“Sudah siap?”, tanya Yayan pada anggota PMR yang dibimbingnya.
“Siyaaaap….”,
mereka serentak menjawab.
Matahari masih
malas menampakkan diri. Semburat awan merah hanya terlihat. Udara agak dingin
memang. Sebuah truk dengan ditutupi terpal sebagai tudungnya terparkir di dekat
gerbang. Lima anggota PMR akan meluncur ke Sukabumi mengantarkan bantuan yang
dikumpulkan oleh siswa, guru dan pegawai, serta masyarakat sekitar sekolah.
Yayan sebagai Pembina PMR telah berkoordinasi dengan PMI dan posko layanan
bantuan di Sukabumi.
Setelah melakukan
doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang petinggi sekolah mereka dilepas
dengan saling bersalaman.
“Mang Ade, dah
siap”, ujar Yayan.
Kemudian Sifa, Tina,
Ujang, Vina, dan Wira segera menaiki truk yang sudah siap untuk meluncur. Lima anak
ini dengan sigap menaiki truk tanpa bantuan kursi atau tangga. Tak lama
kemudian suara truk menyeruak mengepulkan asap abu kehitam-hitaman. Truk melewati
gerbang menuju jalan beton. Melaju tanpa kompromi menembus pagi yang tak begitu
cerah.
Sejenak mereka taka
da sepatah kata pun. Menikmati perjalanan yang mungkin panjang. Atau stress?
“Mabok, ngga?”,
Yayan membuka pembicaraan.
“Ujang yang
suka mabok, Pak”, sahut Sifa.
“Yeee enak aja.
Kamu kali”, balas Ujang.
“Kita putar
lagu-lagu aja, Pak”, kata Vina.
“Masing-masing
ajalah”, sahut Sifa.
Sifa memang
paling banyak bicara diantara mereka berlima. Wira bahkan kalau nggak di pukul
nggak bakalan bunyi. Dia dijuluki pekerja tak banyak bicara. Berbeda dengan Sifa
yang berlawanan dengan Wira. Namun mereka berlima merupakn tim yang kompak di
ekskul PMR. Mereka berlima juga yang menginisiasi penggalangan dana ke
masyarakat di sekitar sekolah.
Yayan memutar youtube
dengan caption ’Pejuang Kebenaran melawan Hoaks’
“Di era digital
yang serba cepat ini, informasi mengalir tanpa henti melalui berbagai platform,
mulai dari media sosial hingga aplikasi pesan instan. Namun, di balik kemudahan
ini, tersembunyi ancaman besar: hoax atau berita bohong. Hoax tidak hanya menyesatkan,
tetapi juga dapat memecah belah masyarakat, memicu konflik, dan menyebarkan
ketakutan yang tidak perlu. Oleh karena itu, menjadi pejuang kebenaran adalah
sebuah panggilan moral yang harus dijawab oleh setiap individu”, pembicara wanita.
Lawan bicaranya
hanya manggut-manggut saja tak meberikan reaksi.
“Nah, pasti
bapak ibu pernah menerima berita hoax yang memiliki dampak negatif yang dapat
memicu perpecahan, kerugian finansial, dll”, masih pembicara wanita.
“Apa seharusnya
reaksi kita?”, pembicara pria.
“Oleh karena
itu, kita harus berhati-hati dalam menerima berita, apakah itu hoax atau bukan”,
pembicara wanita.
“Begitu”,
pembicara pria.
“Nah oleh
karena itu pentingnya literasi digital dan kemampuan verifikasi dengan
mengenali sumber informasi, memeriksa keaslian konten, dan sumber yang dapat dipercaya”, pembicara wanita.
“Bagaimana
caranya?”, pembicara pria.
“Berikut cara
verifikasi kebenaran untuk mengidentifikasi hoax: Metode Verifikasi; pertama,
Periksa sumber: Pastikan sumber informasi kredibel, resmi dan terpercaya. Kedua,
Cari sumber primer: Carilah sumber asli informasi, seperti laporan resmi, data
statistik atau penelitian ilmiah. Ketiga, Bandingkan informasi: Perbandingkan
informasi dari berbagai sumber untuk memastikan kesamaan. Kemudian yang
keempat, Periksa tanggal: Pastikan informasi tidak kadaluarsa. Dan yang terakhir,
Periksa referensi: Pastikan informasi disertai dengan referensi yang jelas”,
pembicara wanita.
Lawan bicara
tak memberikan reaksi lagi. Ia meneguk minuman yang berada di depannya.
“Kita harus
menggunakan alat Verifikasi berupa satu, Fact-checking: Situs seperti (link
unavailable), Snopes, atau Kompas Fact Check. Dua, Google Reverse Image: Untuk
memeriksa keaslian gambar. Tiga, (link unavailable): Untuk memeriksa
kepemilikan situs web. Empat, Wayback Machine: Untuk melihat versi lama situs
web. Dan lima, Situs web resmi: Periksa situs web resmi pemerintah atau
organisasi terkait”, pembicara wanita melanjutkan.
“Dalam
memverifikasi kan tidak mungkin dengan tangan kosong, dong?”, pembicara pria.
“Tentu kita
harus memiliki keterampilan untuk memverifikasi yaitu Kritis: Jangan percaya
begitu saja; Analitis: Analisis informasi secara logis; Objektif: Hindari
prasangka; Teliti: Periksa detail; Pemahaman konteks: Pahami konteks informasi.
Langkah-langkah dalam memverifikasi dengan Baca informasi secara keseluruhan; Identifikasi
klaim atau pernyataan; Cari sumber informasi; Verifikasi informasi; Buat
kesimpulan berdasarkan bukti”, pembicara wanita.
Sifa yang sejak
tadi menyimak bersama yang lain mulai menguap. Dia berusaha mencari celah
tempat untuk menyandarkan kepalanya.
“Wah, mulai nih…”,
kata Vina.
Yang dikatain
nggak menjawab, yang lain pun tak menghiraukan. Truk tetap melaju berirama
sesuai dengan kendaraan yang lain. Sesekali terdengan bunyi klakson khas truk
Mang Ade.
“Dalam
memperoleh informasi kita harus melakukan pengecekan dulu ya supaya info yang
diterima itu valid dan benar adanya. Di sini saya sudah bagikan beberapa alat
verifikasi antara lain fast-checking, google reverse image, wayback
machine, dll”, pembicara wanita.
“Bagaimana
peran kita dalam melawan hoaks?”, pembicara pria.
“Di sini ada
peran individu dalam melawan penyebaran hoax. Jangan jadi penyebar hoax,
laporkan konten hoax, atau berpartisipasi dalam kampanye anti hoax. Menjadi
Pejuang Kebenaran untuk melawan hoax, kita perlu mengambil peran aktif sebagai
pejuang kebenaran. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan: 1. Tingkatkan
Literasi Digital; Pahami cara kerja platform digital dan pelajari cara
memverifikasi informasi. Dengan literasi digital yang baik, Anda dapat: Mengidentifikasi
sumber informasi yang kredibel.
Mengetahui cara
melacak jejak digital sebuah berita. Memanfaatkan alat dan situs pemeriksa
fakta, seperti CekFakta dan TurnBackHoax. 2. Verifikasi Informasi Sebelum
Membagikan; Jangan pernah menyebarkan informasi yang belum Anda pastikan
kebenarannya. Gunakan prinsip 3M: Melihat: Periksa sumber berita.
Memeriksa: Cari
informasi serupa dari media kredibel. Memastikan: Validasi dengan fakta atau
data resmi. 3. Edukasi Orang Lain; Sebarkan kesadaran tentang pentingnya
melawan hoax. Berbicara dengan keluarga, teman, dan komunitas dapat membantu
memperluas dampak positif. Berikan contoh nyata dampak buruk hoax untuk
meningkatkan kepedulian mereka. 4. Gunakan Media Sosial dengan Bijak; Manfaatkan
media sosial untuk menyebarkan kebenaran. Hindari debat yang tidak produktif
dan fokus pada fakta. Jadilah teladan dalam menyebarkan informasi yang positif
dan akurat. 5. Laporkan Hoax; Jika menemukan hoax, segera laporkan ke pihak
berwenang atau platform terkait. Banyak media sosial yang menyediakan fitur
untuk melaporkan konten palsu” pembicara wanita menerangkan dengan panjang
lebar.
“Bisa dimengerti.
Lanjut!”, pembicara pria.
“Di sini
menjelaskan bahwa perlu adanya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan
media dalam menyajikan informasi yang akurat. Menguatkan Moral dan Etika; Menjadi
pejuang kebenaran juga membutuhkan integritas moral. Tanamkan nilai-nilai
berikut: Kejujuran: Selalu menyampaikan informasi yang benar. Kepedulian:
Peduli terhadap dampak informasi pada orang lain. Tanggung Jawab: Bertanggung
jawab atas setiap informasi yang Anda bagikan. Dengan memiliki nilai-nilai
kejujuran, kepedulian, tanggungjawab, diharapkan info yang disampaikan memang
benar adanya dan tanpa ada rekayasa”, pembicara wanita melanjutkan.
Jalannya
kendaraan yang tak tentu kecepatannya, bau debu, bau asap kendaraan menyebabkan
sesak napas dan mual. Wira yang tak banyak bicara tiba-tiba bersuara.
“Mana minyak
kayu putih?”, tanyanya entah pada siapa. Tak ada yang merespon pertanyaan Wira.
Namun Yayan mengeluarkan minak kayu putih dari dalam kotak P3K, tanpa kata
memberikan kepada Wira.
“Melawan hoax
membutuhkan kerja sama dan tanggung jawab bersama. Meningkatkan literasi
digital, memverifikasi informasi dan mengedukasi masyarakat dapat mengurangi
dampak hoax, menciptakan masyarakat cerdas dan harmonis, serta memupuk
kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu menjadi pejuang kebenaran adalah tugas
kita bersama sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Terima kasih atas
waktu yang diberikan, selanjutnya saya kembalikan pada moderator untuk memimpin
tanya jawab”, pembicara wanita mengakhiri pembicaraan.
“Terima kasih
Bunda Aam, atas pemaparan materinya,
yang sangat meninspirasi”, pembicara pria memberi ucapan.
Sesudah melewati
kota Purwakarta, jalan menuju Sukabumi sangat ekstrim. Selain jalan
berkelak-kelok juga naik turun. Tinggal Ujang dan Yayan yang masih duduk dengan
mata tak terpejam. Keempat anak sudah terlena dengan ayunan truk Mang Ade. Hape
yang masih menyala di youtube jatuh dari genggaman Yaya. Semua menikmati
perjalanan yang panjang.
Subang, 22-12-2024
Resume 6
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar