Total Tayangan Halaman

Minggu, 05 Januari 2025

BAIK

 Kawan lama akan menjadi sebuah cerita. Kawan lama akan menjadi sebuah kerinduan. Kawan lama menjadi suasana semakin seru.

Warung kopi kekinian itu terlihat lengang. Hanya ada satu meja yang terisi oleh tiga orang yang sedang mengobrol sambil bermain hape. Widya tampak memasuki kafe itu sendirian. Ia melayangkan pandangannya ke seluruh yang bisa dipandang. Hanya meihat tiga orang yang sedang berada di meja sudut. Namun ia tak ragu untuk memasuki kafe itu kemudian memesan minuman kesukaannya. Setelah menduduki meja yang dianggapnya nyaman kemudian mengeluarkan gawainya. Dengan jemarinya yang terampil, kemudian menempelkan hapenya ke telinga. Beberapa saat kemudian ia kembali menarikan jemarinya di hapenya.

 


Bestie, aku dah nyampe                                                             14.51

Ia mengirimkan pesan disertai lokasi kafenya. Sambil berselancar melihat-lihat di layar hape, tersenyum sendiri melihat tayangan yang lucu-lucu dari netizen +62. Sesekali melihat pesan yang dikirimkan kepada teman lamanya NDY.

?                                                                                               14.55

“Hai”, keduanya bersamaan mengucapkannya.

Mereka berpelukan. Berbasa-basi. Menanyakan Kesehatan, keluarga, teman-teman, dan banyak lagi keseruan sebelumnya. Sesudah beres keseruannya kemudian Widya menagih janji yang harus diomongkan jikalau bertemu darat.

“Mana janjimu?”, tanya Widya.

“Okey. Kita buka kotak Ajaib”, sahut NDY sambil mengeluarkan kotak saktinya.

Dimulailah petualangan keduanya di kotak Ajaib milik NDY. Setelah menunggu tak lama, cemilan dan booting laptop bersamaan.

“Sejumlah keterampilan, dalam hal ini kemampuan seseorang dalam memanfaatkan teknologi. Ada beragam pengertian mengenai literasi digital. Literasi digital juga dapat didefinisikan sebagai "kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten / informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal”, NDY memulai.

“Wuih, keren Teh”, puji Widya.

“Bahkan UNESCO menguraikan literasi digital adalah kecakapan yang tidak hanya melibatkan kemampuan penggunaan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi, tetapi juga melibatkan kemampuan untuk dalam pembelajaran bersosialisasi, sikap berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetisi digital”, lanjutnya NDY.

“Hmmm”, Widya tak ada kata.

“Tentu saja dalam pemanfaatan teknologi tidak lepas dari keterampilan dalam menggunakan teknologi namun di satu sisi sebagai user kita harus mampu bersikap bijak dalam pemanfaatannya. Dalam praktiknya kita mengenal Empat pilar literasi digital yang merupakan bagian dari Roadmap Literasi Digital 2021-2024 yang disusun oleh Kementerian Kominfo”, kata NDY.

“Sok, lanjut. Aku nyimak trus”, ujar Widya.

“1. Digital Skill; Digital skill berkaitan dengan kemampuan individu dalam memahami dan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak, serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Digital skill termasuk keterampilan dasar seperti menggunakan komputer, smartphone, aplikasi, dan perangkat digital lainnya dalam keseharian. 2. Digital Culture; Digital culture adalah aktivitas masyarakat di ruang digital dengan tetap memegang nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, dan kebhinekaan. Meskipun ruang digital sering dianggap bebas aturan, sangatlah penting untuk mengingat bahwa etika dan tata krama tetap harus dijaga, sama seperti di ruang fisik. Digital culture membantu menjaga harmoni dan kerukunan di dunia digital. Dan nomor 3. Digital Ethics; Digital ethics adalah kemampuan untuk menyadari, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini bagaimana Ketika kita berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya dengan sopan santun dan menghormati privasi serta hak-hak orang lain. Terakhir 4. Digital Safety; Digital safety melibatkan kemampuan masyarakat untuk mengenali, menerapkan, dan meningkatkan kesadaran tentang perlindungan data pribadi dan keamanan digital. Sebagai pengguna/user, maka kita hendaknya memahami cara melindungi informasi pribadi, mengenali ancaman keamanan seperti malware dan phishing, serta mengetahui langkah-langkah yang perlu diambil untuk menjaga keamanan data”, paparnya panjanglebar.

“Wow wow materi daging semua. Lanjuut teeh. Eh…minum dulu”, ujar Widya.

“Okey, minum kopi dulu hehe”, sahutnya.

“Jangan sama cangkirnya yoo”, canda Widya.

“Selanjutnya komponen apa saja dalam Literasi Digital sehingga kita dapat mengoptimalkan keterampilan selaku motivator literasi digital?”, pertanyaan yang tak perlu dijawab Widya sambil menujukkan di layar.

Widya menatap dengan seksama gambar yang tertera di layar laptop sambil mengunyah cemilan.

“Pertama, Keterampilan Teknologi Dasar; Sebagai motivator literasi digital, hendaknya kita memahami terlebih dahulu cara menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak, seperti komputer, aplikasi, atau alat-alat online. Apakah harus menjadi expert? Tentu saja tidak, tetapi bagaimana ketika kita memahami petunjuk praktis sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan bidang masing-masing. Yang kedua,  Kemampuan Menavigasi Internet; Mengakses informasi melalui mesin pencari, menggunakan media sosial, dan memahami cara kerja situs web. Disini peran kita sangat penting dalam melakukan searching, hunting akan informasi dengan memanfaatkan mesin pencari. Hati-hati, awarnes dalam melakukan pencarian di mesin pencari pada situs web. Ketiga, Pemahaman Keamanan Digital; Melindungi data pribadi, mengenali ancaman seperti phishing atau malware, dan menggunakan kata sandi yang kuat. Berkaitan dengan poin kedua, kita hendaknya berhati-hati dalam menelusuri atau mencari informasi. Hal ini berkaitan dengan banyaknya situs yang berbahaya, bahkan dapat mencuri data pribadi. Dan yeng keempat, Etika Digital; Menggunakan internet secara bertanggung jawab, menghormati hak cipta, privasi, serta memperlakukan orang lain dengan baik dalam komunikasi digital. Dalam melakukan pencarian, mengunduh bahkan mem-publish. Selaku user yang cakap literasi digital hendaknya memperhatikan hak cipta dan privasi. Hal ini pun pernah disampaikan pada materi sebelumnya. Sebagai CC (content creator) ada yang harus kita cermati apa yang akan kita gunakan dan apa yang akan kita sebarkan yang berkaitan dengan informasi digital. Baik berupa gambar, tulisan bahkan produk. Selanjutnya, kelima, Kemampuan Analisis Informasi; Mengevaluasi kredibilitas sumber informasi online untuk membedakan fakta, opini, dan berita palsu. Hendaknya kita bijak dalam mengolah informasi, apakah sumber tersebut relevan dari ahlinya. Bahkan kita selaku penyebar informasi hendaknya berhati-hati, jangan sampai menyebarkan informasi tidak sesuai dengan keahlian kita. Bagiamana kita dapat melakukan analisis dan menyebarkan informasi dengan bijak? Dan yang terakhir, Kolaborasi dan Komunikasi Digital; Menggunakan alat kolaborasi online seperti email, aplikasi chatting, atau platform kerja bersama. Bahkan kita dapat berdiskusi dengan mengundang para ahli serta melakukan kolaborasi dalam penyampaian informasi. Sehingga dapat diterima relevansi dan keabsahannya”, jelas NDY.

“Mantab”, ucap Widya.

“Apa pentingnya cakap dalam Literasi Digita?”, NDY sambil menunjukkan lagi di layar.

“Ada lagi?”, tanya Widya balik.

“Melalui kecakapan dalam literasi digital maka praktek baik sebagai user, motivator literasi digital dapat menjadi lebih produktif dan bijak dalam memanfaatkan teknologi. Tidak saja bermanfaat untuk kita sebagai pengguna namun juga informasi yang kita sebarkan dapat menjadi kebermanfaatan bagi dunia digital, dengan meninggalkan jejak yang bermakna”, lanjutnya sambil menunjukkan lagi ke layar.

“Kasih contohlah, Teh!”, pinta Widya.

“Nah, ini kegiatan penerapan yang dapat dilakukan sebagai pendidik”, lagi-lagi NDY menunjukkan ke layar.

“Itu maksdunya apa?”, tanya Widya.

“Dari sekian contoh penerapan digital di atas, bahkan kita dapat lebih produktif dengan mengembangkan lagi melalui beragam platform, website atau blog. Dengan terus berkembangnya teknologi bukan berarti kita harus tergantung dengan teknologi tersebut. Disinilah pentingnya praktik baik dalam literasi digital, literasi digital merupakan kemampuan esensial yang harus dimiliki setiap individu untuk beradaptasi dengan dunia modern. Namun bijaklah dalam memanfaatkan teknologi, jangan sampai kita diperbudak dan akhirnya berdampak pada humanism”, jelasnya.

“Mo tanya, nih”, sela Widya.

“Sok lah!”

“Apakah pembelajaran digital dapat diterapkan untuk siswa kelas 1 & 2 SD?”, tanyanya ragu.

“Tentu saja  pembelajaran digital dapat diterapkan untuk siswa kelas 1 & 2 SD dapat dilakukan seperti mengenalkan warna, musik, bilangan hingga tulisan.. banyak aplikasi gratis yang dapat digunakan seperti menggunakan paint, ibis paint, google slide dan platform lainnya. Kok nggak bisa bisa? ”, jawab NDY sambil memencet-mencet keybord.

“Apanya?”, tanya Widya.

“Ini, laptopnya!”, jabaw NDY.

“Waduh, ngeheng, kali?”, Widia khawatir.

Kemudian NDY merestart laptopnya. Namun tidak berhasil dengan apa yang dilakukannya. NDY agak panik. Widya agak kecewa bercampur khawatir.

“Gini ajalah. Seingat aku aja, ya?”, pinta NDY.

“Siyap, Teteh. Jika di daerah yang lost sinyal bagaimana antisipasinya agar tetap dapat menerapkan digitalisasi dalam pembelajaran?”, tanya Widyab selanjutnya.

 

“Jika lost sinyal dapat menggunakan satu perangkat yang di tampilkan melalui layer di papan. Guru dapat mengajak anak berinteraksi dengan menampilkan kuis, media dan bahan ajar”, jawabnya.

“Permasalahan dalam belajar di era digital sekarang ini kadang timbul, trus?”, tanya Widya lagi.

“Permasalahan yang timbul bagi diri kita yaitu Ketika kita tidak ingin mencoba dan mengeksplor diri. Selaku pendidik banyak hal yang dapat kita lakukan dalam belajar di era digital, dengan melakukan pelatihan bahkan mencoba untuk lebih memanfaatkan beragam teknologi dalam pembelajaran. Bagi siswa, masalah yang timbul adalah perangkat dan filter dalam mencari, mengolah informasi. Disinilah peran kita untuk lebih cakap dalam literasi digital yang kemudian menerapkan dalam proses pembelajaran yang lebih baik dan menyenangkan. Tentu saja hal ini disesuaikan dengan profil satuan Pendidikan, tingkat/level siswa serta kolaborasi antar guru-guru, guru-siswa, siswa-guru dan orangtua”, jelasnya.

“Yang perlu untuk pembelajaran literasi berbasis digital, baik dari guru maupun siswa?” tanya Widia lagi.

“Pertama dengan mengenal dan mengetahui teknologi yang hendak kita terapkan di sekolah.

Kedua dengan merancang jenis teknologi digital yang hendak kita sampaikan dalam pembelajaran sesuai dengan jenjang pendidikan. Ketiga ajak peran serta siswa dalam proses pembelajaran yang partisipatif”, jelasnya lagi.

“Memastikan anak-anak kita berliterasi digital secara sehat?”

“ Untuk anak-anak kita di rumah, semua tanggung jawab dalam berliterasi digital adalah orangtua. Selalu berdiskusi, memantau setiap pemanfaatan aplikasi, berikan pemahaman dampak positif dan negatif dalam bermedia sosial. Untuk siswa dan orangtua, sekolah dapat melakukan kegiatan sosialisasi digital, pemanfaatan serta dampak yang akan mereka peroleh. Salah satunya dengan melakukan kampanye pemanfaatan teknologi yang sehat. Bagi orangtua, ikut sertakan kegiatan parenting dengan mengundang tenaga ahli bahkan dapat melakukan diskusi dengan pihak guru dan siswa mengenai apa literasi digital.

Berikan keguatan produktif yang dapat membuat siswa tertantang dalam menggunakan media social sebagai media belajar yang menyenangkan”, jelasnya.

“Untuk membentengi anak anak kita dari hal yang negatif?”, kelar Widya.

“Untuk membentengi secara digital, kini banyak aplikasi yang dapat digunakan untuk memantau aktifitas digital. Namun biasanya siswa lebih cerdas. Maka kita selaku pendidik dapat terus memberikan masukan positif, pendekatan dan kegiatan yang mengundang interksi dalam menggunakan teknologi yang sehat”, tandasnya.

“Okey. Gemana laptopnya?”, tanya Widia khawatir.

“Ups. Aku yang lupa. Ini nih chromebook, jadi harus pake jaringan. Berarti kuota habis lah”, jawab NDY sambil menyentuh jidat.

“Yeeeh. Gara-gara aku ye”, ucap Widya.

Subang, 5-1-2025

Resume 20

HADISUSILO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar