Matahari masih
bersinar terik walaupun awan berusaha menghalanginya. Jarum jam belum tepat
menunjuk angka 2. Angin berhembus jalang menerjang dedaunan. Jalanan ramai
kendaraan berlalu-lalang.
Di teras sebuah
rumah maya, duduk seseorang yang kelihatan sedang merenung. Betapa cepat waktu
berlalu. Rasa-rasanya baru kemaren ia menempati rumah yang tak memiliki ruang
namun berwaktu. Namun jika ia bercermin melihat dirinya, ia sudah melihat
tanda-tanda untuk meninggalkan dunia hitam. Ya. Mahkota yang menutupi kepalanya
sudah banyak ditumbuhi uban.
Memang benar
kata orang, rumahku adalah istanaku. Rumah maya yang ia tempati begitu banyak
meninggalkan kenangan. Suka duka telah tercatat di dinding rumah mayanya.
“Om”, seorang
ibu bersama anaknya mengagetkan lamunannya.
“Eh…mau
kemana?”, tanyanya basa-basi.
Ia tak
menghiraukan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya. Ia justru terlihat
memperhatikan anaknya yang mengikutinya berjalan sambil memainkan gawai. Ia
berpikir bagaimana pola asuh orang tuanya dengan membiarkan anaknya bermain
hape sambil berjalan lagi. Ia menghela napas dalam-dalam sambil mengelus dada.
Di setiap
tempat, di hampir setiap waktu melihat anak laki-laki tak memegang bola menuju
lapang. Anak-anak perempuan bukan memegang tali karet atau bola bekel. Mereka
semua memegang smartphone. Masih sama seperti dia waktu kecil, mereka
berkelompok. Mereka juga bermain bersama. Mereka juga bekerja sama dalam
bermain. Bedanya, mereka beraktivitas fisiknya hanya mata dan jempol. Kata-kata
yang dikeluarkannya pun sangat kasar menurutnya. Tapi entahlah bagi anak-anak
ini. Ia ingat kata-kata presiden yang sekarang yang ingin mewujudkan Indonesia emas.
Namun melihat kelakuan anak-anak sekarang ia sanksi akan keberhasilan
mewujudkan Indonesai emas tersebut. Mungkin seperti postingan orang-orang,
justru yang tejadi adalah Indonesia cemas.
Tiba-tiba ia
disadarkan oleh gawainya yang ditaruh di meja kecil dekat tempat duduknya.
Setelah dilihatnya gerangan yang menelpon adalah teman mayanya, ia segera
mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum”,
kata perama yang terucap sesudah mengusap layar hapenya.
“Wa’alaikumussalam,
sehat, Om Jay?”, terdengar suara dari seberang sana.
“Alhamdulillah,
sehat. Gemana dikau, sehat?”, ia menjawab sambil balik bertanya.
“Alhamdulillah,
sehat wal afiat. Apa yang sedang Anda pikirkan?”, suara dari seberang mengutip platform
facebook.
“Ini, saya
prihatin dengan pola asuh orang tua sekarang. Anak-anak dari lahir sudah bergaul
dengan hape”, keluhnya.
“Udah zamannya,
Om. Dulu waktu Om Jay lahir belum ada hape soalnya, hehe”, ujarnya.
“Iya juga sih.
Cuma yang saya khawatirkan, mungkin juga banyak yang mengkhawatirkan, dampaknya
bagi kehidupannya kelak bagaimana?”, Om Jay mengeluh agak panjang.
“Trus, apa mau
Om atau kita lakukan?”
“Paling tidak
kita harus mendorong kepada pihak yang berwenang untuk memasyarakatkan literasi
digital”, jawabnya.
“Maksudnya?”
“Literasi
digital tuh, kemampuan seseorang untuk menggunakan teknologi secara cerdas dan
efektif”, jelasnya.
“Oh, jadi agar
kita bisa memanfaatkan teknologi secara optimal”, tegasnya.
“Ya. Untuk
dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berpikir kritis, dan
menggunakannya secara bertanggung jawab, kita harus memahami empat pilar
literasi digital”.
“Apa itu empat
literasi digital?”, suara keingintahuan terdengar lantang.
“Pertama,
kecakapan digital yaitu kemampuan menggunakan teknologi secara efektif dan
produktif. Kedua budaya digital yaitu memahami bagaimana teknologi memengaruhi
budaya dan perilaku kita”, suaranya terhenti harus mengambil napas.
“Yang ketiga,
keempat?”, suara tak sabar terdengar.
“Sabarlah, aku
minum dulu”, terdengar Om Jay menyeruput air putih.
“Nggak, keburu
hapenya panas”, alasannya.
“Ketita, etika
digital yaitu kesadaran akan norma dan nilai dalam berinteraksi di dunia maya.
Dan yang terakhir, keempat keamanan digital yaitu kemampuan melindungi diri dan
orang lain dari ancaman siber”, jelasnya sambil menarik napas.
“Okelah, Om.
Itu kan bagi kita yang udah dewasa. Tapi kadang-kadang bahkan mungkin
kebanyakan orang menggunakan medsos tak menghiraukan budaya dan etika, apalagi
anak-anak”, suaranya menandakan keresahan.
“Nah, inilah
tugas kita. Membangun ruang digital yang aman bagi anak”, jelasnya.
“Caranya?”,
pertanyaan penasaran.
“Sebagai orang
dewasa, kita harus membekali kepada anak-anak tentang resiko di dunia maya,
menumbuhkan menjadi pengguna internet yang cerdas dan bertanggung jawab.
Sebentar, mau ke air dulu”, jawabnya tegas.
Suasana hening.
Gawai diletakkan di meja kecil tetapi tak dimatikan. Angin berhembus membawa
suasana akan hujan. Langit yang tadinya cerah berawan sekarang penuh dengan
abu-abu. Matahari tak mampu menembus tebalnya awan. Desember kelabu. Mungkin
itu lagu zaman Om Jay. Tetapi sesudah Orde Baru lengser musim seakan tak
beraturan. Di bulan Desember seharusnya hujan disertai dengan angin mengiringi
hari-hari. Para petani mulai menggarap sawah. Tetapi musim sekarang tak dapat
diprediksi. Di bulan Desember masih jarang hujan. Sawah-sawah masih ada yang
belum berair.
Suara deritan
pintu terdengar bukan oleh angin kencang yang bertiup tetapi sebagai tanda
penghuni rumah keluar. Gawai kembali dipegangnya. Setelah membenarkan posisi headset,
kemudian berdehem.
“Ehemm”
“Halo”,
terdengar suara jauh dari hape.
Setelah
terdengar suara napas memasuki hape, Om Jay kembali berbicara.
“Sampai mana
tadi, ya?”, mengawali dengan sedikit ragu.
“Nggak
kemana-mana kan kita?”, suara bercanda.
“Becanda-becanda”,
Om Jay membalasnya.
“Membekali
anak-anak”, ucapnya.
“Oh, ya. Jadi
anak-anak, bahkan kita juga, semua pokoknya. Harus bisa menjaga data privasi. Data
privasi digital yang harus dijaga adalah kata sandi. Selain itu untuk menjaga
dari hal-hal yang tak diinginkan, jangan asal meng-klik tautan. Dengan
melakukan itu akan besar kemungkinan data pribadi kita terambil”, Om Jay
menjelaskan.
“Tapi kan
akhir-akhir ini ada berita kalau terjadi
kebocoran data di PDN?”, pertanyaan yang mematahkan keamanan data pribadi.
“Ya. Oleh
karena itu untuk menghindari pemanfaatan jejak digital kita, jangan
berinteraksi dengan akun, nomor yang tidak dikenal. Hal ini untuk menghindari
kemungkinan kejahatan penipuan, pemerasan, dan pencurian identitas”, jelasnya
lagi.
Tak terdengar
suara balasan dari seberang sana. Om Jay memperhatikan hapenya. Masih nyala,
tetapi hubungan terputus. Ia menarik napas panjang. Suara adzan lantang
terdengar dari masjid. Waktu asar telah tiba. Ia memutuskan pergi ke masjid
saja.
Ia meletakkan
kopiahnya di meja kemudian berkemas hape, kaca mata, dan gelas minum. Baru saja
memegang gagang pintu tiba-tiba hape berdering. Namun sengaja tak diangkatnya.
Ia sudah berniat ke masjid untuk menunaikan salat asar berjamaah.
Memang benar
kata ustad, hanya alasan saja salat di masjid itu memakan waktu yang lama.
Selama-lamanya salat di masjid tak lebih dari setengah jam. Hanya 15 menit dari
awal sampai pulang lagi ke rumah. Om Jay kembali seperti sebelum asar. Hapenya
kembali diaktifkan dan memulai dengan menekan panggilan yang tak terjawab.
Hanya nada sambung yang terdengar, sesudah waktu dering habis tak terdengar
apa-apa lagi. Ia meletakkan kembali hapenya di meja. Tak berselang lama hape
bergetar. Headset kembali dipasang.
“Assalamu’alaikum”,
ucapan awal.
“Wa’alaikumussalam”,
jawaban dari seberang.
“Udah salat?”,
pertanyaan awal juga.
“Udah dong,
masa udah deh. Hehehe”, jawabnya.
“Kita lanjut?”,
tanya Om Jay.
“Siap
komandan”, jawabnya mantab.
“Nah sebagai
penutup, kita harus meningkatkan kesadaran tentang resiko dunia digital dengan
mengambil langkah preventif”, jelasnya.
“What?”
“Dengan
membatasi informasi yang dibagikan secara online, menggunakan kata sandi
yang kuat, dan selalu memperbaharui perangkat lunak”, jelasnya lagi.
Mereka menutup
perbincangannya dibarengi oleh gerimis.
Subang, 19/12/2024
Resume 1
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar