Suara kipas angin mederu seperti suara balin-baling helicopter yang kadang terdengar melintas di langit sekolah. Ruang guru yang sepi karena sudah libur sekolah. Terlihat ada dua orang yang berada di ruangan. Matahari belum begitu terik menerpa atap sekolah tetapi udara di ruang guru sudah gerah.
“Sepi”, Diah berucap.
“Yang piket empatan kan, ya?”, tanya Ayu.
“Seharusnya iya. Tapi jam segini lum dating”, jawab Diah.
“Kebiasaan kali, ya?”, Ayu mulai.
“Barangkali ada hal yang tanggung”, jawab Diah agar tak kemana-mana.
“Iya, sih. Tapi juga tergantung orangnya juga”, Ayu tetap mempertahankan
sangkaannya.
Lalu mereka terlihat berkutat dengan gawainya masing-masing. Dari gawai
Ayu terdengar beberapa kali ada tawa-tiwi dan musik. Sementara Diah memainkan
jempolnya tak henti-henti.
“Pagiii….”, suara menyeruak diantara suara kipas angin.
“Pagi”, jawab Diah dan Ayu hampir bersamaan
Pitaloka menyalami Diah dan Ayu. Kemudian menuju mejanya yang berada di
seberang karena ada meja kursi tamu yang memisahkan.
“Bu, kalau menterinya ganti , masih sekolah inklusi nggak ya?”, tanya
Diah pada Pitaloka sekonyong-konyong.
“Kayaknya masih, deh. Memang kenapa?”, tanya Pitaloka balik.
“Yaa ribetlah”, jawab Diah.
“Iya, Bu. Siswa yang biasa aja susah diatur, masih disuruh menangani
siswa yang….gitulah”, Ayu ikut bicara.
“Betul. Sebenarnya kan sudah ada SLB, kenapa kita jadi sekolah serba
ada?”, Dia merespon.
“Jadi kita dituntut serba bisa. Katanya sesuatu kalau nggak ditangani
ahlinya tinggal nunggu kehancurannya. Betul nggak, Bu Diah?”, Ayu jadi sok
hebat.
“Wah…sekalian hadisnya lah”, canda Diah.
“Ntar menikung ustadzah, hehehe”, jawab Ayu.
“Ngomong-ngomong soal iklusivitas, aku punya video tentang inklusivitas
di dunia digital, lo”, ujar Pitaloka.
“Apa itu inklusivitas digital?”, tanya Diah.
“Itu kali soal Agus b*****g kalee”, Ayu nyeletuk.
“Ih..Bu Ayu. Bukan. Ini mah soal Agus….ehhhh inklusiv di dunia digital”,
Pitaloka meluruskan.
“Coba liat…”, Diah penasaran.
“Kita puta raja di tivi gede”, Pitaloka menyarankan.
Ayu yang suka mengoprek-oprek tivi kemudian menyalakannya. Beberapa saat
tivi dapat dioperasikan oleh Ayu.
“Yang mana?”, tanya Ayu sesudah menemukan yuotube.
“Nah…ini”, ujar Pitaloka.
“Nah, betul. Beliau ini seorang konselor,
asesor BAN PDM Jawa Timur, lulusan prodi PAUD UNESA cum laude, dan doktor BK
dari Universitas Negeri Malang. Pokoknya kerenlah”, Pitaloka menegaskan.
Kemudian di layar tivi mode penuh.
Assalamualaikum
warahmatullohi wabarokaatuhhhhsalam kenal semuanyaaaa, salam hormat selalu buat
pegiat literasi digital untuk menyelamatkan diri dan keluarga agar menjadi
digital yang inklusif.
Para guru yg
berdedikasi di dunia digital bersama siswa di kelas yang saya hormati, izinkan
saya akan memberikan hasil uraian saya tentang INKLUSIVITAS DI DUNIA DIGITAL
Mari kita bersama
menyimak apa yg di maksud di inklusivitas digital mari kita diskusikan!
namun sebelumnya
ijinkan sy memberi pantun terlebih dahulu ya
Siang hari yang
cerah berseri, menyapa semua tanpa terkecuali. Di dunia digital kita berbagi,
Inklusivitas harus dijaga bersama
Baik rekan guru
digital setanah air. Mengapa kita mempelajari inklusivitas digital,
Apa itu
Inklusivitas?
ü Kemampuan
mengakomodasi keberagaman.
ü Mencakup
semua golongan, tanpa diskriminasi.
ü Relevan
dalam dunia digital sebagai ruang publik modern.
Dasar Teorinya
sebagai berikut, simak bagan di bawah ini
1.
Keberagaman (Diversity)
· Mengacu
pada variasi karakteristik manusia, seperti ras, etnis, gender, orientasi
seksual, status sosial, budaya, usia, agama, kemampuan fisik, dan lainnya.
· Menurut
teori Diversity Management (Thomas & Ely, 1996), keberagaman meningkatkan
kinerja organisasi melalui kreativitas, inovasi, dan perspektif yang beragam.
2.
Kesetaraan (Equity)
· Berfokus
pada memberikan setiap orang akses yang adil terhadap peluang dan sumber daya
berdasarkan kebutuhan spesifik mereka.
· Pendekatan
ini didukung oleh Equity Theory (Adams, 1963) yang menyoroti perlunya
keseimbangan dalam memperlakukan individu.
3.
Aksesibilitas (Accessibility)
· Penyesuaian
lingkungan, alat, atau proses agar dapat digunakan semua orang, termasuk
penyandang disabilitas atau individu dengan kebutuhan khusus.
· Diinspirasi
oleh Universal Design Theory (Ron Mace, 1980-an), yang berprinsip bahwa
lingkungan harus dapat diakses oleh semua orang tanpa perlu modifikasi khusus.
4.
Keterlibatan (Engagement)
· Mengacu
pada partisipasi aktif individu dalam aktivitas atau komunitas tanpa rasa
terpinggirkan.
· Social
Inclusion Theory (Silver, 1995) menyebutkan pentingnya memasukkan kelompok
terpinggirkan ke dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi secara aktif.
5.
Pengakuan (Recognition)
· Pengakuan
terhadap identitas, pengalaman, dan kontribusi individu dari semua latar
belakang.
·
Merujuk pada teori Recognition Theory
(Honneth, 1995), yang menekankan penghormatan terhadap martabat manusia
sebagai dasar dari inklusivitas.
Nahhh secara
nalar inklusif digital bisa di buktikan bahwa pelaku digital wajib menjadi
bagian dari inklusif dunia digital, bisa di pahami ya mengapa kita wajib menjadi
pengguna inklusif digital????
Nah kita pelajari
dulu definisinya apa yang dimaksud dengan inklusif UNESCO (2005): Inklusivitas
adalah pendekatan dalam semua aspek kehidupan yang memastikan bahwa tidak ada
individu atau kelompok yang dikecualikan karena perbedaan apa pun.
Turner (1982): Inklusivitas
adalah proses sosial yang melibatkan individu dan kelompok dalam semua dimensi
masyarakat secara sejajar, terlepas dari perbedaan ras, gender, atau kelas
sosial.
Ooth dan Ainscow
(2002): Inklusivitas adalah sikap yang terus-menerus menantang semua bentuk
diskriminasi dan berusaha untuk meningkatkan partisipasi serta keberhasilan
semua individu.
Kita hidup dalam
keberagaman.
Ciri-Ciri
Inklusivitas
o Menghormati
perbedaan tanpa memandang latar belakang seseorang.
o Memberikan
kesempatan yang sama kepada semua individu.
o Menghapuskan
hambatan struktural, kultural, dan sosial.
o Memprioritaskan
aksesibilitas di segala aspek, terutama dalam pendidikan dan teknologi.
Inklusivitas
adalah paradigma modern untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kohesi
sosial dan mendorong keadilan
oleh karena itu
kita hidup bersosial? beragam dan berkeadilan?
Mengapa Inklusivitas
Penting????
Menghindari
eksklusi digital (digital divide), apa maksudnya? Semua orang memiliki akses
yang adil dan setara terhadap teknologi digital dan manfaatnya. Ini bukan hanya
soal akses internet dan perangkat, akses, keterampilan, kesempatan tetapi
segala lini, siapa yang setuju ini
Apa bukti ketidak inklusifan di dunia digital? dalam
masyarakat?
Bentuk Ketidakinklusifan di Dunia Digital
1.
Akses Terbatas:
· Infrastruktur
yang tidak merata.
· Biaya
internet tinggi.
2.
Diskriminasi Algoritma:
· Bias
teknologi berbasis data tidak inklusif, misalnya sistem penilaian, platform
pembelajaran online seperti siswa yang memiliki akses internet yang lebih baik
atau siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih tinggi.
3.
Ketidakmampuan Teknologi:
· Platform
tidak mendukung disabilitas (aksesibilitas), misalnya menciptakan platform
digital yang aksesibel untuk semua pengguna, termasuk pengguna dengan
disabilitas, adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan memperhatikan
prinsip-prinsip aksesibilitas dalam desain dan pengembangan platform digital,
kita dapat memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk
mengakses informasi, belajar, dan berpartisipasi dalam masyarakat..
4.
Keamanan dan Privasi:
·
Eksposur berlebihan pada kelompok rentan,
misalnya eksposur berlebihan pada kelompok rentan dalam konteks keamanan
dan privasi digital terjadi ketika data pribadi mereka dikumpulkan, diproses,
dan digunakan tanpa persetujuan yang memadai atau dalam cara yang berpotensi
merugikan mereka..
Ini sering kita
jumpai di masyarakat kita, jadi perlu adanya strategi untuk mengatasi ini semua
agar kita tak terjebak dalam kemunduran, yang memiliki media lengkap lebih
terfasilitasi sedang yang tak tersedia fasilitas semakin kemunduran. Ini yang
terjadi kan?
Nah, yuk kita
mencoba untuk mengatasi satu persatu!
Strategi
Mewujudkan Inklusivitas:
Mewujudkan inklusivitas
dalam dunia pendidikan berarti menciptakan lingkungan belajar yang adil,
setara, dan ramah bagi semua siswa, tanpa memandang perbedaan latar belakang,
kemampuan, atau kebutuhan khusus.
1.
Mengubah Pandangan dan Budaya
Budaya lokal merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang
perlu dilestarikan dan dikembangkan. Dalam konteks pendidikan, penting untuk
menanamkan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda agar mereka memiliki
rasa cinta dan bangga terhadap budaya sendir
2.
Menyesuaikan Kurikulum dan Metode
Pembelajaran
misalnya: Kurikulum Merdeka merupakan salah satu contoh
nyata bagaimana kurikulum dapat disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Kurikulum
ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas dan otonomi bagi guru dalam
memilih materi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhan siswa
3.
Membangun Keterampilan Guru
Guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter,
pengetahuan, dan keterampilan siswa. Mereka tidak hanya sebagai penyampai
informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan mentor. Dalam era
globalisasi dan revolusi industri 4.0, peran guru semakin kompleks dan
menantang. Guru dituntut untuk memiliki keterampilan yang memadai agar dapat
menghadapi perubahan dan tantangan di dunia pendidikan
4.
Meningkatkan Aksesibilitas dan Fasilitas
Aksesibilitas pendidikan berarti memastikan bahwa semua
orang, tanpa memandang latar belakang, kondisi fisik, atau lokasi geografis,
memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas
5.
Peran Orang Tua dan Masyarakat
6.
Orang tua merupakan pendidik pertama dan
utama bagi anak. Mereka memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk karakter,
nilai, dan perilaku anak sejak dini.
o Komunikasi
Terbuka: Membangun komunikasi yang terbuka dan kolaboratif antara sekolah,
guru, dan orang tua untuk memahami kebutuhan dan tantangan siswa.
o Dukungan
Orang Tua: Mendorong orang tua untuk aktif terlibat dalam proses pendidikan
anak dan memberikan dukungan yang diperlukan.
o Kesadaran
Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya inklusivitas
dalam pendidikan dan mendorong partisipasi mereka dalam mendukung
program inklusif.
Contoh
1.
Gerakan Akses Internet untuk Semua
· Program
pemerintah atau swasta.
2.
Platform Media Sosial Aksesibel
· Misalnya,
fitur caption otomatis.
3.
Komunitas Digital Inklusif
· Forum
diskusi aman bagi semua golongan.
Lantas bagaimana
peran kita sebagai pendidik atau sebagai individu??
Menjalankan peran
dengan kompeten...?
Peran Individu
dan Komunitas
ü Kritis
terhadap konten online....misalanya Hindari penyebaran diskriminasi.
ü Promosi
inklusivitas....misalnya Edukasi masyarakat di sekitar.
ü Partisipasi
Aktif....misalnya Dukungan terhadap gerakan digital inklusif.
Ada tantangan dan
solusi, minimal kita sebagai guru digita berperan aktif untuk siswa kita
sendiri
Tantangan Utama
1.
Stereotip Digital
Persepsi: Masyarakat seringkali memiliki persepsi bahwa
teknologi hanya untuk kaum muda, mengabaikan potensi dan kebutuhan kelompok
usia lain, seperti lansia atau orang dengan disabilitas.
Akses: Kesenjangan digital yang masih ada menyebabkan
akses terhadap teknologi yang tidak merata.
Keterampilan: Kurangnya keterampilan digital di kalangan
guru dan siswa menjadi hambatan dalam memanfaatkan teknologi secara efektif.
2.
Kurangnya Kolaborasi Lintas Sektor
Koordinasi: Kurangnya koordinasi antara pemerintah,
lembaga pendidikan, dan sektor swasta dalam mengembangkan program pendidikan
digital yang terintegrasi.
Sumber Daya: Kurangnya sumber daya dan investasi untuk
mendukung pengembangan infrastruktur dan pelatihan digital yang memadai.
Pembagian Peran: Kurangnya kejelasan pembagian peran dan
tanggung jawab antar sektor dalam mewujudkan pendidikan digital yang inklusif.
Yuks kita cari
SOLUSI nya!
Solusi yang
Komprehensif
1.
Edukasi Berkelanjutan:
Literasi Digital: Meningkatkan literasi digital bagi semua
lapisan masyarakat, termasuk guru, siswa, dan orang tua, melalui program
pelatihan dan kampanye edukasi.
Keterampilan Digital: Mengembangkan kurikulum dan program
pelatihan yang berfokus pada pengembangan keterampilan digital yang relevan
dengan kebutuhan dunia kerja.
Kesadaran: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya teknologi dalam pendidikan dan menghilangkan stereotip digital.
2.
Inovasi Teknologi Inklusif
· Mengembangkan
teknologi yang mudah diakses oleh semua orang, termasuk orang dengan
disabilitas, dengan fitur-fitur yang mendukung kebutuhan khusus
· Menerapkan
teknologi yang memungkinkan personalisasi pembelajaran, sehingga siswa dapat
belajar sesuai dengan minat, kemampuan, dan gaya belajar mereka.
· Mengembangkan
platform dan aplikasi digital yang mendukung kolaborasi antar siswa, guru, dan
orang tua, serta mendorong interaksi sosial dalam pembelajaran.
Bagaimana agar memiliki semangat Langkah Maju yang
Komprehensif, seperti Guru Motivasi Literasi Digital (GMLD) ini bukti konkretnya.
Siapa saja yang dilibatkan, GMLD ini sebagai salah satu wadahnya?
ü Pemerintah:
Membuat kebijakan dan regulasi yang mendukung pengembangan pendidikan digital
yang inklusif, serta menyediakan anggaran dan sumber daya yang memadai.
ü Lembaga
Pendidikan: Mengembangkan kurikulum dan program pembelajaran yang
mengintegrasikan teknologi secara efektif, serta melatih guru dalam
memanfaatkan teknologi secara optimal.
ü Sektor
Swasta: Berkolaborasi dengan lembaga pendidikan dalam mengembangkan teknologi
dan program pendidikan yang inovatif dan terjangkau.
ü Masyarakat:
Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan digital dan mendukung
upaya untuk membangun sistem pendidikan yang inklusif.
Idealnya dengan upaya bersama, kita dapat memanfaatkan
potensi teknologi untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil,
berkualitas, dan berpusat pada siswa, sehingga semua orang memiliki kesempatan
yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Penutup
Ringkasan:
ü Dunia
digital inklusif adalah kebutuhan bersama.
ü Dibutuhkan
kerjasama lintas sektor dan partisipasi individu.
Teknologi bagi semua kalangan tanpa pandang usia, sosial ,
fisik maupun strata ekonomi...
Nah..... bapak ibu motivator literasi digital , bagaimana?
Ternyata memerlukan kepedulian dan perhatian pada
lingkungan untuk dapat berbuat sesuatu di dunia digital.
Memanusiakan digital dalam kehidupan.
“Nah, bagaimana, Bu Ayu, Bu Diah?”, tanya Pitaloka.
“Agak-agak gemana, gitu?”, keluh Ayu.
“Gemana maksudnya?”, Pitaloka balik bertanya.
“Aku kan tak begitu kenal dengan teknologi…”, kata Ayu.
“Trus, hape tak lepas dari tangan, gemana?”, tanaya Pitaloka.
“Ya…begitulah, hehehe”, Ayu tak bisa berkata-kata.
Subang, 24-12-2024
Resume 9
HADISUSILO

Tidak ada komentar:
Posting Komentar