Total Tayangan Halaman

Jumat, 27 Desember 2024

EKSIS

 Ruangan yang biasanya tak begitu enak dipandang, kini lebih tertata dan lumayan bisa dikatakan lebih pantas. Ruangan yang biasanya setiap meja penuh dengan buku pelajaran, buku tugas siswa, modul pembelajaran, tumpukan karya siswa, dan entah apalagi. Hari ini mulai dari kemarin, ruangan dibersihkan dari beberapa barang yang sebenarnya bukan ditempatkan di meja kerja. Pemandangan yang ada di atas meja hanyalah file box yang terdapat nama seperti nama yang ada di meja. Selain itu, ruangan juga berbau harum. Di depan terdapat sebuah meja panjang yang dihiasi dengan vas bunga, ada piring berisi buah-buahan, dan kue basah. Tiga botol minuman diletakkan di belakang tulisan. Di sisi kanan bertuliskan kepala sekolah, di tengah narasumber, dan paling kiri moderator. Di tembok sisi belakang meja panjang tertempel banner bertuliskan ‘Menegkspresikan Diri yang Baik di Media Sosial’.

Orang-orang mulai berdatangan dan memasuki ruangan. Mereka sudah fasih dengan jalan anatar meja dengan meja lainnya kemudian menempati mejanya sendiri-sendiri.

“Assalamu’alaikum warahmatulullahi wabarakaatuh”, suara Lely menghentikan riuh obrolan setiap orang.

Lely kemudian dengan bla-bla-bla membawa mereka ke acara pokok.

“Sampailah kita pada acara pokok, yaitu pemaparan materi ‘Menegkspresikan Diri yang Baik di Media Sosial’, yang akan disampaikan oleh Ibu Ritawati, M.Pd. Beliau adalah terlahir di Tanjungpinang dari orang tua berdarah minang. Masa kecil hingga remaja penulis habiskan di Tanjungpinang Kepulauan Riau kemudian melanjutkan studi S1 di Yogyakarta. Pernah bekerja di Serang kemudian menikah dan kini menetap di Bali. Pendidikan S2 Magister Teknik Informatika. Aktivitasnya Teacher (SMP Negeri 2 Mendoyo), Blogger, Writer, Moderator, dan Youtuber HP : 085219585451. Untuk menyingkat waktu selengkapnya lebih jauh tentang narasumber kita ini nanti saya share”, Lely memperkenalkan narasumbernya dan langsung memberikan kesempatan sepenuhnya kepada Rita.

“Terima kasih, Bu Lely. Bapak kepala sekolah yang terhormat, Bapak, Ibu guru, yang saya hormati dan saya kagumi, dan semua yang hadir disini yang mudah-mudahan dimuliakan Allah. Salah satu indikator yang mengantarkan saya menjadi guru inspiratif Kemendikbud tahun 2021 bisa jadi karena saya ‘mengekspresikan diri di media sosial’. Karena pada saat itu saya mengangkat Praktik baik dengan judul Literasi Blog dan Tutorial Youtube dalam Mengatasi Learning Loss. Saya yakin jika saya TIDAK mengekspresikan Keterampilan Digital saya lewat tulisan di blog dan youtube, tentu saja kecil harapan saya bisa menjadi peserta terbaik guru inspiratif jenjang SMP ketika itu”, Rita mmengawali ucapannya.

“Bapak Ibu, kita lihat bersama di era serba Digital ini hampir semua kalangan banyak mengekspresikan dirinya di media sosial. Banyak diantara mereka mendapatkan penghasilan karena berhasil menjadi konten creator. Dan tidak sedikit pula yang berurusan dengan hukum karena konten yang menyangkut, Pencemaran nama baik, SARA dan hal lainnya yang melanggar hukum. Akhir-akhir ini ada yang viral guru ASN yang resign karena ‘merasa lingkungannya yang toxic’ (kasus ini ada pro dan kontra dari netizen). Yang terbaru Guru yang mengekspresikan kekecewaan terhadap tulisan siswa yang tidak bisa dibaca hingga menyalahkan guru pada jenjang SD”, nana Rita serasa dipenuhi keprihatinan.

“Bapak Ibu yang Budiman, mengekspresikan diri di media sosial ibarat berakting di panggung virtual. Kita adalah individu yang mencari perhatian dan validasi dari orang lain. Kita lihat bersama ratusan atau ribuan yang berteman dengan kita di sosmed memiliki aneka ragam dalam mengekspresikan postingannya. Ada  yang memposting tentang kegiatan sehari-harinya, ada yang mengekspresikan di sosmed tentang hobinya, tentang masalahnya, tentang perasannya dan lainnya”, sambil menunjukkan visual di layar smart tivi besar.

“Bapak Ibu, sebelum kita mengekspresikan diri pada sosial media ada baiknya kita ketahui Landasan Hukum tentang Etika Bermedia Sosial”, ucapnya sambil menunjukkan slide tentang itu.

UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) memuat beberapa pasal yang mengatur tentang etika bermedia sosial. Pasal-pasal tersebut, antara lain:

• Pasal 27 ayat (3): Larangan menyebarkan informasi yang tidak benar dan menyesatkan.

• Pasal 28 ayat (2): Larangan menyebarkan ujaran kebencian.

• Pasal 32 ayat (1): Larangan mencemarkan nama baik orang lain.

Kemudian menjelaskan yang terpampang di layar.

“UU ITE mengatur berbagai perlindungan hukum atas kegiatan yang memanfaatkan internet sebagai media, baik saat melakukan transaksi, pemanfaatan informasi maupun mengekspresikan diri pada sosmed. Maka dari itu kita harus bijak bermedia sosial dengan cara: 1. Menggunakan media sosial sesuai dengan kebutuhan. 2. Menjaga sikap dan etika dalam berinteraksi dengan pengguna lain. 3. Menyaring informasi yang didapat. 4. Menghindari akun-akun provokatif, dan terakhir 5. Memaksimalkan manfaat penggunaan media sosial”, ucapannya berhenti sejenak menatap semua yang hadir.

“Bapak Ibu, pada dasarnya ada lima hal yang harus kita perhatikan ketika akan berekspresi disosial media yang dikenal dengan “THINK” yang merupakan akronim dari is it True? T (Apakah informasi yang kita sampaikan benar) , is it Helpful? H (Apakah informasi yang kita sharing dapat membantu pembacanya), is it Inspiring? I (Apakah informasi yang kita sharing dapat menginspirasi), is it Necessary? N (Apakah informasi yang kita sharing itu diperlukan), dan is it Kind? K (Apakah informasi yang kita sharing itu baik/ bermanfaat). Jika Bapak Ibu menggunakan pedoman ‘THINK’ dalam mengekspresikan diri di Sosmed, Insyaallah konten Bapak Ibu akan memiliki value dan berkualitas. Jika Bapak Ibu menggunakan pedoman ‘THINK’ dalam mengekspresikan diri di Sosmed, Insyaallah konten Bapak Ibu akan memiliki value dan berkualitas”, penjelasannya tentanh akronim yang digunakan.

“Selain bijak dalam bermedia sosial kita juga harus menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab. Caranya bagaimana? Mari lihat di layar!”, sambil menunjukkan ke layar.

·       Bersikap sopan dan santun dalam berkomunikasi. Hindari penggunaan bahasa yang kasar dan menyinggung.

·       Menghormati privasi orang lain. Jangan menyebarkan informasi pribadi orang lain tanpa persetujuan mereka.

·       Tidak menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Selalu cek kebenaran informasi sebelum membagikannya.

·       Berfikir kritis sebelum membagikan konten. Pertimbangkan dampak konten yang Anda bagikan kepada orang lain.

·       Laporkan konten yang tidak pantas. Jika Anda menemukan konten yang melanggar etika, laporkan kepada platform media sosial terkait.

Setelah menjelaskan slide tentang bijak bersosmed, kemudian melanjutkan ke slide berikutnya.

“Mengapa Etika Bermedia Sosial Penting? Karena dapat :”, sambil menunjukkan ke slide.

·       Menciptakan ruang digital yang aman dan nyaman: Menghormati privasi, menghindari ujaran kebencian, dan menyebarkan informasi yang benar akan menciptakan lingkungan online yang kondusif bagi semua.

·       Melindungi diri dari bahaya: Etika dapat membantu mencegah cyberbullying, pelecehan online, dan penipuan.

·       Meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi: Berkomunikasi dengan sopan dan santun, serta menghargai pendapat orang lain akan membangun pertukaran informasi yang lebih positif dan produktif.

“Bapak Ibu pasti punya alasan tersendiri mengapa senang mengekspresikan diri di platform yang Bapak Ibu senangi. Berikut beberapa platform media sosial populer yang bisa Bapak Ibu ekspresikan diri : Instagram: Cocok untuk berbagi foto dan video pendek. TikTok: Platform video pendek yang sangat populer. YouTube: Ideal untuk membuat konten video yang lebih panjang. Twitter: Untuk berbagi pemikiran dan mengikuti tren. Facebook: Platform yang serbaguna, bisa digunakan untuk berbagai tujuan.

Mengekspresikan diri di media sosial memang menyenangkan, tapi juga penting untuk melakukannya dengan bijak”, ucapnya sambil menunjukkan medsos yang disebutkan ke layar.

“Berikut beberapa cara yang bisa Anda coba!”, sambil membuka slide berikutnya.

1.       Temukan Identitas Dirimu:

o   Passion dan minat: Apa yang paling kamu suka dan ingin bagikan? Bisa berupa hobi, minat, atau pandangan hidup.

o   Gaya pribadi: Bagaimana cara kamu ingin terlihat di mata orang lain? Apakah kamu ingin terlihat lucu, inspiratif, atau informatif?

o   Nilai-nilai: Apa yang kamu percaya dan ingin promosikan? Nilai-nilai ini akan menjadi panduan dalam membuat konten.

2.       Pilih Platform yang Tepat:

o   Sesuaikan dengan target audiens: Setiap platform memiliki pengguna dengan minat yang berbeda.

o   Perhatikan jenis konten: Apakah kamu lebih suka berbagi foto, video, tulisan, atau kombinasi semuanya?

3.       Buat Konten yang Menarik:

o   Otentik: Jadilah diri sendiri dan jangan takut untuk unik.

o   Bernilai: Tawarkan sesuatu yang bermanfaat atau menghibur bagi pengikutmu.

o   Visual yang menarik: Gunakan foto dan video berkualitas baik.

o   Tulisan yang jelas dan ringkas: Sampaikan pesanmu dengan efektif.

o   Gunakan hashtag yang relevan: Ini akan membantu orang lain menemukan kontenmu.

4.       Berinteraksi dengan Pengikut

o   Balas komentar: Tunjukkan bahwa kamu menghargai pendapat mereka.

o   Follow akun lain: Bangun koneksi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

o   Ikuti tren: Bergabunglah dalam percakapan yang sedang populer.

5.       Jaga Etika

o   Hormati orang lain: Hindari komentar yang kasar, menyinggung, atau diskriminatif.

o   Jangan menyebarkan hoaks: Pastikan informasi yang kamu bagikan akurat.

o   Lindungi privasi: Jangan terlalu banyak membagikan informasi pribadi.

“Contoh Konten yang bisa Bapak Ibu sesuai dengan passion Ibu Bapak: •              Jika  suka memasak: Bagikan resep, tips memasak, atau foto makanan yang menarik. • Jika suka menulis: Buat blog atau tulis puisi pendek. • Jika suka traveling: Bagikan cerita perjalanan dan foto-foto destinasi wisata. • Jika  suka menggambar: Posting karya seni kamu”, Rita memungkasi layar.

TERIMA KASIH

“Beri apresiasi buat Ibu Ritawati. Baik Bapak dan Ibu sekalian, kita buka sesi diskusi. Pak Amin, silakan!”, ujar Lely sambil bertepuk mic.

“Kita sebagai orang tua mungkin ada yang tidak lakukan konten/bahkan banyak yang melakukannya demi macam-macam tujuan. Nah saya sering sekali melihat anak-anak murid melakukan live di sekolah walau hanya menari-nari dsb. Sering sekali saya mengingatkan hatihati dan bijaksana dalam bermedia, banyak kejadian karena konten anak-anak kita terjerumus banyak hal mulai dari salah bergaul, terpedaya bahkan sampai tindakan kriminal. Dan juga bisa diam-diam melakukan konten di kamar dsb. tanpa sepengetahuan ortu. Nah, bagaimana kita bisa mengontrol prilaku ini?”, tanya Amin.

“Baik, terimakasih Pak, untuk pertanyaan yang luar biasa. Bapak dan ibu yang punya tips dan trik dalam mengontrol prilaku anak dalam bersosmed bisa sharing disini ya. Saat ini sebagai ortu dan guru ini adalah tantangan terbesar kita. Cara mengontrol prilaku anak dalam bersosmed: pertama, Lakukan komunikasi terbuka dengan anak , huat anak merasa nyaman menceritakan apa pun yang mereka lakukan dan alami tunjukkan kita peduli dan.siap mendengarkannya. Kedua, Jelaskan kepada mereka tentang bahaya yg timbul dr konten mereka, dan yang ketiga, Ajarkan bagaimana sosmed bekerja”, jawab Rita.

“Selanjutnya, Bu Marlina, dipersilakan!”, Lely berkata sambil memberikan mikropon kepada Marlina.

“Saya memiliki gaya belajar visual kinestetik, membaca sebuah keharusan bagi saya dan menulis membuat saya dapat menuangkan ide-ide yang berlintasan di kepala saya. Saya ingin dikenal sebagai penulis inspiritif. Mohon sarannya agar tulisan yg kita buat mencerminkan diri kita, hidup dan bisa menginspirasi pembaca. Jika dalam beberapa tulisan, kita menyelipkan karakter positif diri atau orang terdekat, apakah itu etis, akankah dipandang menyombongkan diri?”, ujar Marlina

“Terimakasih, Bu Marlina. Saya ucapkan selamat dengan gaya belajar ibu . Untuk menjadi penulis yang inspiratif kita harus banyak membaca dan menulis. Jika Ibu ingin menulis perjalanan hidup ibu hingga mencapai puncak kesuksesan silahkan saja Bu! Silahkan Ibu tuangkan bagaimana proses Ibu dari zero from hero. Hal tersebut akan menginspirasi bagi pembaca. Baik cara belajar yang saya lakukan saya banyak menjadi follower sang juara. Dari sana saya banyak belajar bagaimana mereka mengekspresikan diri di sosmed sangat menginspirasi dan jauh berbeda dari kita. Sehingga banyak saya ATM”, jawab Rita.

“Bu Yuyun, silakan!”, Lely mempersilakan dengan tangannya.

“Dengan adanya ruang yang tak terbatas dalam platform digital, bagaimana memastikan keaslian dan kejujuran dalam ekspresi diri di media digital?”, pertanyaan singkat Yuyun.

“Baik Bu Yuyun, salam kenal . Untuk masalah kejujuran kembali lagi dari pribadi yang mengekspresikan Bu, jika plagiat akan mudah terdeteksi. Jika kita ingin mengekspresikan diri, usahakan dari kita sendiri dengan  keunikan yang kita miliki jika ada ide yang sama it's ok, cara mengekspresikannya harus berbeda”, jawab Rita juga singkat.

“Selanjutnya, Pak P5 hehehe. Maaf Bu, Pak Aman sebagai koordintor P5. Jadi beliau dijuluki Pak P5 hehehe”, Lely bercanda.

“Terima kasih. Dengan kemajuan teknologi tentu saja ekspresi kita di dunia digital semakin tak terbatas. Misalnya, dengan adanya kecerdasan buatan Articiple Intelligent (AI), di awal peluncurannya bahkan similarity-nya 0%. Sejauh mana kita bisa memodifikasi karya kita dari AI?, terima kasih”, tanya Aman.

“Pak P5, hehehe. AI seperti Articiple Intelligent memberikan kita alat yang sangat powerful untuk menghasilkan konten. Namun, penting untuk diingat bahwa AI hanyalah alat bantu. Kreativitas dan pemikiran kritis manusia tetap menjadi faktor yang paling penting dalam menghasilkan karya yang berkualitas”, jawab Rita.

“Pak Winarno, silakan!”

“Teria kasi Bu Lely. Maaf Bu Rita ada tiga pertanyaa, boleh?”, Winarno menanyakannya.

“Oh silakan! Masih ada waktu?”, Rita bertanya kepada Lely.

“Masih cukup, Bu”, jawab Lely.

“Terima kasih. Pertama, Seberapa penting kejujuran dalam postingan media sosial? Kedua, Apakah media sosial mempengaruhi perilaku dan pikiran kita? Dan yang ketiga, Bagaimana media sosial dapat digunakan untuk membangun komunitas positif?”, Winarno mengucapkan pertanyaannya.

“Terimakasih untuk pertanyaannya Pak Winarno. Pertama, Sangat penting Pak , itu akan menjadi indikator untuk follower kita. Apalagi kita ingin dikenal sebagai konten creator. Kedua, Bisa berpengaruh. Contoh saja ketika kita memposting hasil karya siswa kita yang meraih juara. Maka akan ada komentar dari pembaca, ini akan mempengaruhi prilaku dan pikiran kita untuk melakukan hal yang lebih baik lagi kepada peserta didik kita. Yang ketiga, Untuk membangun komunitas positif silahkan bapak membuat grup misal berbagi praktik baik dan mengundang guru-guru untuk mengikuti kegiatan tersebut”, jawab Rita.

“Demikian, karena  waktu….”, Lely belum selesai ada yang memotongnya.

“Izin bertanya satu lagi Ibu...?”, Iga mengacungkan tangan.

“Bisa sesingkat-singkatnya?”, tanya Lely.

“Ada orang itu mengunggah SW atau apapun itu tanpa menyebutkan nama orng yang dituju. Contoh misalnya: SW itu ditujukan orang tertentu, dan yang menulis SW itu tahu betul kehidupan orang yang disindir. Nah apakah itu bisa masuk UU ITE?”, taya Iga.

“Baik Bu, kasus seperti itu banyak Bu, ya. Maka dari itu perlu bijak dalam bersosmed jangan sampai melakukan sindir-menyindir dalam sosmed. Jika menyebutkan inisial bisa kena pencemaran nama baik Bu”, jawab Rita singkat.

Closing, Bu”, Lely mempersilakan kepada Rita.

“Tips: • Konsisten: Posting secara teratur agar pengikutmu tetap tertarik. • Jangan terlalu fokus pada jumlah pengikut: Kualitas interaksi lebih penting. • Ambil jeda: Jangan terlalu sering online, berikan waktu untuk diri sendiri. Bpk/ibu mengekspresikan diri di media sosial adalah tentang menemukan suara unik kita dalam berbagi . Yang terpenting adalah tetap menjadi diri sendiri, patuhi aturan ITE, gunakan THINK dan nikmati prosesnya”, Ritawati mengakhiri sesinya.

Subang, 28-12-2024

Resume 12

HADISUSILO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar