Terompet terdengar bersahut-sahutan dengan suara yang tak kencang. Di sepanjang jalan utama, deretan pertokoan ada beberapa tukang terompet menjajakan dagangannya.
“Berapa,
Mang?”, tanya pembeli.
“Seratus, Bu?”,
kata pedagang menjawab.
Pelanggan hanya
menanyakan, bahkan tak menyentuh barang yang ditanyakan. Pedagang merasa kecewa
namun hanya pasrah. Katanya ada penurunan pembeli terompet di akhir tahun
ini. Entah fenomena apa
“Berapa,
Mang?”, tanya pelanggan.
Pertanyaan yang
selalu diutarakan oleh pelanggan yang ketika mendekati dagangannya. Dan tak
bosan-bosan pedagang itu menjawabnya.
“Satu,
bungkus!”, kata pelanggan setelah menanyakan harganya dan tak menawarnya.
Seorang ibu yang menggunakan pakaian elegan dan nampak berwibawa namun ramah.
Pedagang itu
kaget namun menuruti kemauan pelanggan. Dengan mengucap syukur pedagang itu
mengipas-kipaskan uang seratusan ke dagangannya.
“Laris, laris,
laris”, ucapannya.
Pedagang itu
berpikir jikalau semua pembeli tak menawar harga yang ditawarkannya…tapi
mungkin hanya sekali dalam hidup.
“Kemana lagi,
Bu?”, tanya pemuda yang mengiringi pembeli terompet tadi.
“Udah cukup,
kita pulang aja. Mau bakso?”, tanyanya.
“Ibu….”,
seorang pria menyapa.
“Helwiyah”,
jawab yang disapa.
“Iya….
Masyallah. Bu Helwiyah. Lama nggak ketemu. Gemana kabar?”, pria itu berkata.
“Baik. Pak
Dail, gemana kabar Bapak, sehat, sukses, tetap semangat?”, tanya Hel
bertubi-tubi.
“Ngeborong
mengahbiskan anggaran akhir tahun, kayaknya? Hehehe”, Dail bercanda.
“Wah, Pak Dail
bisa aja. Ini uang pribadi bukan uang negara”, jawabnya.
“Maaf, Bu”,
takut lawan bicaranya tersinggung.
“Kita ngobrol
di tempat ngopi, yu!”, ajak Hel.
“Ah, takut
mengganggu waktunya”, Dail ragu.
“Enggak.
Kebetulan kita lagi santai. Bang kita ngopi dulu, ya!”, kata Hel kepada orang
yang membuntutinya.
Mereka bertiga
berjalan menuju kedai kopi yang berada di dekat tempat memarkir mobilnya.
Setelah duduk dan memesan minuman serta cemilan, mereka mulai duduk bersantai.
“Pak Dail mau
kemana?”, tanya Hel
“Enggak, cuma
nganter anak ke sanggar buat persiapan pentas tahun baru. Jadi jalan-jalan aja
melihat kehiruk-pikukan akhir tahun”, jawab Dail
“Nah, ini dia.
Pedagang terompet mengeluhkan, dagangannya yang sisa tahun kemaren aja nggak
laku juga tahun ini. Banyak yang beli online katanya”, Hel mulai
pembicaraan.
“Itu yang jadi
masalah. Para pedagang yang kurang memahami perkembangan zaman. Sekarang kan
zaman digital. Orang nyebut gaji aja pakai digit. Gajinga berapa digit?”, Dail
bercanda, kemudian mereka tertawa bersama.
“Nah
......sekarang kita akan pelajari bagaimana mengembangkan kualitas hidup dengan
memanfaatkan literasi digital. Jika kita bijak, maka utamakan kebutuhan
daripada keinginan. KEBUTUHAN UTAMAKAN -- DAN JANGAN KEINGINAN. Kebutuhan
sesuatu yang harus kita lakukan dan dapatkan untuk dapat hidup
Sedangkan
keinginan lebih kepada kesenangan atau pelengkap...”, Mel berapi-api.
“Betul, Bu.
Orang-orang sekarang banyak gaya. Dikit-dikit upload, Dikit-dikit upload,
Dikit-dikit upload”, ujar Dail.
“Literasi
digital dapat kita simpulkan sebagai kemampuan untuk memahami dan memanfaatkan
teknologi digital dan media sosial secara efektif, aman dan bertanggung
jawab. Nah .....kualitas hidup dapat
kita kembangkan dengan memanfaatkan literasi digital. Di era digital, kalau
literasi kita kurang, malah bisa kudeT. Perkembangan teknologi saat ini membuat
banyak lapangan pekerjaan baru”, sambungnya.
“Betul
...kurang update ....”, Dail menegaskan.
“Dengan
digitalisasi hal terbaru dapat diakses dengan mudah”, tegas Hel.
“Misalnya....?”,
tanya Dail.
“Jadi Kontent
kreator melalui YouTube, Tiktok, IG, FB, atau yang lainnya. Nah, yang
konten kreator ini, besar tuh peluangnya. Melalui media digital, masyarakat di
pelosok daerah dapat memiliki
penghasilan dari membuat konten, yang rajin dan kontennya viral bisa cepat
banyak uang”, katanya.
“Berarti?”,
tanya Dail.
“Dibutuhkan
kreatifitas dan kemampuan memanfaatkan media sosial serta digital untuk bisa
menghasilkan cuan”, tegasnya lagi.
“Ibu rumah
tangga di rumah dengan hobi masak pun bisa hasilkan banyak uang, ya Bu!”,
selang Dail.
“Dari hal
seperti ini sangat terasa manfaat kemampuan literasi digital bagi pengembangan kualitas hidup. Saya sering
buka konten resep dan cara memasak. ..ternyata banyak peminatnya. Semakin
banyak view... Like....dan
followers. Adah mesin uang ....hanya dengan duduk santai di rumah tanpa transpor”, kata Hel lagi.
“Mungkin ada
faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hidup?”, tanta Dail.
“Banyak faktor
yang mempengaruhi kualitas hidup Pak Dail”,
katanya.
“What?”
“Faktor yang
Mempengaruhi Kualitas Hidup: pertama, Usia dan kondisi Kesehatan. Kedua, Jenis
kelamin dan identitas gender. Ketiga, Pendidikan dan pengetahuan. Kemudian yang
keempat, Penghasilan dan status sosial-ekonomi. Selain itu, Lingkungan hidup
dan geografis. Keenam, Kebijakan pemerintah dan regulasi. Dan yang terakhir, Perubahan
teknologi dan globalisasi”, jawabnya.
“Ada dong yang
utama?”, Dail mendesak.
“Nah ......usia
dan kesehatan faktor utama yang membuat orang merasa hidupnya berkualitas, no.1
tambah usia-- kesehatan makin menurun jika kurang bisa menjaganya. Ditunjang
dengan rasa syukur atas karunia Tuhan Atas
kesehatan dan usia yang manfaat”, jelasnya.
“Bagaimana
dengan faktor yang lainnya?”, tanya Dail lagi.
“Iya nomor 2 sampai
7 juga sangat pengaruh -- bagi kualitas hidup. Maka dari itu manfaatkan
literasi digital untuk memperoleh info tentang bagaimana menjaga Kesehatan. Banyak
konten cara menjaga Kesehatan, dengan kaya literasi maka kita bisa menjadi dokter
bagi diri sendiri”, ia menekankan.
“Setuju dan itu
gratis modal ada kuota atau WiFi”, Dail membenarkan.
“Betul.
..banyak tawaran hallo doc.
Konsultasi dokter dari rumah, kesehatan mental dengan banyak mendekatkan diri
pada Tuhan --ini juga penting bagi Kesehatan. Jenis kelamin dan identitas
gender, juga sedikit berpengaruh terhadap kualitas hidup ..tergantung dimana
komunitasnya ...”, tambahnya.
Pesanan minuman
dan makanan datang. Mereka sejenak melapas dahaga sambil menikmati cemilan yang
dipesan. Dengan tak sabar Dail melanjutkan perbincangannya.
“Bagaimana
dengan pendidikan?”, tanya Dail lagi.
“Pendidikan
Tinggi bukan jaminan kualitas hidupnya
juga tinggi lho. Mungkin kurang bijak dalam memanfaatkan dan mengelola pengetahuannya. Kalau orang zaman
dahulu....pendidikan rendah tapi pendidikan
Anak anaknya tinggi dan beretika bagus, tingkat kesehatannya juga bagus,
kenapa? Namun secara umum--- yang terdidik biasanya tahu-- sehingga ia akan
melalukan yang positif. Perkembangan teknologi, keaneka ragaman makanan, jenis
hiburan, kualitas makanan dn minuman yang dikonsumsi, kesehatan mentar, faktor psikologis. Adalah
hal hal yang relatif berpengaruh punya doa dan bisa memotivasi anaknhya”,
tambahnya lagi.
“Berarti wajib
bagi kita di zaman ini harus menguasai teknologi. Begitu kan?”, pancing Dail.
“Benar, dengan
menguasai teknologi berarti menguasai zaman, ada yang beranggapan begitu
sehingga lupa akan Tuhan. Teknologi dan globalisasi suatu negara harus berkembang,
tentu saja dengan banyaknya konsekuensi. Pergeseran selera masyarakat, hiburan, kesenangan, disiplin,
perubahan konsep jual beli adalah hal yang nampak jelas terpengaruh”, ucapnya.
“Maksudnya?”,
tanya Dail
“Saat ini
banyak toko-toko, mall, pasar
,minimarket , warnet yang makin sepi bahkan tutup, tergusur oleh perkembangan
teknologi dan globalisasi. Serba online”,
singkatnya.
“Yang masih
eksis adalah pemodal besar yang memiliki
strategi penjualan dan manajemen
yang mahir”, tambah Dail.
“Betul.
...jual-beli bergeser ke marketplace .....secara online. Yang
penting M banking penuh
....barang datang sendiri, bisa pilih-pilih dari rumah sambil rebahan dan
nonton TV”, Hel menambahkan.
“Kalo kita
lanjutin bisa panjang lebar nih.
Merambat ke hal Lain, heheh”, ujar Dail.
Hape Dail
berdering. Ia melihat ke layarnya. Rupanya anaknya yang tadi diantar yang
menelponnya. Setelah menjawab telponnya kemudian Dail segera berpamitan.
Subang,
1-1-2025
Resume 16
HADISUSILO