Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Desember 2024

Gembok Digital

Matahari masih bersinar terik walaupun awan berusaha menghalanginya. Jarum jam belum tepat menunjuk angka 2. Angin berhembus jalang menerjang dedaunan. Jalanan ramai kendaraan berlalu-lalang.

Di teras sebuah rumah maya, duduk seseorang yang kelihatan sedang merenung. Betapa cepat waktu berlalu. Rasa-rasanya baru kemaren ia menempati rumah yang tak memiliki ruang namun berwaktu. Namun jika ia bercermin melihat dirinya, ia sudah melihat tanda-tanda untuk meninggalkan dunia hitam. Ya. Mahkota yang menutupi kepalanya sudah banyak ditumbuhi uban.

Memang benar kata orang, rumahku adalah istanaku. Rumah maya yang ia tempati begitu banyak meninggalkan kenangan. Suka duka telah tercatat di dinding rumah mayanya.

“Om”, seorang ibu bersama anaknya mengagetkan lamunannya.

“Eh…mau kemana?”, tanyanya basa-basi.

Ia tak menghiraukan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya. Ia justru terlihat memperhatikan anaknya yang mengikutinya berjalan sambil memainkan gawai. Ia berpikir bagaimana pola asuh orang tuanya dengan membiarkan anaknya bermain hape sambil berjalan lagi. Ia menghela napas dalam-dalam sambil mengelus dada.

Di setiap tempat, di hampir setiap waktu melihat anak laki-laki tak memegang bola menuju lapang. Anak-anak perempuan bukan memegang tali karet atau bola bekel. Mereka semua memegang smartphone. Masih sama seperti dia waktu kecil, mereka berkelompok. Mereka juga bermain bersama. Mereka juga bekerja sama dalam bermain. Bedanya, mereka beraktivitas fisiknya hanya mata dan jempol. Kata-kata yang dikeluarkannya pun sangat kasar menurutnya. Tapi entahlah bagi anak-anak ini. Ia ingat kata-kata presiden yang sekarang yang ingin mewujudkan Indonesia emas. Namun melihat kelakuan anak-anak sekarang ia sanksi akan keberhasilan mewujudkan Indonesai emas tersebut. Mungkin seperti postingan orang-orang, justru yang tejadi adalah Indonesia cemas.

Tiba-tiba ia disadarkan oleh gawainya yang ditaruh di meja kecil dekat tempat duduknya. Setelah dilihatnya gerangan yang menelpon adalah teman mayanya, ia segera mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum”, kata perama yang terucap sesudah mengusap layar hapenya.

“Wa’alaikumussalam, sehat, Om Jay?”, terdengar suara dari seberang sana.

“Alhamdulillah, sehat. Gemana dikau, sehat?”, ia menjawab sambil balik bertanya.

“Alhamdulillah, sehat wal afiat. Apa yang sedang Anda pikirkan?”, suara dari seberang mengutip platform facebook.

“Ini, saya prihatin dengan pola asuh orang tua sekarang. Anak-anak dari lahir sudah bergaul dengan hape”, keluhnya.

“Udah zamannya, Om. Dulu waktu Om Jay lahir belum ada hape soalnya, hehe”, ujarnya.

“Iya juga sih. Cuma yang saya khawatirkan, mungkin juga banyak yang mengkhawatirkan, dampaknya bagi kehidupannya kelak bagaimana?”, Om Jay mengeluh agak panjang.

“Trus, apa mau Om atau kita lakukan?”

“Paling tidak kita harus mendorong kepada pihak yang berwenang untuk memasyarakatkan literasi digital”, jawabnya.

“Maksudnya?”

“Literasi digital tuh, kemampuan seseorang untuk menggunakan teknologi secara cerdas dan efektif”, jelasnya.

“Oh, jadi agar kita bisa memanfaatkan teknologi secara optimal”, tegasnya.

“Ya. Untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berpikir kritis, dan menggunakannya secara bertanggung jawab, kita harus memahami empat pilar literasi digital”.

“Apa itu empat literasi digital?”, suara keingintahuan terdengar lantang.

“Pertama, kecakapan digital yaitu kemampuan menggunakan teknologi secara efektif dan produktif. Kedua budaya digital yaitu memahami bagaimana teknologi memengaruhi budaya dan perilaku kita”, suaranya terhenti harus mengambil napas.

“Yang ketiga, keempat?”, suara tak sabar terdengar.

“Sabarlah, aku minum dulu”, terdengar Om Jay menyeruput air putih.

“Nggak, keburu hapenya panas”, alasannya.

“Ketita, etika digital yaitu kesadaran akan norma dan nilai dalam berinteraksi di dunia maya. Dan yang terakhir, keempat keamanan digital yaitu kemampuan melindungi diri dan orang lain dari ancaman siber”, jelasnya sambil menarik napas.

“Okelah, Om. Itu kan bagi kita yang udah dewasa. Tapi kadang-kadang bahkan mungkin kebanyakan orang menggunakan medsos tak menghiraukan budaya dan etika, apalagi anak-anak”, suaranya menandakan keresahan.

“Nah, inilah tugas kita. Membangun ruang digital yang aman bagi anak”, jelasnya.

“Caranya?”, pertanyaan penasaran.

“Sebagai orang dewasa, kita harus membekali kepada anak-anak tentang resiko di dunia maya, menumbuhkan menjadi pengguna internet yang cerdas dan bertanggung jawab. Sebentar, mau ke air dulu”, jawabnya tegas.

Suasana hening. Gawai diletakkan di meja kecil tetapi tak dimatikan. Angin berhembus membawa suasana akan hujan. Langit yang tadinya cerah berawan sekarang penuh dengan abu-abu. Matahari tak mampu menembus tebalnya awan. Desember kelabu. Mungkin itu lagu zaman Om Jay. Tetapi sesudah Orde Baru lengser musim seakan tak beraturan. Di bulan Desember seharusnya hujan disertai dengan angin mengiringi hari-hari. Para petani mulai menggarap sawah. Tetapi musim sekarang tak dapat diprediksi. Di bulan Desember masih jarang hujan. Sawah-sawah masih ada yang belum berair.

Suara deritan pintu terdengar bukan oleh angin kencang yang bertiup tetapi sebagai tanda penghuni rumah keluar. Gawai kembali dipegangnya. Setelah membenarkan posisi headset, kemudian berdehem.

“Ehemm”

“Halo”, terdengar suara jauh dari hape.

Setelah terdengar suara napas memasuki hape, Om Jay kembali berbicara.

“Sampai mana tadi, ya?”, mengawali dengan sedikit ragu.

“Nggak kemana-mana kan kita?”, suara bercanda.

“Becanda-becanda”, Om Jay membalasnya.

“Membekali anak-anak”, ucapnya.

“Oh, ya. Jadi anak-anak, bahkan kita juga, semua pokoknya. Harus bisa menjaga data privasi. Data privasi digital yang harus dijaga adalah kata sandi. Selain itu untuk menjaga dari hal-hal yang tak diinginkan, jangan asal meng-klik tautan. Dengan melakukan itu akan besar kemungkinan data pribadi kita terambil”, Om Jay menjelaskan.

“Tapi kan akhir-akhir ini ada  berita kalau terjadi kebocoran data di PDN?”, pertanyaan yang mematahkan keamanan data pribadi.

“Ya. Oleh karena itu untuk menghindari pemanfaatan jejak digital kita, jangan berinteraksi dengan akun, nomor yang tidak dikenal. Hal ini untuk menghindari kemungkinan kejahatan penipuan, pemerasan, dan pencurian identitas”, jelasnya lagi.

Tak terdengar suara balasan dari seberang sana. Om Jay memperhatikan hapenya. Masih nyala, tetapi hubungan terputus. Ia menarik napas panjang. Suara adzan lantang terdengar dari masjid. Waktu asar telah tiba. Ia memutuskan pergi ke masjid saja.

Ia meletakkan kopiahnya di meja kemudian berkemas hape, kaca mata, dan gelas minum. Baru saja memegang gagang pintu tiba-tiba hape berdering. Namun sengaja tak diangkatnya. Ia sudah berniat ke masjid untuk menunaikan salat asar berjamaah.

Memang benar kata ustad, hanya alasan saja salat di masjid itu memakan waktu yang lama. Selama-lamanya salat di masjid tak lebih dari setengah jam. Hanya 15 menit dari awal sampai pulang lagi ke rumah. Om Jay kembali seperti sebelum asar. Hapenya kembali diaktifkan dan memulai dengan menekan panggilan yang tak terjawab. Hanya nada sambung yang terdengar, sesudah waktu dering habis tak terdengar apa-apa lagi. Ia meletakkan kembali hapenya di meja. Tak berselang lama hape bergetar. Headset kembali dipasang.

“Assalamu’alaikum”, ucapan awal.

“Wa’alaikumussalam”, jawaban dari seberang.

“Udah salat?”, pertanyaan awal juga.

“Udah dong, masa udah deh. Hehehe”, jawabnya.

“Kita lanjut?”, tanya Om Jay.

“Siap komandan”, jawabnya mantab.

“Nah sebagai penutup, kita harus meningkatkan kesadaran tentang resiko dunia digital dengan mengambil langkah preventif”, jelasnya.

“What?”

“Dengan membatasi informasi yang dibagikan secara online, menggunakan kata sandi yang kuat, dan selalu memperbaharui perangkat lunak”, jelasnya lagi.

Mereka menutup perbincangannya dibarengi oleh gerimis.

Subang, 19/12/2024

Resume 1

HADISUSILO 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar