, hobi melukis dapat meningkatkan kemampuan menggambar dan memahami warna. Kemudian yang kedua, hobi dapat mengurangi stres dan meningkatkan keseimbangan mental. Kegiatan hobi dapat menjadi sarana relaksasi dan mengalihkan perhatian dari kesibukan sehari-hari. Contohnya, hobi berkebun dapat membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan kualitas tidur. Yang ketiga…..” Indah menatap lagit-langit mengingat apa yang harus diucapkan.

“Tiga, Persatuan Indonesia”, seorang siswa yang duduk di belakang kembali berucap dan diikuti oleh gelak tawa teman-teman yang lain.

“Tenang, ya! Ntar kamu dapat giliran nangis-ngangis”, ucap Suci menanggapi siswa yang berucap dan diikuti oleh gelak tawa teman-temannya.

“Lanjutkan Indah! Yang lain tetap tenang!”, ucap Suci lagi.

“Ketiga, eeeem. Hobi memperluas kesempatan sosialisasi dan membangun komunitas. Dengan bergabung dalam komunitas hobi, kita dapat bertemu orang-orang dengan minat yang sama dan membangun persahabatan. Misalnya, hobi fotografi dapat memperkenalkan kita pada komunitas fotografi dan berbagi pengalaman. Terakhir, hobi dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Melihat hasil karya sendiri dapat membangkitkan rasa bangga dan percaya diri. Contohnya, hobi menulis dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya sastra yang bermakna. Kesimpulan, hobi bukan hanya sekadar kegiatan, tapi juga sarana untuk mengembangkan diri, meningkatkan kreativitas, dan mencapai kebahagiaan. Mari kita jadikan hobi sebagai bagian penting dalam hidup kita. Sekian yang dapat aku sampaikan, bila ada kata-kata yang kurang pas mohon diaafkan. Terima kasih”, Indah mengakhiri pidatonnya sambil lari kembali ke tempat duduknya.

Meta AI Llama 3.2 13/01/2025 06:29:46

Tanpa dikomando seluruh siswa bertepuk tangan. Ada yang sambil memukul-mukul meja, ada yang sambil berteriak, tapia da juga yang diam tak merespon.

“Baik. Anak-anak sekalian. Pidato yang bagus, memotivasi. Kamu hebat”, Suci memuji Indah dengan kata-kata dan acungan jempol.

“Nggak, Bu. Aku dapat dari Meta AI hehehe”, ucap Indah jujur tapi disambut oleh teriakan mengolok-olok.

“Sudah-sudah. Sekarang giliran Indah menunjuk ke salah satu temanmu. Laki-laki, ya!”, ujar Suci.

Suasana kelas menjadi hening dan tegang. Semua terdiam menunggu keputusan Indah. Semua laki-laki terdiam. Ada siswa yang langsung membuka-buka buku, ada yang komat-kamit, ada pula yang melototin Indah. Indah memandangi setiap laki-laki dari tempat duduknya. Kemudian buru-buru memindahkan pandangannya ketika beradadu padnag dengan temannya yang galak. Dengan mulut komat-kamit akhirnya Indah berucap.

“Aku ingin temanku yang spesial. Yaitu….eeeee….nomor urut 13”, ucap Indah yang tak menyebutkan namanya.

Semua teman laki-laki yang berada di nomor pertengahan berdebar-debar. Suci melihat daftar siswa yang biasa digunakan untuk mengabsen, kemudian berkata.

“Nomor tiga belas perempuan, Indah!”, kata Suci.

Anak laki-laki merasa lega karena yang ditunjuk bukan dirinya. Indah diam sejenak kemudian berucap lagi.

“Emmm nomor terdekat aja, Bu!”, ucap Indah.

“Atas bawah?”, tegas Suci.

“Emmm bawah”, ucap Indah lagi.

Suci kemudian menelusuri ke bawah sesudah angka tiga belas dan berlebel L. Suci memandangi ke seluruh siswa laki-laki. Semua siswa laki-laki terdiam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar