Total Tayangan Halaman

Minggu, 29 Desember 2024

RAMA SINTA

 Tiiiit. Suara klakson mobil yang berhenti di sebuah rumah indah nan asri. Tak lama kemudian keluarlah Sintayani, seorang gadis dengan pakaian kebaya modern warna navy selaras dengan warna batik yang digunakan Ramadani.

“Sepi?”, tanya Rama.

“Bapak sama ibu olga”, jawab Sinta.

Tak menunggu lama mereka berdua sudah berada di keramaian jalan. Tak banyak yang dibicarakan dalam perjalanan dari rumah sampai jalan raya. Sinta sibuk dengan hapenya.

“Ngobrol dong!”, ujar Rama.

“Sebel, tiap buka LinkedIn ‘Untuk rekan-rekan yang masih mencari pekerjaan, terus semangat, dan jangan menyerah, sedikit informasi, kamu bisa cari kerja melalui https://lnkd.in/gQ5pTQK7. Kemudian disarankan via WA dengan tulisan: ”Selamat pagi, nama saya [xx] yang sudah interview untuk posisi [xx] pada [TANGGAL & WAKTU], sudah [xx] hari sejak interview terakhir dan saya belum menerima hasil dari interview, jadi jika sudah ada hasilnya, saya harap saya diberitahu perihal tersebut. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih." Atau, ah sudahlah”, ucap Sinta kesal.

Rama tak menanggapi dengan serius apa yang diucapkan kekasihnya itu. Kemudian ia memilih memutar radio untuk mengalihkan pembicaraan.

“Selamat pagi kakak-kakak. Pada pagi ini menemani perjalanan kakak, kami sajikan lagu-lagu sambil bincang-bincang seputar Literasi Digital ‘Menciptakan Kemampuan dan Kesempatan’ bersama aku Jay si ganteng kelam, hehehe”, demikian suara yang terdengar dari radio yang baru saja ditemukan gelombangnya.

“Literasi digital memang membuka peluang dan kesempatan luas bagi individu, masyarakat dan bangsa. Lalu apa manfaatnya?”, Jay sang penyiar bicara sendiri.

Rama memperhatikan jalan yang agak ramai. Sementara Sinta diam-diam menyimak dengan menambah volume radio.

“Manfaat Individu yang pertama, Meningkatkan kemampuan mengakses informasi. Kemudian, Membangun keterampilan berpikir kritis. Yang ketiga, Mengembangkan kemampuan berkomunikasi efektif. Dan yang keempat, Meningkatkan kesadaran akan keamanan online. Terakhir, Membuka peluang kerja dan wirausaha”, suara Jay yang ngebas tapi enak di telinga.

Sinta menyimak dengan seksama. Rama tetap fokus pada jalanan yang masih padat merayap namun bisa dipacu dengan kecepatan sedang. Di radio terdengar musik yang mengiringi penyiar yang berbicara.

“Kakak-kakak yang setia, manfaatnya bisa buat masyarakat dan bangsa, tapi nggak aku sampaikan ya ntar dikira uih patriotism niye, hehehe”, Jay bercanda.

“Dengan literasi digital ini akan menciptakan Peluang Baru seperti Pendidikan online, Wirausaha digital, Kerja remote, Pengembangan aplikasi, dan Konten kreator”, lanjutnya.

Sinta semakin serius mendengarkannya. Volume suaranya ditambah satu level.

“Bagaimana untuk meningkatkan literasi digital? Nah, kakak-kakak bisa melalui Pendidikan formal dan non-formal, Pelatihan dan workshop, Kampanye kesadaran, Pengembangan infrastruktur digital, dan juga  Kolaborasi antara pemerintah, industri dan masyarakat”, tambahnya.

“Demikian yang bersumber dari UNESCO: Literasi Media dan Informasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta World Economic Forum. Literasi Digital: Kunci Kemampuan dan Kesempatan di Era Digital”, Jay mengakhiri sesi pertamanya dengan memutarkan sebuah lagu Terlukis Indah - Rizky Febian feat Ziva Magnolya.

“Serius bener, Yang?”, Rama berucap sambil melirik ke arah Sinta. Sinta hanya tersenyum sambil menikmati lagu sambil menirukannya.

“Baik kaka-kakak, terima kasih masih bersama aku, Jay ganteng kalem. Literasi digital telah menjadi kebutuhan fundamental di era digital saat ini. Kemampuan memahami, mengakses, dan menggunakkan teknologi digital secara efektif membuka peluang dan kesempatan baru bagi individu, masyarakat, dan bangsa. Apa sih sebenarnya Manfaat Literasi Digital?”, Jay terdengar bertanya pada pendengarnya.

Sinta bercermin membenarkan wajahnya sehabis meneguk air mineral. Sesekali melihat ke hapenya, kalau-kalau ada pesan masuk.

“Kaka-kakak, literasi digital dapat Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis: Literasi digital membantu individu membedakan informasi akurat dan palsu. Selain itu dapat Membangun Keterampilan Berkomunikasi: Kemampuan berkomunikasi efektif melalui media digital. Dapat pula Mengembangkan Kesadaran Keamanan Online: Melindungi diri dari ancaman cyber. Mungkin juga dapat Membuka Peluang Kerja dan Wirausaha: Meningkatkan daya saing di pasar kerja global. Atau dapat Meningkatkan Kualitas Pendidikan: Akses ke sumber belajar online”, tegas Jay.

Jalan yang berkelak-kelok menyebabkan kendaraan tak bisa dipacu dengan kecepatan tinggi. Aplagi disertai dengan tanjakan. Sinta menikmati perjalanan karena bersama kekasih hatinya.

“Jadi kesimpulannya; Literasi digital merupakan kunci untuk membuka kemampuan dan kesempatan baru. Dengan meningkatkan kemampuan literasi digital, kita dapat menciptakan masyarakat yang berpengetahuan, berinovasi, dan berdaya saing” Jay menutup sesi 2 dengan disertai dengan lagu Tentang Dirimu - Raisa.

“Kaka-kakak, ada pesan masuk ‘Apa itu literasi digital?’ Nah, yang dimaksud dengan Literasi digital adalah kemampuan untuk memahami, mengakses, dan menggunakkan teknologi digital secara efektif dan bijak. Ini mencakup: Kemampuan Utama yaitu Mengakses dan mencari informasi online. Kemudian Membuat keputusan berdasarkan informasi online. Selain itun juga Berkomunikasi efektif melalui media digital. Bisa juga Menggunakan teknologi digital untuk belajar dan berkarya. Dan Mengenali dan melindungi diri dari ancaman online (keamanan cyber). Literasi digital juga meliputi aspek satu, Literasi informasi: memahami sumber dan keakuratan informasi. Dua, Literasi media: memahami bahasa dan struktur media digital. Tiga,  Literasi teknologi: memahami cara kerja perangkat dan aplikasi. Empat, Literasi etika: memahami norma dan etika online. Lima, Literasi keamanan: melindungi diri dari ancaman cyber. Ini dikutip dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Juga dari UNESCO: Literasi Media dan Informasi. Kemudian dari World Economic Forum. Dan dari  Situs web pendidikan online seperti Coursera, edX”, Jay memaparkan dengan jelas.

“Yang, AC-nya dimatiin dulu, ya! Biar bertenaga”, ucap Rama.

“Sok, aja”, jawab Sinta singkat.

“Mengapa sih kita perlu belajar literasi digital? Apa urgensinya”, Jay bersuara dengan nada bertanya.

“ Sebenarnya kita perlu belajar literasi digital karena: Alasan Utama dapat Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam mencari informasi online. Juga bisa Menghindari penyebaran informasi palsu (hoax).  Bisa Melindungi diri dari ancaman cyber (keamanan online).  Bisa juga Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesempatan kerja. Dan juga bisa Membuka peluang wirausaha dan inovasi”, ujar Jay.

“Kakak-kakak kalau Belajar literasi digital akan membantu kita menjadi warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Nah, Bagaimana cara kita belajar literasi digital sehingga mampu memberikan kemampuan dan kesempatan?”, tanya Jay lagi.

“Nah, ini tips belajar literasi digital untuk meningkatkan kemampuan dan kesempatan. Belajar Mandiri seperti Kursus online: Coursera, edX, Udemy, Situs web pendidikan: Kemenkominfo, UNESCO, World Economic Forum, Buku "Literasi Digital" oleh Kemenkominfo, atau Aplikasi pembelajaran: Google Digital Garage, Microsoft Learn” lanjut Jay.

Perjalanan melambat bukan karena kelokan dan tanjakan tetapi karena padatnya kendaraan yang entah akan bepergian kemana.

“Kakak-kakak juga bisa Pelatihan dan Workshop dari Pelatihan literasi digital Kemenkominfo, Workshop UNESCO, atau Konferensi teknologi, bisa juga Pelatihan di institusi pendidikan. Selain itu bisa juga mengikuti Komunitas dan Forum di Grup Facebook "Literasi Digital Indonesia" atau Forum Komenkominfo atau juga Komunitas teknologi atau Diskusi online. Dikutip dari  YouTube: channel teknologi dan pendidikan, Podcast: "Literasi Digital" dan "Teknologi", Blog teknologi dan Situs web berita teknologi”, sambung Jay.

Suara Jay berhenti digantikan dengan alunan suara Judika dengan judulnya ‘Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik-Baik Saja’.

“Kakak-kakak, jangan bosen, ya! Masih ada beberapa informasi tentang topik kita. Apa itu cakap digital?”, jay lagi-lagi bertanya dan lagi-lagi taka da yang menjawabnya.

“Cakap digital adalah kemampuan berkomunikasi efektif dan bijak melalui media digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, dan email. Cakap digital dengan Aspek Utama: Komunikasi yang jelas dan efektif, Penggunaan bahasa yang tepat dan sopan, Kemampuan memahami audiens dan konteks, Penggunaan teknologi komunikasi secara bijak, dan Kesadaran akan etika dan keamanan online. Selain itu juga ada Keterampilan Cakap Digital yang mencakup: Menulis pesan yang efektif, Berbicara dengan bahasa yang tepat, Menggunakan emoji dan simbol dengan bijak, Memahami nuansa bahasa online, Menghindari kesalahan ketik dan tata Bahasa dan Menggunakan bahasa yang inklusif dan tidak diskriminatif”, tambah Jay.

“Nah, ini juga penting. Apa itu aman digital? Samakah dengan keamanan digital? Aman digital dan keamanan digital memiliki makna yang terkait namun tidak sama. Aman digital merujuk pada kondisi di mana individu atau organisasi terlindungi dari berbagai ancaman digital, seperti: Serangan siber (hacking, malware), Penipuan online (phishing, scam), Kebocoran data pribadi, Penggunaan teknologi yang tidak etis, dan Ketergantungan pada teknologi. Aman digital ini mencakup aspek Keamanan fisik (perangkat keras), Keamanan logis (perangkat lunak), Keamanan psikologis (perlindungan mental), dan Keamanan sosial (perlindungan dari penipuan). Terus, Keamanan digital yaitu upaya untuk melindungi sistem, jaringan, dan data dari ancaman digital. Perbedaan Utama, kalau Aman digital lebih fokus pada keselamatan individu dan organisasi secara keseluruhan sedangkan Keamanan digital lebih fokus pada teknologi dan system”, Jay menyampaikan dengan santai.

“Lalu bagaimana agar kemanan yang aman? Tips Meningkatkan Aman Digital; Gunakan kata sandi kuat, Aktifkan autentikasi dua faktor, Perbarui perangkat lunak, Gunakan antivirus, Berhati-hati dengan email dan link mencurigakan, Lindungi data pribadi, dan Ikuti pedoman keamanan digital. Dikutip dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, UNESCO, World Economic Forum, dan Buku "Aman Digital" oleh Kemenkominfo”, tambahnya.

“Sebelum kita ke etika digital, nikmati persembahan alunan  Ingkar – Tulus!”, Jay memutarkan lagunya.

Sinta kembali membuka-buka hapenya sambil menyimak lagu yang diputarkan sang penyiar. Rama menguap karena jalan melambat.

“Sampai pada apa itu etika digital? Etika digital adalah prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai yang mengatur perilaku individu dan organisasi dalam menggunakan teknologi digital. Etika digital mencakup Aspek Utama; Privasi: melindungi informasi pribadi, Keamanan: melindungi data dari akses tidak sah, Hak cipta: menghormati karya orang lain, Kebenaran: menghindari penyebaran informasi palsu, Kesopanan: berkomunikasi dengan hormat, Keterbukaan: transparansi dalam berinteraksi online, dan Tanggung jawab: bertanggung jawab atas tindakan online. Selain itu juga memiliki Prinsip Etika Digital yaitu Jangan menyebarluaskan informasi palsu, Hormati hak cipta orang lain, Jangan mengakses data pribadi tanpa izin,  Berkomunikasi dengan sopan dan hormat, Lindungi data pribadi, Jangan menggunakan teknologi untuk melakukan kejahatan, dan Bertanggung jawab atas tindakan online. Etika Digital juga bermanfaat antara lain; Meningkatkan kepercayaan online, Melindungi reputasi, Meningkatkan kesadaran akan keamanan, Membangun komunitas yang beretika, dan Mengurangi risiko hukum. Dikutip dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, UNESCO, World Economic Forum, Buku "Etika Digital" oleh Kemenkominfo, dan Jurnal "Etika Digital dan Masyarakat" oleh Universitas Indonesia. Kakak-kakak semuanya, mudah-mudah-mudahan apa yang Jay sampaikan bisa menjadi referensi kakak-kakak. Acara ini Jay pungkasi dengan sebuah tembang ‘Pesan Terakhir’ alunan Lyodra. Terima kasih, Wassalamu’alaikum, bye-bye”, Jay mengakhiri siarannya dengan memutar lagunya.

Subang, 29-12-2024

Resume 14

HADISUSILO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar