Ruangan yang biasanya tak begitu enak dipandang, kini lebih tertata dan lumayan bisa dikatakan lebih pantas. Ruangan yang biasanya setiap meja penuh dengan buku pelajaran, buku tugas siswa, modul pembelajaran, tumpukan karya siswa, dan entah apalagi. Hari ini mulai dari kemarin, ruangan dibersihkan dari beberapa barang yang sebenarnya bukan ditempatkan di meja kerja. Pemandangan yang ada di atas meja hanyalah file box yang terdapat nama seperti nama yang ada di meja. Selain itu, ruangan juga berbau harum. Di depan terdapat sebuah meja panjang yang dihiasi dengan vas bunga, ada piring berisi buah-buahan, dan kue basah. Tiga botol minuman diletakkan di belakang tulisan. Di sisi kanan bertuliskan kepala sekolah, di tengah narasumber, dan paling kiri moderator. Di tembok sisi belakang meja panjang tertempel banner bertuliskan ‘Menegkspresikan Diri yang Baik di Media Sosial’.
Orang-orang
mulai berdatangan dan memasuki ruangan. Mereka sudah fasih dengan jalan anatar
meja dengan meja lainnya kemudian menempati mejanya sendiri-sendiri.
“Assalamu’alaikum
warahmatulullahi wabarakaatuh”, suara Lely menghentikan riuh obrolan setiap
orang.
Lely kemudian
dengan bla-bla-bla membawa mereka ke acara pokok.
“Sampailah kita
pada acara pokok, yaitu pemaparan materi ‘Menegkspresikan Diri yang Baik di
Media Sosial’, yang akan disampaikan oleh Ibu Ritawati, M.Pd. Beliau adalah terlahir
di Tanjungpinang dari orang tua berdarah minang. Masa kecil hingga remaja
penulis habiskan di Tanjungpinang Kepulauan Riau kemudian melanjutkan studi S1
di Yogyakarta. Pernah bekerja di Serang kemudian menikah dan kini menetap di
Bali. Pendidikan S2 Magister Teknik Informatika. Aktivitasnya Teacher
(SMP Negeri 2 Mendoyo), Blogger, Writer, Moderator, dan Youtuber HP
: 085219585451. Untuk menyingkat waktu selengkapnya lebih jauh tentang
narasumber kita ini nanti saya share”, Lely memperkenalkan narasumbernya
dan langsung memberikan kesempatan sepenuhnya kepada Rita.
“Terima kasih,
Bu Lely. Bapak kepala sekolah yang terhormat, Bapak, Ibu guru, yang saya
hormati dan saya kagumi, dan semua yang hadir disini yang mudah-mudahan
dimuliakan Allah. Salah satu indikator yang mengantarkan saya menjadi guru
inspiratif Kemendikbud tahun 2021 bisa jadi karena saya ‘mengekspresikan diri
di media sosial’. Karena pada saat itu saya mengangkat Praktik baik dengan
judul Literasi Blog dan Tutorial Youtube dalam Mengatasi Learning
Loss. Saya yakin jika saya TIDAK mengekspresikan Keterampilan Digital
saya lewat tulisan di blog dan youtube, tentu saja kecil harapan
saya bisa menjadi peserta terbaik guru inspiratif jenjang SMP ketika itu”, Rita
mmengawali ucapannya.
“Bapak Ibu,
kita lihat bersama di era serba Digital ini hampir semua kalangan banyak
mengekspresikan dirinya di media sosial. Banyak diantara mereka mendapatkan
penghasilan karena berhasil menjadi konten creator. Dan tidak sedikit
pula yang berurusan dengan hukum karena konten yang menyangkut, Pencemaran nama
baik, SARA dan hal lainnya yang melanggar hukum. Akhir-akhir ini ada yang viral
guru ASN yang resign karena ‘merasa lingkungannya yang toxic’
(kasus ini ada pro dan kontra dari netizen). Yang terbaru Guru yang
mengekspresikan kekecewaan terhadap tulisan siswa yang tidak bisa dibaca hingga
menyalahkan guru pada jenjang SD”, nana Rita serasa dipenuhi keprihatinan.
“Bapak Ibu yang
Budiman, mengekspresikan diri di media sosial ibarat berakting di panggung
virtual. Kita adalah individu yang mencari perhatian dan validasi dari orang
lain. Kita lihat bersama ratusan atau ribuan yang berteman dengan kita di
sosmed memiliki aneka ragam dalam mengekspresikan postingannya. Ada yang memposting tentang kegiatan
sehari-harinya, ada yang mengekspresikan di sosmed tentang hobinya, tentang
masalahnya, tentang perasannya dan lainnya”, sambil menunjukkan visual di layar
smart tivi besar.
“Bapak Ibu,
sebelum kita mengekspresikan diri pada sosial media ada baiknya kita ketahui
Landasan Hukum tentang Etika Bermedia Sosial”, ucapnya sambil menunjukkan slide
tentang itu.
UU
No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) memuat
beberapa pasal yang mengatur tentang etika bermedia sosial. Pasal-pasal
tersebut, antara lain:
•
Pasal 27 ayat (3): Larangan menyebarkan informasi yang tidak benar dan
menyesatkan.
•
Pasal 28 ayat (2): Larangan menyebarkan ujaran kebencian.
•
Pasal 32 ayat (1): Larangan mencemarkan nama baik orang lain.
Kemudian menjelaskan
yang terpampang di layar.
“UU ITE
mengatur berbagai perlindungan hukum atas kegiatan yang memanfaatkan internet
sebagai media, baik saat melakukan transaksi, pemanfaatan informasi maupun
mengekspresikan diri pada sosmed. Maka dari itu kita harus bijak bermedia
sosial dengan cara: 1. Menggunakan media sosial sesuai dengan kebutuhan. 2.
Menjaga sikap dan etika dalam berinteraksi dengan pengguna lain. 3. Menyaring
informasi yang didapat. 4. Menghindari akun-akun provokatif, dan terakhir 5.
Memaksimalkan manfaat penggunaan media sosial”, ucapannya berhenti sejenak
menatap semua yang hadir.
“Bapak Ibu,
pada dasarnya ada lima hal yang harus kita perhatikan ketika akan berekspresi
disosial media yang dikenal dengan “THINK” yang merupakan akronim dari is
it True? T (Apakah informasi yang kita sampaikan benar) , is it
Helpful? H (Apakah informasi yang kita sharing dapat membantu
pembacanya), is it Inspiring? I (Apakah informasi yang kita
sharing dapat menginspirasi), is it Necessary? N (Apakah
informasi yang kita sharing itu diperlukan), dan is it Kind? K (Apakah
informasi yang kita sharing itu baik/ bermanfaat). Jika Bapak Ibu menggunakan
pedoman ‘THINK’ dalam mengekspresikan diri di Sosmed, Insyaallah konten
Bapak Ibu akan memiliki value dan berkualitas. Jika Bapak Ibu
menggunakan pedoman ‘THINK’ dalam mengekspresikan diri di Sosmed,
Insyaallah konten Bapak Ibu akan memiliki value dan berkualitas”,
penjelasannya tentanh akronim yang digunakan.
“Selain bijak
dalam bermedia sosial kita juga harus menjadi pengguna media sosial yang
bertanggung jawab. Caranya bagaimana? Mari lihat di layar!”, sambil menunjukkan
ke layar.
·
Bersikap sopan dan santun dalam berkomunikasi.
Hindari penggunaan bahasa yang kasar dan menyinggung.
·
Menghormati privasi orang lain. Jangan
menyebarkan informasi pribadi orang lain tanpa persetujuan mereka.
·
Tidak menyebarkan informasi yang belum tentu
benar. Selalu cek kebenaran informasi sebelum membagikannya.
·
Berfikir kritis sebelum membagikan konten.
Pertimbangkan dampak konten yang Anda bagikan kepada orang lain.
·
Laporkan konten yang tidak pantas. Jika Anda
menemukan konten yang melanggar etika, laporkan kepada platform media
sosial terkait.
Setelah menjelaskan
slide tentang bijak bersosmed, kemudian melanjutkan ke slide
berikutnya.
“Mengapa Etika
Bermedia Sosial Penting? Karena dapat :”, sambil menunjukkan ke slide.
·
Menciptakan ruang digital yang aman dan nyaman:
Menghormati privasi, menghindari ujaran kebencian, dan menyebarkan informasi
yang benar akan menciptakan lingkungan online yang kondusif bagi semua.
·
Melindungi diri dari bahaya: Etika dapat
membantu mencegah cyberbullying, pelecehan online, dan penipuan.
·
Meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi:
Berkomunikasi dengan sopan dan santun, serta menghargai pendapat orang lain
akan membangun pertukaran informasi yang lebih positif dan produktif.
“Bapak Ibu
pasti punya alasan tersendiri mengapa senang mengekspresikan diri di platform
yang Bapak Ibu senangi. Berikut beberapa platform media sosial populer
yang bisa Bapak Ibu ekspresikan diri : Instagram: Cocok untuk berbagi foto dan
video pendek. TikTok: Platform video pendek yang sangat populer. YouTube:
Ideal untuk membuat konten video yang lebih panjang. Twitter: Untuk
berbagi pemikiran dan mengikuti tren. Facebook: Platform yang
serbaguna, bisa digunakan untuk berbagai tujuan.
Mengekspresikan
diri di media sosial memang menyenangkan, tapi juga penting untuk melakukannya
dengan bijak”, ucapnya sambil menunjukkan medsos yang disebutkan ke layar.
“Berikut
beberapa cara yang bisa Anda coba!”, sambil membuka slide berikutnya.
1.
Temukan Identitas Dirimu:
o
Passion dan minat: Apa yang paling kamu
suka dan ingin bagikan? Bisa berupa hobi, minat, atau pandangan hidup.
o
Gaya pribadi: Bagaimana cara kamu ingin terlihat
di mata orang lain? Apakah kamu ingin terlihat lucu, inspiratif, atau
informatif?
o
Nilai-nilai: Apa yang kamu percaya dan ingin
promosikan? Nilai-nilai ini akan menjadi panduan dalam membuat konten.
2.
Pilih Platform yang Tepat:
o
Sesuaikan dengan target audiens: Setiap platform
memiliki pengguna dengan minat yang berbeda.
o
Perhatikan jenis konten: Apakah kamu lebih suka
berbagi foto, video, tulisan, atau kombinasi semuanya?
3.
Buat Konten yang Menarik:
o
Otentik: Jadilah diri sendiri dan jangan takut
untuk unik.
o
Bernilai: Tawarkan sesuatu yang bermanfaat atau
menghibur bagi pengikutmu.
o
Visual yang menarik: Gunakan foto dan video
berkualitas baik.
o
Tulisan yang jelas dan ringkas: Sampaikan
pesanmu dengan efektif.
o
Gunakan hashtag yang relevan: Ini akan membantu
orang lain menemukan kontenmu.
4.
Berinteraksi dengan Pengikut
o
Balas komentar: Tunjukkan bahwa kamu menghargai
pendapat mereka.
o
Follow akun lain: Bangun koneksi dengan
orang-orang yang memiliki minat yang sama.
o
Ikuti tren: Bergabunglah dalam percakapan yang
sedang populer.
5.
Jaga Etika
o
Hormati orang lain: Hindari komentar yang kasar,
menyinggung, atau diskriminatif.
o
Jangan menyebarkan hoaks: Pastikan informasi
yang kamu bagikan akurat.
o
Lindungi privasi: Jangan terlalu banyak
membagikan informasi pribadi.
“Contoh Konten
yang bisa Bapak Ibu sesuai dengan passion Ibu Bapak: • Jika suka
memasak: Bagikan resep, tips memasak, atau foto makanan yang menarik. • Jika
suka menulis: Buat blog atau tulis puisi pendek. • Jika suka traveling:
Bagikan cerita perjalanan dan foto-foto destinasi wisata. • Jika suka menggambar: Posting karya seni kamu”, Rita
memungkasi layar.
TERIMA KASIH
“Beri apresiasi
buat Ibu Ritawati. Baik Bapak dan Ibu sekalian, kita buka sesi diskusi. Pak
Amin, silakan!”, ujar Lely sambil bertepuk mic.
“Kita sebagai
orang tua mungkin ada yang tidak lakukan konten/bahkan banyak yang melakukannya
demi macam-macam tujuan. Nah saya sering sekali melihat anak-anak murid
melakukan live di sekolah walau hanya menari-nari dsb. Sering sekali saya
mengingatkan hatihati dan bijaksana dalam bermedia, banyak kejadian karena
konten anak-anak kita terjerumus banyak hal mulai dari salah bergaul, terpedaya
bahkan sampai tindakan kriminal. Dan juga bisa diam-diam melakukan konten di
kamar dsb. tanpa sepengetahuan ortu. Nah, bagaimana kita bisa mengontrol
prilaku ini?”, tanya Amin.
“Baik,
terimakasih Pak, untuk pertanyaan yang luar biasa. Bapak dan ibu yang punya
tips dan trik dalam mengontrol prilaku anak dalam bersosmed bisa sharing
disini ya. Saat ini sebagai ortu dan guru ini adalah tantangan terbesar kita. Cara
mengontrol prilaku anak dalam bersosmed: pertama, Lakukan komunikasi terbuka
dengan anak , huat anak merasa nyaman menceritakan apa pun yang mereka lakukan
dan alami tunjukkan kita peduli dan.siap mendengarkannya. Kedua, Jelaskan kepada
mereka tentang bahaya yg timbul dr konten mereka, dan yang ketiga, Ajarkan
bagaimana sosmed bekerja”, jawab Rita.
“Selanjutnya,
Bu Marlina, dipersilakan!”, Lely berkata sambil memberikan mikropon kepada
Marlina.
“Saya memiliki
gaya belajar visual kinestetik, membaca sebuah keharusan bagi saya dan menulis
membuat saya dapat menuangkan ide-ide yang berlintasan di kepala saya. Saya
ingin dikenal sebagai penulis inspiritif. Mohon sarannya agar tulisan yg kita
buat mencerminkan diri kita, hidup dan bisa menginspirasi pembaca. Jika dalam
beberapa tulisan, kita menyelipkan karakter positif diri atau orang terdekat,
apakah itu etis, akankah dipandang menyombongkan diri?”, ujar Marlina
“Terimakasih, Bu
Marlina. Saya ucapkan selamat dengan gaya belajar ibu . Untuk menjadi penulis
yang inspiratif kita harus banyak membaca dan menulis. Jika Ibu ingin menulis
perjalanan hidup ibu hingga mencapai puncak kesuksesan silahkan saja Bu! Silahkan
Ibu tuangkan bagaimana proses Ibu dari zero from hero. Hal
tersebut akan menginspirasi bagi pembaca. Baik cara belajar yang saya lakukan
saya banyak menjadi follower sang juara. Dari sana saya banyak belajar
bagaimana mereka mengekspresikan diri di sosmed sangat menginspirasi dan jauh
berbeda dari kita. Sehingga banyak saya ATM”, jawab Rita.
“Bu Yuyun,
silakan!”, Lely mempersilakan dengan tangannya.
“Dengan adanya
ruang yang tak terbatas dalam platform digital, bagaimana memastikan
keaslian dan kejujuran dalam ekspresi diri di media digital?”, pertanyaan
singkat Yuyun.
“Baik Bu Yuyun,
salam kenal . Untuk masalah kejujuran kembali lagi dari pribadi yang
mengekspresikan Bu, jika plagiat akan mudah terdeteksi. Jika kita ingin
mengekspresikan diri, usahakan dari kita sendiri dengan keunikan yang kita miliki jika ada ide yang sama
it's ok, cara mengekspresikannya harus berbeda”, jawab Rita juga
singkat.
“Selanjutnya,
Pak P5 hehehe. Maaf Bu, Pak Aman sebagai koordintor P5. Jadi beliau dijuluki
Pak P5 hehehe”, Lely bercanda.
“Terima kasih.
Dengan kemajuan teknologi tentu saja ekspresi kita di dunia digital semakin tak
terbatas. Misalnya, dengan adanya kecerdasan buatan Articiple Intelligent
(AI), di awal peluncurannya bahkan similarity-nya 0%. Sejauh mana kita
bisa memodifikasi karya kita dari AI?, terima kasih”, tanya Aman.
“Pak P5,
hehehe. AI seperti Articiple Intelligent memberikan kita
alat yang sangat powerful untuk menghasilkan konten. Namun, penting
untuk diingat bahwa AI hanyalah alat bantu. Kreativitas dan pemikiran
kritis manusia tetap menjadi faktor yang paling penting dalam menghasilkan
karya yang berkualitas”, jawab Rita.
“Pak Winarno,
silakan!”
“Teria kasi Bu
Lely. Maaf Bu Rita ada tiga pertanyaa, boleh?”, Winarno menanyakannya.
“Oh silakan!
Masih ada waktu?”, Rita bertanya kepada Lely.
“Masih cukup,
Bu”, jawab Lely.
“Terima kasih.
Pertama, Seberapa penting kejujuran dalam postingan media sosial? Kedua, Apakah
media sosial mempengaruhi perilaku dan pikiran kita? Dan yang ketiga, Bagaimana
media sosial dapat digunakan untuk membangun komunitas positif?”, Winarno
mengucapkan pertanyaannya.
“Terimakasih
untuk pertanyaannya Pak Winarno. Pertama, Sangat penting Pak , itu akan menjadi
indikator untuk follower kita. Apalagi kita ingin dikenal sebagai konten
creator. Kedua, Bisa berpengaruh. Contoh saja ketika kita memposting
hasil karya siswa kita yang meraih juara. Maka akan ada komentar dari pembaca,
ini akan mempengaruhi prilaku dan pikiran kita untuk melakukan hal yang lebih
baik lagi kepada peserta didik kita. Yang ketiga, Untuk membangun komunitas
positif silahkan bapak membuat grup misal berbagi praktik baik dan mengundang
guru-guru untuk mengikuti kegiatan tersebut”, jawab Rita.
“Demikian,
karena waktu….”, Lely belum selesai ada
yang memotongnya.
“Izin bertanya satu
lagi Ibu...?”, Iga mengacungkan tangan.
“Bisa
sesingkat-singkatnya?”, tanya Lely.
“Ada orang itu
mengunggah SW atau apapun itu tanpa menyebutkan nama orng yang dituju. Contoh
misalnya: SW itu ditujukan orang tertentu, dan yang menulis SW itu tahu betul
kehidupan orang yang disindir. Nah apakah itu bisa masuk UU ITE?”, taya Iga.
“Baik Bu, kasus
seperti itu banyak Bu, ya. Maka dari itu perlu bijak dalam bersosmed jangan
sampai melakukan sindir-menyindir dalam sosmed. Jika menyebutkan inisial bisa
kena pencemaran nama baik Bu”, jawab Rita singkat.
“Closing,
Bu”, Lely mempersilakan kepada Rita.
“Tips: • Konsisten: Posting secara teratur agar
pengikutmu tetap tertarik. • Jangan terlalu fokus pada jumlah pengikut:
Kualitas interaksi lebih penting. • Ambil jeda: Jangan terlalu sering online,
berikan waktu untuk diri sendiri. Bpk/ibu mengekspresikan diri di media sosial
adalah tentang menemukan suara unik kita dalam berbagi . Yang terpenting adalah
tetap menjadi diri sendiri, patuhi aturan ITE, gunakan THINK dan nikmati
prosesnya”, Ritawati mengakhiri sesinya.
Subang, 28-12-2024
Resume 12
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar