Matahari tak ingkar janji
rintangan ia
hadapi
rintangan datang
berganti
angin mengusir
semampu membantu
Apa daya jika terlalu
Sebait puisi merintang
waktu di hari yang tak muncul matahari yang dinanti. Sejak pagi awan menutupi
langit. ‘Mendung Tanpo Udan’ mungkin sebuah lagu yang mewakili hari ini.
“Pa, jadi nggak
kita pergi”, Chen menanyakan pada papanya.
“Kita tunda aja
ya!”, jawab papanya dengan harapan.
“Tapi kenapa?”,
Chen minta penjelasan.
“Nak, kata
BMKG, seminggu ini cuaca ekstrim, lebih baik kita di rumah aja”, jelas papanya.
“Eskrim kan
enak, Pa?”, ujar Chen.
“Hehehe,
ekstrim, bukan eskrim. Ekstrim itu melebihi batas. Maksudnya cuacanya nggak
menentu, tak terduga, berbahaya”, jawab papanya.
Suasana menjadi
hening. Chen kecewa karena tak jadi pergi. Padahal ia sudah bersiap-siap untuk
berlibur sesuai janji papanya.
“Bagaimana
kalau kita menjelajah di rumah aja?”, tanya papanya.
“Menjelajah kok
di rumah, gemana Papa nih?”, Chen kecewa.
“Kita
menjelajah di dunia maya, oke?”, papanya menjelaskan sambil menjulurkan tangannya
untuk tos.
Chen dengan
malas membalasnya. Kemudian mereka berpelukan. Chen lalu duduk di samping
papanya yang sedang duduk sambil menikmati teh.
“Menjelajah
alam digital yang luas bisa berarti banyak hal yang kita dapat. Misalnya; Eksplorasi
teknologi, Jelajahi internet, Dunia game,
Pembelajaran online atau yang lainnya. Mana yang kamu suka?”, papanya
memulai.
“Main gim, Pa”,
jawabnya semangat.
“Bagus, tapi papa
mau mulai dengan yang berhubungan dengan sekolah”, ujar papanya.
“Kan baru libur
masa ngomongin sekolah?”, protes anaknya.
“Ntar soal gim
buat penutupnya, oke?”, jelas papanya.
Chen hanya
menaikkan bahunya tanda terserah pada papanya.
“Di era digital
ini, perkembang teknologi di bidang informasi teknolgi berdampak juga pada
dunia pendidikan. Dipacu lagi pada masa pandemi, teknologi digital ini
meningkat penggunaannya. Dan juga memacu dunia pendidikan untuk cepat
beradaptasi menghadapi perubahan yang terjadi”, Koko memulainya.
“Kok kayak
ngasih materi sama peserta seminar, Pa?”, Chen heran.
“Ya, anggap aja
kamu peserta pelatihan, hehehe”, papanya tak mau kalah.
“Siap, aku
menyimak. Lanjut”, Chen memberikan semangat.
“Okey. Peran
Teknologi Digital dalam Pendidikan; pertama, Akses Informasi yang luas: Pendidik
mebuka akses ke sumber daya tanpa batas, platform seperti e-book, jurnal
online, dan video pembelajaran. Kedua, Pembelajaran Berbasisi Teknologi: Pembelajaran
daring (online learning) memungkinkan belajar kapan saja dan dimana saja. Ketiga,
Kustomisasi Pendidikan: Teknologi seperti AI dapat menyesuaikan mteri dengan
kebutuhan individu. Dan yan keempat, Kolaborasi Global: yaitu Diskusi lintas
negara melalui forum, webinar, atau platform pembelajaran kolaboratif”, Koko
bersemangat.
“Gitu doang,
Pa?”
“Nggaklah. Keluasaan
yang tercipta dari alam digital ini sebaiknya dapat juga meningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia. Peran yang pertama, ini akan membantu bapak ibu dalam
mencari informasi. Dahulu mungkin kita perlu menyediakan waktu khusus pergi ke
perpustakaan untuk mencari informasi itu di berbagai buku yang tersedia. saat
ini dalam hitungan detik saja, kita dapat menemukan informadi dengan bantuan
mesin pencari, seperti google. Peran kedua dari teknologi digital ini, terlah kita
rasakan pada saat pandemi covid lalu. Dapat dibayangkan tanpa teknologi ini,
kemungkinan sekolah dan aktivitas lainnya akan terhambat. Peran ketiga ini,
sedang ramai juga dibicarakan dan sedang berkembang luar biasa. AI (Artificial
Intelligence), ini sangat membantu berbgaai pekerjaan kita, termasuk
menyesuaikan materi pengajaran. Bahkan saya sedang mencoba juga sesat
keterampilan baru dan program belajarnya lewat AI ini. Peran ke empat tidak
kalah pentingnya bagi dunia pendidikan. dl mungkin kita harus menunggu beberpa
waktu untuk mendapatkan informasi atau hasil penelitian terbaru. Saat ini kita
bahkan dapat berkolaborasi, mendapatkan informasi terkkini dari narasumbernya
langsung, tapa perlu meninggalkan tempat kita”, jelasnya lagi.
“Wuiiih, Papa
memang hebat. Ntar jadi pembicara di sekolah aku, ya?”, anaknya memberi semangat.
“Tetapi perlu
diingat juga karena luasnya dan banyaknya informasi kita perlu melatih
kemampuan literasi kita. Dari peran-peran tersebut, berbagai situs maupun
aplikasi (perangkat lunak) bermunculan untuk mempermudah berbagai aspek
kehidupan termasuk dalam dunia pendidikan. Berikut bebarapa alat bantu dalam
dunia pendidikan”, Koko menalnjutkan.
“Trus apalagi,
Pa?”, Chen memancingnya.
“Alat dan
Teknologi Utama; 1. Learning management systems (LMS): moodle, google
classroom, Edmodo. 2. Aplikasi pembelajaran interaktif: duolingo, khan
academy, quizizz. 3. Virtual reality (VR) dan Augmented reality (AR):
simulasi visualisasi konsep-konsep sulit. Dan 4. AI dan machine
learning: analisis kemajuan siswa, pembuatan rencana belajar personalisasi”,
ujar Koko.
“Pa, minum dulu,
nih!”, Chen memberikan minuman untuk papanya.
“Semuanya dapat
kita akses baik dengan menggunakan komputer, smartphone kita atau gawai
lainya. Sehingga kita memiliki istilah dunia dalam genggaman. Jadi jangan cuma
buat main gim doang”, Koko mengingatkan.
“Tapi kan harus
ada aplikasinya, Pa?”, tanya Chen.
“Sama aja kan,
gim juga pake aplikasi. Untuk jenis perangkat lunak yang pertama, kamu kan
pernah menggunakannya terutama saat online learning. Beberapa tahun lalu
untuk perangkat lunak di kelompok dua, yaitu Aplikasi Pembelajaran Interaktif,
beberapa gurumu yang hebat juga pernah menggunakannya bahkan sampai saat ini
masih ada yang menggunakannya termasuk saya dalam proses mengajar. Sedangkan
untuk perangkat lunak di kelompok ketiga memang belum terlalu familiar, tapi
bukan berarti tidak digunakan, dapat menggunakan VR dan AR mendapat pengalaman. Misal : untuk reaksi
kimia tertentu yang bahan nya relatif mahal, atau berbahasa dapat dilakukan
dalam laboratorium virtual, sehingga dapat menekan biaya operasional dan juga
menggurangi resiko berbahaya pada peserta didik
Wooow materi yg
sangat menarik”, jelas Koko.
“Pa, kasihan,
ya. Temen-temen yang nggak bisa internetan”, keluh Chen.
“Ya ya ya. Tantangan
dalam Menjelajhi Dunua Digital karena Kesenjangan akses teknologi: Tidak semua memiliki
akses ke perangkat dan internet atau Ketergantungan teknologi: Mengurangi
interaksi langsung, mungkin juga karena Keamanan data dan privasi: Ancaman
kebocoran data pribadi”, ujar Koko.
“Trus gemana
dong Pa?”, tanya Chen.
“Solusi untuk
Mengoptimalkan Digitalisasi Pendidikan pertama, Infrastruktur Teknologi yang
Merata: Penyediaan perangkat murah dan akses internet. Kedua, Pelatihan Guru: Meningkatkan
kemampuan tenaga pengajar dalam menggunakan teknologi. Ketiga, Penerapan
Kebijakan Keamanan Data: Perlindungan privasi siswa dan data institusi. Dan yang
terakhir, Integrasi Teknologi dengan Metode Tradisional: Mengombinasikan
pembelajaran digital dengan pembelajaran tatap muka”, jelasnya.
“Apalgi, Pa?”,
Chen bertanya sambil menguap.
“Masa Depan
Pendidikan Digital, Hybrid Learning: kombinasi online (daring)
dan offline (luring). Peningkatan Realitas Virtual dan AI: membawa
pendidikan Tingkat imersi yang lebih tinggi. Pendidikan Berkelanjutan:
teknologi memungkinkan pembelajaran sepanjang hayat. Pembelajaran Mandiri: baik
sisw maupun guru dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang tidak
dipelajari di sekolah. Alam digital sebagai peluang besar: dengan strategi yang
tepat, teknologi dapat memajukan pendidikan. Pentingnya kolaborasi: antara
pemerintah, sekolah, guru, siswa, dan masyarakat untuk memaksimalkan manfaat
teknologi digital. “teknologi adalah alat: tujuan akhir tetaplah manusia yang
terdidik dan bermartabat”, gitu princesku”, Koko menjelaskan.
Ternyata putrinya
sudah pindah ke alam maya. Kemudian dibenarkannya posisinya. Dikasih bantal dan
dibiarkannya terlelap dalam mimpinya.
Subang, 31-12-2024
Resume 15
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar