Tiiiit. Suara klakson mobil yang berhenti di sebuah rumah indah nan asri. Tak lama kemudian keluarlah Sintayani, seorang gadis dengan pakaian kebaya modern warna navy selaras dengan warna batik yang digunakan Ramadani.
“Sepi?”, tanya
Rama.
“Bapak sama ibu
olga”, jawab Sinta.
Tak menunggu
lama mereka berdua sudah berada di keramaian jalan. Tak banyak yang dibicarakan
dalam perjalanan dari rumah sampai jalan raya. Sinta sibuk dengan hapenya.
“Ngobrol dong!”,
ujar Rama.
“Sebel, tiap
buka LinkedIn ‘Untuk rekan-rekan yang masih mencari pekerjaan, terus semangat,
dan jangan menyerah, sedikit informasi, kamu bisa cari kerja melalui https://lnkd.in/gQ5pTQK7. Kemudian
disarankan via WA dengan tulisan: ”Selamat pagi, nama saya [xx] yang sudah
interview untuk posisi [xx] pada [TANGGAL & WAKTU], sudah [xx] hari sejak
interview terakhir dan saya belum menerima hasil dari interview, jadi jika
sudah ada hasilnya, saya harap saya diberitahu perihal tersebut. Atas
perhatiannya, saya ucapkan terima kasih." Atau, ah sudahlah”, ucap Sinta
kesal.
Rama tak
menanggapi dengan serius apa yang diucapkan kekasihnya itu. Kemudian ia memilih
memutar radio untuk mengalihkan pembicaraan.
“Selamat pagi
kakak-kakak. Pada pagi ini menemani perjalanan kakak, kami sajikan lagu-lagu sambil
bincang-bincang seputar Literasi Digital ‘Menciptakan Kemampuan dan Kesempatan’
bersama aku Jay si ganteng kelam, hehehe”, demikian suara yang terdengar dari
radio yang baru saja ditemukan gelombangnya.
“Literasi
digital memang membuka peluang dan kesempatan luas bagi individu, masyarakat
dan bangsa. Lalu apa manfaatnya?”, Jay sang penyiar bicara sendiri.
Rama memperhatikan
jalan yang agak ramai. Sementara Sinta diam-diam menyimak dengan menambah
volume radio.
“Manfaat
Individu yang pertama, Meningkatkan kemampuan mengakses informasi. Kemudian, Membangun
keterampilan berpikir kritis. Yang ketiga, Mengembangkan kemampuan
berkomunikasi efektif. Dan yang keempat, Meningkatkan kesadaran akan keamanan online.
Terakhir, Membuka peluang kerja dan wirausaha”, suara Jay yang ngebas tapi enak
di telinga.
Sinta menyimak
dengan seksama. Rama tetap fokus pada jalanan yang masih padat merayap namun
bisa dipacu dengan kecepatan sedang. Di radio terdengar musik yang mengiringi
penyiar yang berbicara.
“Kakak-kakak
yang setia, manfaatnya bisa buat masyarakat dan bangsa, tapi nggak aku
sampaikan ya ntar dikira uih patriotism niye, hehehe”, Jay bercanda.
“Dengan
literasi digital ini akan menciptakan Peluang Baru seperti Pendidikan online,
Wirausaha digital, Kerja remote, Pengembangan aplikasi, dan Konten
kreator”, lanjutnya.
Sinta semakin
serius mendengarkannya. Volume suaranya ditambah satu level.
“Bagaimana untuk
meningkatkan literasi digital? Nah, kakak-kakak bisa melalui Pendidikan formal
dan non-formal, Pelatihan dan workshop, Kampanye kesadaran, Pengembangan
infrastruktur digital, dan juga Kolaborasi antara pemerintah, industri dan
masyarakat”, tambahnya.
“Demikian yang bersumber
dari UNESCO: Literasi Media dan Informasi, Kementerian Komunikasi dan
Informatika, serta World Economic Forum. Literasi Digital: Kunci Kemampuan dan
Kesempatan di Era Digital”, Jay mengakhiri sesi pertamanya dengan memutarkan
sebuah lagu Terlukis Indah - Rizky Febian feat Ziva Magnolya.
“Serius bener,
Yang?”, Rama berucap sambil melirik ke arah Sinta. Sinta hanya tersenyum sambil
menikmati lagu sambil menirukannya.
“Baik
kaka-kakak, terima kasih masih bersama aku, Jay ganteng kalem. Literasi digital
telah menjadi kebutuhan fundamental di era digital saat ini. Kemampuan
memahami, mengakses, dan menggunakkan teknologi digital secara efektif membuka
peluang dan kesempatan baru bagi individu, masyarakat, dan bangsa. Apa sih sebenarnya
Manfaat Literasi Digital?”, Jay terdengar bertanya pada pendengarnya.
Sinta bercermin
membenarkan wajahnya sehabis meneguk air mineral. Sesekali melihat ke hapenya,
kalau-kalau ada pesan masuk.
“Kaka-kakak,
literasi digital dapat Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis: Literasi digital
membantu individu membedakan informasi akurat dan palsu. Selain itu dapat Membangun
Keterampilan Berkomunikasi: Kemampuan berkomunikasi efektif melalui media
digital. Dapat pula Mengembangkan Kesadaran Keamanan Online: Melindungi
diri dari ancaman cyber. Mungkin juga dapat Membuka Peluang Kerja dan
Wirausaha: Meningkatkan daya saing di pasar kerja global. Atau dapat Meningkatkan
Kualitas Pendidikan: Akses ke sumber belajar online”, tegas Jay.
Jalan yang
berkelak-kelok menyebabkan kendaraan tak bisa dipacu dengan kecepatan tinggi. Aplagi
disertai dengan tanjakan. Sinta menikmati perjalanan karena bersama kekasih
hatinya.
“Jadi
kesimpulannya; Literasi digital merupakan kunci untuk membuka kemampuan dan
kesempatan baru. Dengan meningkatkan kemampuan literasi digital, kita dapat
menciptakan masyarakat yang berpengetahuan, berinovasi, dan berdaya saing” Jay
menutup sesi 2 dengan disertai dengan lagu Tentang Dirimu - Raisa.
“Kaka-kakak,
ada pesan masuk ‘Apa itu literasi digital?’ Nah, yang dimaksud dengan Literasi
digital adalah kemampuan untuk memahami, mengakses, dan menggunakkan teknologi
digital secara efektif dan bijak. Ini mencakup: Kemampuan Utama yaitu Mengakses
dan mencari informasi online. Kemudian Membuat keputusan berdasarkan informasi
online. Selain itun juga Berkomunikasi efektif melalui media digital. Bisa juga
Menggunakan teknologi digital untuk belajar dan berkarya. Dan Mengenali dan
melindungi diri dari ancaman online (keamanan cyber). Literasi digital
juga meliputi aspek satu, Literasi informasi: memahami sumber dan keakuratan
informasi. Dua, Literasi media: memahami bahasa dan struktur media digital. Tiga,
Literasi teknologi: memahami cara kerja
perangkat dan aplikasi. Empat, Literasi etika: memahami norma dan etika online.
Lima, Literasi keamanan: melindungi diri dari ancaman cyber. Ini dikutip
dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Juga dari UNESCO:
Literasi Media dan Informasi. Kemudian dari World Economic Forum. Dan dari
Situs web pendidikan online
seperti Coursera, edX”, Jay memaparkan dengan jelas.
“Yang, AC-nya
dimatiin dulu, ya! Biar bertenaga”, ucap Rama.
“Sok, aja”,
jawab Sinta singkat.
“Mengapa sih kita
perlu belajar literasi digital? Apa urgensinya”, Jay bersuara dengan nada
bertanya.
“ Sebenarnya kita
perlu belajar literasi digital karena: Alasan Utama dapat Meningkatkan
kemampuan berpikir kritis dalam mencari informasi online. Juga bisa Menghindari
penyebaran informasi palsu (hoax).
Bisa Melindungi diri dari ancaman cyber (keamanan online). Bisa juga Meningkatkan kualitas pendidikan
dan kesempatan kerja. Dan juga bisa Membuka peluang wirausaha dan inovasi”,
ujar Jay.
“Kakak-kakak
kalau Belajar literasi digital akan membantu kita menjadi warga digital yang
cerdas dan bertanggung jawab. Nah, Bagaimana cara kita belajar literasi digital
sehingga mampu memberikan kemampuan dan kesempatan?”, tanya Jay lagi.
“Nah, ini tips belajar
literasi digital untuk meningkatkan kemampuan dan kesempatan. Belajar Mandiri
seperti Kursus online: Coursera, edX, Udemy, Situs web
pendidikan: Kemenkominfo, UNESCO, World Economic Forum, Buku
"Literasi Digital" oleh Kemenkominfo, atau Aplikasi pembelajaran: Google
Digital Garage, Microsoft Learn” lanjut Jay.
Perjalanan melambat
bukan karena kelokan dan tanjakan tetapi karena padatnya kendaraan yang entah
akan bepergian kemana.
“Kakak-kakak
juga bisa Pelatihan dan Workshop dari Pelatihan literasi digital
Kemenkominfo, Workshop UNESCO, atau Konferensi teknologi, bisa juga Pelatihan
di institusi pendidikan. Selain itu bisa juga mengikuti Komunitas dan Forum di Grup
Facebook "Literasi Digital Indonesia" atau Forum Komenkominfo
atau juga Komunitas teknologi atau Diskusi online. Dikutip dari YouTube: channel teknologi dan
pendidikan, Podcast: "Literasi Digital" dan
"Teknologi", Blog teknologi dan Situs web berita teknologi”, sambung
Jay.
Suara Jay
berhenti digantikan dengan alunan suara Judika dengan judulnya ‘Bagaimana Kalau
Aku Tidak Baik-Baik Saja’.
“Kakak-kakak,
jangan bosen, ya! Masih ada beberapa informasi tentang topik kita. Apa itu
cakap digital?”, jay lagi-lagi bertanya dan lagi-lagi taka da yang menjawabnya.
“Cakap digital
adalah kemampuan berkomunikasi efektif dan bijak melalui media digital, seperti
media sosial, aplikasi pesan, dan email. Cakap digital dengan Aspek Utama: Komunikasi
yang jelas dan efektif, Penggunaan bahasa yang tepat dan sopan, Kemampuan
memahami audiens dan konteks, Penggunaan teknologi komunikasi secara bijak, dan
Kesadaran akan etika dan keamanan online. Selain itu juga ada Keterampilan
Cakap Digital yang mencakup: Menulis pesan yang efektif, Berbicara dengan
bahasa yang tepat, Menggunakan emoji dan simbol dengan bijak, Memahami nuansa
bahasa online, Menghindari kesalahan ketik dan tata Bahasa dan Menggunakan
bahasa yang inklusif dan tidak diskriminatif”, tambah Jay.
“Nah, ini juga
penting. Apa itu aman digital? Samakah dengan keamanan digital? Aman digital
dan keamanan digital memiliki makna yang terkait namun tidak sama. Aman digital
merujuk pada kondisi di mana individu atau organisasi terlindungi dari berbagai
ancaman digital, seperti: Serangan siber (hacking, malware), Penipuan
online (phishing, scam), Kebocoran data pribadi, Penggunaan
teknologi yang tidak etis, dan Ketergantungan pada teknologi. Aman digital ini mencakup
aspek Keamanan fisik (perangkat keras), Keamanan logis (perangkat lunak), Keamanan
psikologis (perlindungan mental), dan Keamanan sosial (perlindungan dari
penipuan). Terus, Keamanan digital yaitu upaya untuk melindungi sistem,
jaringan, dan data dari ancaman digital. Perbedaan Utama, kalau Aman digital
lebih fokus pada keselamatan individu dan organisasi secara keseluruhan
sedangkan Keamanan digital lebih fokus pada teknologi dan system”, Jay
menyampaikan dengan santai.
“Lalu bagaimana
agar kemanan yang aman? Tips Meningkatkan Aman Digital; Gunakan kata sandi kuat,
Aktifkan autentikasi dua faktor, Perbarui perangkat lunak, Gunakan antivirus, Berhati-hati
dengan email dan link mencurigakan, Lindungi data pribadi, dan Ikuti
pedoman keamanan digital. Dikutip dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, UNESCO,
World Economic Forum, dan Buku "Aman Digital" oleh
Kemenkominfo”, tambahnya.
“Sebelum kita
ke etika digital, nikmati persembahan alunan Ingkar – Tulus!”, Jay memutarkan lagunya.
Sinta kembali
membuka-buka hapenya sambil menyimak lagu yang diputarkan sang penyiar. Rama menguap
karena jalan melambat.
“Sampai pada apa
itu etika digital? Etika digital adalah prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai
yang mengatur perilaku individu dan organisasi dalam menggunakan teknologi
digital. Etika digital mencakup Aspek Utama; Privasi: melindungi informasi
pribadi, Keamanan: melindungi data dari akses tidak sah, Hak cipta: menghormati
karya orang lain, Kebenaran: menghindari penyebaran informasi palsu, Kesopanan:
berkomunikasi dengan hormat, Keterbukaan: transparansi dalam berinteraksi online,
dan Tanggung jawab: bertanggung jawab atas tindakan online. Selain itu
juga memiliki Prinsip Etika Digital yaitu Jangan menyebarluaskan informasi
palsu, Hormati hak cipta orang lain, Jangan mengakses data pribadi tanpa izin, Berkomunikasi dengan sopan dan hormat, Lindungi
data pribadi, Jangan menggunakan teknologi untuk melakukan kejahatan, dan Bertanggung
jawab atas tindakan online. Etika Digital juga bermanfaat antara lain; Meningkatkan
kepercayaan online, Melindungi reputasi, Meningkatkan kesadaran akan
keamanan, Membangun komunitas yang beretika, dan Mengurangi risiko hukum. Dikutip
dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, UNESCO, World Economic Forum,
Buku "Etika Digital" oleh Kemenkominfo, dan Jurnal "Etika
Digital dan Masyarakat" oleh Universitas Indonesia. Kakak-kakak semuanya,
mudah-mudah-mudahan apa yang Jay sampaikan bisa menjadi referensi kakak-kakak. Acara
ini Jay pungkasi dengan sebuah tembang ‘Pesan Terakhir’ alunan Lyodra. Terima kasih,
Wassalamu’alaikum, bye-bye”, Jay mengakhiri siarannya dengan memutar lagunya.
Subang, 29-12-2024
Resume 14
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar