Total Tayangan Halaman

Selasa, 24 Desember 2024

INKLUSIF

 Suara kipas angin mederu seperti suara balin-baling helicopter yang kadang terdengar melintas di langit sekolah. Ruang guru yang sepi karena sudah libur sekolah. Terlihat ada dua orang  yang berada di ruangan. Matahari belum begitu terik menerpa atap sekolah tetapi udara di ruang guru sudah gerah.

“Sepi”, Diah berucap.

“Yang piket empatan kan, ya?”, tanya Ayu.

“Seharusnya iya. Tapi jam segini lum dating”, jawab Diah.

“Kebiasaan kali, ya?”, Ayu mulai.

“Barangkali ada hal yang tanggung”, jawab Diah agar tak kemana-mana.

“Iya, sih. Tapi juga tergantung orangnya juga”, Ayu tetap mempertahankan sangkaannya.

Lalu mereka terlihat berkutat dengan gawainya masing-masing. Dari gawai Ayu terdengar beberapa kali ada tawa-tiwi dan musik. Sementara Diah memainkan jempolnya tak henti-henti.

“Pagiii….”, suara menyeruak diantara suara kipas angin.

“Pagi”, jawab Diah dan Ayu hampir bersamaan

Pitaloka menyalami Diah dan Ayu. Kemudian menuju mejanya yang berada di seberang karena ada meja kursi tamu yang memisahkan.

“Bu, kalau menterinya ganti , masih sekolah inklusi nggak ya?”, tanya Diah pada Pitaloka sekonyong-konyong.

“Kayaknya masih, deh. Memang kenapa?”, tanya Pitaloka balik.

“Yaa ribetlah”, jawab Diah.

“Iya, Bu. Siswa yang biasa aja susah diatur, masih disuruh menangani siswa yang….gitulah”, Ayu ikut bicara.

“Betul. Sebenarnya kan sudah ada SLB, kenapa kita jadi sekolah serba ada?”, Dia merespon.

“Jadi kita dituntut serba bisa. Katanya sesuatu kalau nggak ditangani ahlinya tinggal nunggu kehancurannya. Betul nggak, Bu Diah?”, Ayu jadi sok hebat.

“Wah…sekalian hadisnya lah”, canda Diah.

“Ntar menikung ustadzah, hehehe”, jawab Ayu.

“Ngomong-ngomong soal iklusivitas, aku punya video tentang inklusivitas di dunia digital, lo”, ujar Pitaloka.

“Apa itu inklusivitas digital?”, tanya Diah.

“Itu kali soal Agus b*****g kalee”, Ayu nyeletuk.

“Ih..Bu Ayu. Bukan. Ini mah soal Agus….ehhhh inklusiv di dunia digital”, Pitaloka meluruskan.

“Coba liat…”, Diah penasaran.

“Kita puta raja di tivi gede”, Pitaloka menyarankan.

Ayu yang suka mengoprek-oprek tivi kemudian menyalakannya. Beberapa saat tivi dapat dioperasikan oleh Ayu.

“Yang mana?”, tanya Ayu sesudah menemukan yuotube.

“Nah…ini”, ujar Pitaloka.

“Nah, betul. Beliau ini seorang konselor, asesor BAN PDM Jawa Timur, lulusan prodi PAUD UNESA cum laude, dan doktor BK dari Universitas Negeri Malang. Pokoknya kerenlah”, Pitaloka menegaskan.

Kemudian di layar tivi mode penuh.

Assalamualaikum warahmatullohi wabarokaatuhhhhsalam kenal semuanyaaaa, salam hormat selalu buat pegiat literasi digital untuk menyelamatkan diri dan keluarga agar menjadi digital yang inklusif.

Para guru yg berdedikasi di dunia digital bersama siswa di kelas yang saya hormati, izinkan saya akan memberikan hasil uraian saya tentang INKLUSIVITAS DI DUNIA DIGITAL

Mari kita bersama menyimak apa yg di maksud di inklusivitas digital mari kita diskusikan!

namun sebelumnya ijinkan sy memberi pantun terlebih dahulu ya

Siang hari yang cerah berseri, menyapa semua tanpa terkecuali. Di dunia digital kita berbagi, Inklusivitas harus dijaga bersama

Baik rekan guru digital setanah air. Mengapa kita mempelajari inklusivitas digital,

Apa itu Inklusivitas?

ü  Kemampuan mengakomodasi keberagaman.

ü  Mencakup semua golongan, tanpa diskriminasi.

ü  Relevan dalam dunia digital sebagai ruang publik modern.

 Dasar Teorinya sebagai berikut, simak bagan di bawah ini

1.       Keberagaman (Diversity)

·       Mengacu pada variasi karakteristik manusia, seperti ras, etnis, gender, orientasi seksual, status sosial, budaya, usia, agama, kemampuan fisik, dan lainnya.

·       Menurut teori Diversity Management (Thomas & Ely, 1996), keberagaman meningkatkan kinerja organisasi melalui kreativitas, inovasi, dan perspektif yang beragam.

2.       Kesetaraan (Equity)

·       Berfokus pada memberikan setiap orang akses yang adil terhadap peluang dan sumber daya berdasarkan kebutuhan spesifik mereka.

·       Pendekatan ini didukung oleh Equity Theory (Adams, 1963) yang menyoroti perlunya keseimbangan dalam memperlakukan individu.

3.       Aksesibilitas (Accessibility)

·       Penyesuaian lingkungan, alat, atau proses agar dapat digunakan semua orang, termasuk penyandang disabilitas atau individu dengan kebutuhan khusus.

·       Diinspirasi oleh Universal Design Theory (Ron Mace, 1980-an), yang berprinsip bahwa lingkungan harus dapat diakses oleh semua orang tanpa perlu modifikasi khusus.

4.       Keterlibatan (Engagement)

·       Mengacu pada partisipasi aktif individu dalam aktivitas atau komunitas tanpa rasa terpinggirkan.

·       Social Inclusion Theory (Silver, 1995) menyebutkan pentingnya memasukkan kelompok terpinggirkan ke dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi secara aktif.

5.       Pengakuan (Recognition)

·       Pengakuan terhadap identitas, pengalaman, dan kontribusi individu dari semua latar belakang.

·       Merujuk pada teori Recognition Theory (Honneth, 1995), yang menekankan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai dasar dari inklusivitas.

Nahhh secara nalar inklusif digital bisa di buktikan bahwa pelaku digital wajib menjadi bagian dari inklusif dunia digital, bisa di pahami ya mengapa kita wajib menjadi pengguna inklusif digital????

Nah kita pelajari dulu definisinya apa yang dimaksud dengan inklusif UNESCO (2005): Inklusivitas adalah pendekatan dalam semua aspek kehidupan yang memastikan bahwa tidak ada individu atau kelompok yang dikecualikan karena perbedaan apa pun.

Turner (1982): Inklusivitas adalah proses sosial yang melibatkan individu dan kelompok dalam semua dimensi masyarakat secara sejajar, terlepas dari perbedaan ras, gender, atau kelas sosial.

Ooth dan Ainscow (2002): Inklusivitas adalah sikap yang terus-menerus menantang semua bentuk diskriminasi dan berusaha untuk meningkatkan partisipasi serta keberhasilan semua individu.

Kita hidup dalam keberagaman.

Ciri-Ciri Inklusivitas

o   Menghormati perbedaan tanpa memandang latar belakang seseorang.

o   Memberikan kesempatan yang sama kepada semua individu.

o   Menghapuskan hambatan struktural, kultural, dan sosial.

o   Memprioritaskan aksesibilitas di segala aspek, terutama dalam pendidikan dan teknologi.

Inklusivitas adalah paradigma modern untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kohesi sosial dan mendorong keadilan

oleh karena itu kita hidup bersosial? beragam dan berkeadilan?

Mengapa Inklusivitas Penting????

Menghindari eksklusi digital (digital divide), apa maksudnya? Semua orang memiliki akses yang adil dan setara terhadap teknologi digital dan manfaatnya. Ini bukan hanya soal akses internet dan perangkat, akses, keterampilan, kesempatan tetapi segala lini, siapa yang setuju ini

Apa bukti ketidak inklusifan di dunia digital? dalam masyarakat?

Bentuk Ketidakinklusifan di Dunia Digital

1.       Akses Terbatas:

·       Infrastruktur yang tidak merata.

·       Biaya internet tinggi.

2.       Diskriminasi Algoritma:

·       Bias teknologi berbasis data tidak inklusif, misalnya sistem penilaian, platform pembelajaran online seperti siswa yang memiliki akses internet yang lebih baik atau siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih tinggi.

3.       Ketidakmampuan Teknologi:

·       Platform tidak mendukung disabilitas (aksesibilitas), misalnya menciptakan platform digital yang aksesibel untuk semua pengguna, termasuk pengguna dengan disabilitas, adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip aksesibilitas dalam desain dan pengembangan platform digital, kita dapat memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi, belajar, dan berpartisipasi dalam masyarakat..

4.       Keamanan dan Privasi:

·       Eksposur berlebihan pada kelompok rentan, misalnya eksposur berlebihan pada kelompok rentan dalam konteks keamanan dan privasi digital terjadi ketika data pribadi mereka dikumpulkan, diproses, dan digunakan tanpa persetujuan yang memadai atau dalam cara yang berpotensi merugikan mereka..

Ini sering kita jumpai di masyarakat kita, jadi perlu adanya strategi untuk mengatasi ini semua agar kita tak terjebak dalam kemunduran, yang memiliki media lengkap lebih terfasilitasi sedang yang tak tersedia fasilitas semakin kemunduran. Ini yang terjadi kan?

Nah, yuk kita mencoba untuk mengatasi satu persatu!

Strategi Mewujudkan Inklusivitas:

Mewujudkan inklusivitas dalam dunia pendidikan berarti menciptakan lingkungan belajar yang adil, setara, dan ramah bagi semua siswa, tanpa memandang perbedaan latar belakang, kemampuan, atau kebutuhan khusus.

1.      Mengubah Pandangan dan Budaya

Budaya lokal merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Dalam konteks pendidikan, penting untuk menanamkan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda agar mereka memiliki rasa cinta dan bangga terhadap budaya sendir

2.      Menyesuaikan Kurikulum dan Metode Pembelajaran

misalnya: Kurikulum Merdeka merupakan salah satu contoh nyata bagaimana kurikulum dapat disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas dan otonomi bagi guru dalam memilih materi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa

3.      Membangun Keterampilan Guru

Guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Mereka tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan mentor. Dalam era globalisasi dan revolusi industri 4.0, peran guru semakin kompleks dan menantang. Guru dituntut untuk memiliki keterampilan yang memadai agar dapat menghadapi perubahan dan tantangan di dunia pendidikan

4.      Meningkatkan Aksesibilitas dan Fasilitas

Aksesibilitas pendidikan berarti memastikan bahwa semua orang, tanpa memandang latar belakang, kondisi fisik, atau lokasi geografis, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas

5.      Peran Orang Tua dan Masyarakat

6.      Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak. Mereka memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk karakter, nilai, dan perilaku anak sejak dini.

o   Komunikasi Terbuka: Membangun komunikasi yang terbuka dan kolaboratif antara sekolah, guru, dan orang tua untuk memahami kebutuhan dan tantangan siswa.

o   Dukungan Orang Tua: Mendorong orang tua untuk aktif terlibat dalam proses pendidikan anak dan memberikan dukungan yang diperlukan.

o   Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya inklusivitas dalam pendidikan dan mendorong partisipasi mereka dalam mendukung program inklusif.

Contoh

1.       Gerakan Akses Internet untuk Semua

·       Program pemerintah atau swasta.

2.       Platform Media Sosial Aksesibel

·       Misalnya, fitur caption otomatis.

3.       Komunitas Digital Inklusif

·       Forum diskusi aman bagi semua golongan.

Lantas bagaimana peran kita sebagai pendidik atau sebagai individu??

Menjalankan peran dengan kompeten...?

Peran Individu dan Komunitas

ü  Kritis terhadap konten online....misalanya Hindari penyebaran diskriminasi.

ü  Promosi inklusivitas....misalnya Edukasi masyarakat di sekitar.

ü  Partisipasi Aktif....misalnya Dukungan terhadap gerakan digital inklusif.

Ada tantangan dan solusi, minimal kita sebagai guru digita berperan aktif untuk siswa kita sendiri

Tantangan Utama

1.      Stereotip Digital

Persepsi: Masyarakat seringkali memiliki persepsi bahwa teknologi hanya untuk kaum muda, mengabaikan potensi dan kebutuhan kelompok usia lain, seperti lansia atau orang dengan disabilitas.

Akses: Kesenjangan digital yang masih ada menyebabkan akses terhadap teknologi yang tidak merata.

Keterampilan: Kurangnya keterampilan digital di kalangan guru dan siswa menjadi hambatan dalam memanfaatkan teknologi secara efektif.

2.      Kurangnya Kolaborasi Lintas Sektor

Koordinasi: Kurangnya koordinasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta dalam mengembangkan program pendidikan digital yang terintegrasi.

Sumber Daya: Kurangnya sumber daya dan investasi untuk mendukung pengembangan infrastruktur dan pelatihan digital yang memadai.

Pembagian Peran: Kurangnya kejelasan pembagian peran dan tanggung jawab antar sektor dalam mewujudkan pendidikan digital yang inklusif.

Yuks kita cari SOLUSI nya!

Solusi yang Komprehensif

1.      Edukasi Berkelanjutan:

Literasi Digital: Meningkatkan literasi digital bagi semua lapisan masyarakat, termasuk guru, siswa, dan orang tua, melalui program pelatihan dan kampanye edukasi.

Keterampilan Digital: Mengembangkan kurikulum dan program pelatihan yang berfokus pada pengembangan keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Kesadaran: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya teknologi dalam pendidikan dan menghilangkan stereotip digital.

2.      Inovasi Teknologi Inklusif

·       Mengembangkan teknologi yang mudah diakses oleh semua orang, termasuk orang dengan disabilitas, dengan fitur-fitur yang mendukung kebutuhan khusus

·       Menerapkan teknologi yang memungkinkan personalisasi pembelajaran, sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan minat, kemampuan, dan gaya belajar mereka.

·       Mengembangkan platform dan aplikasi digital yang mendukung kolaborasi antar siswa, guru, dan orang tua, serta mendorong interaksi sosial dalam pembelajaran.

Bagaimana agar memiliki semangat Langkah Maju yang Komprehensif, seperti Guru Motivasi Literasi Digital (GMLD) ini bukti konkretnya.

Siapa saja yang dilibatkan, GMLD ini sebagai salah satu wadahnya?

ü  Pemerintah: Membuat kebijakan dan regulasi yang mendukung pengembangan pendidikan digital yang inklusif, serta menyediakan anggaran dan sumber daya yang memadai.

ü  Lembaga Pendidikan: Mengembangkan kurikulum dan program pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi secara efektif, serta melatih guru dalam memanfaatkan teknologi secara optimal.

ü  Sektor Swasta: Berkolaborasi dengan lembaga pendidikan dalam mengembangkan teknologi dan program pendidikan yang inovatif dan terjangkau.

ü  Masyarakat: Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan digital dan mendukung upaya untuk membangun sistem pendidikan yang inklusif.

Idealnya dengan upaya bersama, kita dapat memanfaatkan potensi teknologi untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil, berkualitas, dan berpusat pada siswa, sehingga semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Penutup

Ringkasan:

ü  Dunia digital inklusif adalah kebutuhan bersama.

ü  Dibutuhkan kerjasama lintas sektor dan partisipasi individu.

Teknologi bagi semua kalangan tanpa pandang usia, sosial , fisik maupun strata ekonomi...

Nah..... bapak ibu motivator literasi digital , bagaimana?

Ternyata memerlukan kepedulian dan perhatian pada lingkungan untuk dapat berbuat sesuatu di dunia digital.

Memanusiakan digital dalam kehidupan.

“Nah, bagaimana, Bu Ayu, Bu Diah?”, tanya Pitaloka.

“Agak-agak gemana, gitu?”, keluh Ayu.

“Gemana maksudnya?”, Pitaloka balik bertanya.

“Aku kan tak begitu kenal dengan teknologi…”, kata Ayu.

“Trus, hape tak lepas dari tangan, gemana?”, tanaya Pitaloka.

“Ya…begitulah, hehehe”, Ayu tak bisa berkata-kata.

Subang, 24-12-2024

Resume 9

HADISUSILO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar