Total Tayangan Halaman

Selasa, 31 Desember 2024

TEROMPET

 Terompet terdengar bersahut-sahutan dengan suara yang tak kencang. Di sepanjang jalan utama, deretan pertokoan ada beberapa tukang terompet menjajakan dagangannya.

“Berapa, Mang?”, tanya pembeli.

“Seratus, Bu?”, kata pedagang menjawab.

Pelanggan hanya menanyakan, bahkan tak menyentuh barang yang ditanyakan. Pedagang merasa kecewa namun hanya pasrah. Katanya ada penurunan pembeli terompet di akhir tahun ini.  Entah fenomena apa

“Berapa, Mang?”, tanya pelanggan.

Pertanyaan yang selalu diutarakan oleh pelanggan yang ketika mendekati dagangannya. Dan tak bosan-bosan pedagang itu menjawabnya.

“Satu, bungkus!”, kata pelanggan setelah menanyakan harganya dan tak menawarnya. Seorang ibu yang menggunakan pakaian elegan dan nampak berwibawa namun ramah.

Pedagang itu kaget namun menuruti kemauan pelanggan. Dengan mengucap syukur pedagang itu mengipas-kipaskan uang seratusan ke dagangannya.

“Laris, laris, laris”, ucapannya.

Pedagang itu berpikir jikalau semua pembeli tak menawar harga yang ditawarkannya…tapi mungkin hanya sekali dalam hidup.

“Kemana lagi, Bu?”, tanya pemuda yang mengiringi pembeli terompet tadi.

“Udah cukup, kita pulang aja. Mau bakso?”, tanyanya.

“Ibu….”, seorang pria menyapa.

“Helwiyah”, jawab yang disapa.

“Iya…. Masyallah. Bu Helwiyah. Lama nggak ketemu. Gemana kabar?”, pria itu berkata.

“Baik. Pak Dail, gemana kabar Bapak, sehat, sukses, tetap semangat?”, tanya Hel bertubi-tubi.

“Ngeborong mengahbiskan anggaran akhir tahun, kayaknya? Hehehe”, Dail bercanda.

“Wah, Pak Dail bisa aja. Ini uang pribadi bukan uang negara”, jawabnya.

“Maaf, Bu”, takut lawan bicaranya tersinggung.

“Kita ngobrol di tempat ngopi, yu!”, ajak Hel.

“Ah, takut mengganggu waktunya”, Dail ragu.

“Enggak. Kebetulan kita lagi santai. Bang kita ngopi dulu, ya!”, kata Hel kepada orang yang membuntutinya.

Mereka bertiga berjalan menuju kedai kopi yang berada di dekat tempat memarkir mobilnya. Setelah duduk dan memesan minuman serta cemilan, mereka mulai duduk bersantai.

“Pak Dail mau kemana?”, tanya Hel

“Enggak, cuma nganter anak ke sanggar buat persiapan pentas tahun baru. Jadi jalan-jalan aja melihat kehiruk-pikukan akhir tahun”, jawab Dail

“Nah, ini dia. Pedagang terompet mengeluhkan, dagangannya yang sisa tahun kemaren aja nggak laku juga tahun ini. Banyak yang beli online katanya”, Hel mulai pembicaraan.

“Itu yang jadi masalah. Para pedagang yang kurang memahami perkembangan zaman. Sekarang kan zaman digital. Orang nyebut gaji aja pakai digit. Gajinga berapa digit?”, Dail bercanda, kemudian mereka tertawa bersama.

“Nah ......sekarang kita akan pelajari bagaimana mengembangkan kualitas hidup dengan memanfaatkan literasi digital. Jika kita bijak, maka utamakan kebutuhan daripada keinginan. KEBUTUHAN UTAMAKAN -- DAN JANGAN KEINGINAN. Kebutuhan sesuatu yang harus kita lakukan dan dapatkan untuk dapat hidup

Sedangkan keinginan lebih kepada kesenangan atau pelengkap...”, Mel berapi-api.

“Betul, Bu. Orang-orang sekarang banyak gaya. Dikit-dikit upload, Dikit-dikit upload, Dikit-dikit upload”, ujar Dail.

“Literasi digital dapat kita simpulkan sebagai kemampuan untuk memahami dan  memanfaatkan  teknologi digital dan media sosial secara efektif, aman dan bertanggung jawab. Nah .....kualitas hidup  dapat kita kembangkan dengan memanfaatkan literasi digital. Di era digital, kalau literasi kita kurang, malah bisa kudeT. Perkembangan teknologi saat ini membuat banyak lapangan pekerjaan baru”, sambungnya.

“Betul ...kurang update ....”, Dail menegaskan.

“Dengan digitalisasi hal terbaru dapat diakses dengan mudah”, tegas Hel.

“Misalnya....?”, tanya Dail.

“Jadi Kontent kreator melalui YouTube, Tiktok, IG, FB, atau yang lainnya. Nah, yang konten kreator ini, besar tuh peluangnya. Melalui media digital, masyarakat di pelosok daerah dapat  memiliki penghasilan dari membuat konten, yang rajin dan kontennya viral bisa cepat banyak uang”, katanya.

“Berarti?”, tanya Dail.

“Dibutuhkan kreatifitas dan kemampuan memanfaatkan media sosial serta digital untuk bisa menghasilkan cuan”, tegasnya lagi.

“Ibu rumah tangga di rumah dengan hobi masak pun bisa hasilkan banyak uang, ya Bu!”, selang Dail.

“Dari hal seperti ini sangat terasa manfaat kemampuan literasi digital  bagi pengembangan kualitas hidup. Saya sering buka konten resep dan cara memasak. ..ternyata banyak peminatnya. Semakin banyak view...  Like....dan followers. Adah mesin uang ....hanya dengan  duduk santai di rumah  tanpa transpor”, kata Hel lagi.

“Mungkin ada faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hidup?”, tanta Dail.

“Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas hidup Pak  Dail”, katanya.

What?”

“Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup: pertama, Usia dan kondisi Kesehatan. Kedua, Jenis kelamin dan identitas gender. Ketiga, Pendidikan dan pengetahuan. Kemudian yang keempat, Penghasilan dan status sosial-ekonomi. Selain itu, Lingkungan hidup dan geografis. Keenam, Kebijakan pemerintah dan regulasi. Dan yang terakhir, Perubahan teknologi dan globalisasi”, jawabnya.

“Ada dong yang utama?”, Dail mendesak.

“Nah ......usia dan kesehatan faktor utama yang membuat orang merasa hidupnya berkualitas, no.1 tambah usia-- kesehatan makin menurun jika kurang bisa menjaganya. Ditunjang dengan rasa syukur atas karunia Tuhan Atas  kesehatan dan usia yang manfaat”, jelasnya.

“Bagaimana dengan faktor yang lainnya?”, tanya Dail lagi.

“Iya nomor 2 sampai 7 juga sangat pengaruh -- bagi kualitas hidup. Maka dari itu manfaatkan literasi digital untuk memperoleh info tentang bagaimana menjaga Kesehatan. Banyak konten cara menjaga Kesehatan, dengan kaya literasi maka kita bisa menjadi dokter bagi diri sendiri”, ia menekankan.

“Setuju dan itu gratis modal ada kuota atau WiFi”, Dail membenarkan.

“Betul. ..banyak tawaran  hallo doc. Konsultasi dokter dari rumah, kesehatan mental dengan banyak mendekatkan diri pada Tuhan --ini juga penting bagi Kesehatan. Jenis kelamin dan identitas gender, juga sedikit berpengaruh terhadap kualitas hidup ..tergantung dimana komunitasnya ...”, tambahnya.

Pesanan minuman dan makanan datang. Mereka sejenak melapas dahaga sambil menikmati cemilan yang dipesan. Dengan tak sabar Dail melanjutkan perbincangannya.

“Bagaimana dengan pendidikan?”, tanya Dail lagi.

“Pendidikan Tinggi bukan jaminan  kualitas hidupnya juga tinggi lho. Mungkin kurang bijak dalam memanfaatkan  dan mengelola pengetahuannya. Kalau orang zaman dahulu....pendidikan rendah tapi pendidikan  Anak anaknya tinggi dan beretika bagus, tingkat kesehatannya juga bagus, kenapa? Namun secara umum--- yang terdidik biasanya tahu-- sehingga ia akan melalukan yang positif. Perkembangan teknologi, keaneka ragaman makanan, jenis hiburan, kualitas makanan dn minuman yang dikonsumsi,  kesehatan mentar, faktor psikologis. Adalah hal hal yang relatif berpengaruh punya doa dan bisa memotivasi anaknhya”, tambahnya lagi.

“Berarti wajib bagi kita di zaman ini harus menguasai teknologi. Begitu kan?”, pancing Dail.

“Benar, dengan menguasai teknologi berarti menguasai zaman, ada yang beranggapan begitu sehingga lupa akan Tuhan. Teknologi dan globalisasi suatu negara harus berkembang, tentu saja dengan banyaknya konsekuensi. Pergeseran selera  masyarakat, hiburan, kesenangan, disiplin, perubahan konsep jual beli adalah hal yang nampak jelas terpengaruh”, ucapnya.

“Maksudnya?”, tanya Dail

“Saat ini banyak  toko-toko, mall, pasar ,minimarket , warnet yang makin sepi bahkan tutup, tergusur oleh perkembangan teknologi  dan globalisasi. Serba online”, singkatnya.

“Yang masih eksis adalah  pemodal besar yang memiliki strategi penjualan dan  manajemen yang  mahir”, tambah Dail.

“Betul. ...jual-beli bergeser ke marketplace .....secara online. Yang penting  M banking penuh ....barang datang sendiri, bisa pilih-pilih dari rumah sambil rebahan dan nonton TV”, Hel menambahkan.

“Kalo kita lanjutin bisa panjang lebar nih.  Merambat ke hal Lain, heheh”, ujar Dail.

Hape Dail berdering. Ia melihat ke layarnya. Rupanya anaknya yang tadi diantar yang menelponnya. Setelah menjawab telponnya kemudian Dail segera berpamitan.

Subang, 1-1-2025

Resume 16

HADISUSILO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar