Total Tayangan Halaman

Rabu, 25 Desember 2024

DANGDINGDUNG

Berat sama dijinjing ringan sama dipikul. Kata-kata bijak yang tak bisa terbantahkan. Kalau mau bekerja sama semua akan terasa mudah.

“Dang, Ding, Dung…. Makan….!”, suara itu terdengar dari luar kamar.

“Ya…”, suara dari dalam kamar membalasnya.

“Makan yuk!”, ajak Dadang pada kedua saudaranya.

“Males”, jawab Diding.

“Daripada….”, kata Dudung.

Mereka bertiga keluar kamar.

“He…kalian. Main-mainlah sama teman-teman! Di kamar aja, gak sumpek apa? Kayak perempuan. Ntar matang”, ucap ibunya.

“Katanya nggak boleh main. Di rumah aja. Gemana sih, Bu? Nggak konsekuen”, ptotes Dadang..

“Maksudku, mainnya jangan di kamar. Sumpek. Bau. Jangan keluar rumah, ntar item”, ujar ibunya.

“Ye, ye, ye, ye…..”, Dadang bersuara tak jelas dengan bibir menyon.

Diding dan Dududng tak berkomentar atas pernyataan ibunya. Mereka memang tak banyak bicara. Tanpa banyak kata mereka bertiga menyantap nasi goreng bikinan ibunya. Dadang dan Diding menaruh piring di zink tanpa kata.

“Cuci piringnya!”, ucap ibunya.

“Ntar ada Dudung”, jawab Dadang.

Memang setiap habis makan, Dudunglah yang kebagian mencuci piring. Dudung gerakannya tak secepat Dadang dan Diding. Mereka sudah punya komitmen kalau teakhir makan berarti mencuci piring. Kesepakatan mereka tak menimbulkan percekcokan dan pertengkaran seperti di DPR. Mereka tetap rukun, kompak, dan damai.

“Ding, Dung, bosen di rumah, ya?”, Dadang memulai percakapan.

“Iya, sih. Cuma kita moa pa?”, jawab Diding.

“Ya, maksudku kita bikin apalah. Masa liburan hardolin?”, ucap Dadang kesal.

Dudung yang sudah selesai mencuci piring, bergabung dengan mereka berdua. Duduk menyandarkan ke kursi yang diduduki Dadang dan tak berucap apapun.

“Dung, punya ide?”, tanya Dadang.

Dudung tak menjawab pertanyaan Dadang, hanya menggelengkan  kepalanya dan tetap menyalakan hape yang dipegangnya.

“Ayolah, ide, ide, ide. Masa kalian nggak punya ide sama sekali”, Dadang sewot sendiri.

“Kita bikin chanel youtube, yuk!”, tiba-tiba Diding mengusulkan.

“Nah, gitu. Sepakat. Dung?”, Dadang menanyai Dudung.

Dudung tak menjawab lagi, tapi dia mengangkat bahuya seperti akting film di tivi. Bahkan tak melihat ekspresi Dadang ketika bertanya.

“Kita harus punya jatidiri. Kita nggak boleh terbawa arus hanya menjadi konsumen, pengguna, penikmat dari platform medsos. Kita ubah dunia kita menjadi orang yang produktif”, Dadang menyemangati kedua saudaranya.

“Betul. Kita belajar dari chanel orang lain untuk berlatih da mengembangkan diri”, tambah Diding.

“Ya… aku jadi ingat. Medsos itu bisa berakibat baik dan buruk seperti pisau. Tergantung penggunanya”, Dadang tambah bersemangat.

“Dung, nyalakan laptop!”, Dadang menyuruh Dudung menghidupkan laptop.

“Kan bisa pake hape”, kali ini Dudung menjawab.

“Maksudku, biar kita bertiga sama-sama melihatnya. Masa kamu bikin kami berdua bengong. Ntar disangka bullying”, jelas Dadang.

Dudung tak berkata-kata lagi dan menyalakan laptop. Setelah menunggu booting yang menyebalkan, akhirnya laptop menyala dengan latar foto mereka bertiga. Setelah laptop nyala, Dudung membiarkannya.

“Ayo, mulai!”, kata Dadang.

Dudung menoleh ke arah Dadang tapi tak berkata apapun.

“Mau ngapain?”, tanya Diding.

“Kan bikin chanel, gemana, sih”, ucap Dadang agak kesal.

Lalu mereka berdebat soal email yang digunakan, soal nama chanel-nya, soal logonya, soal isinya, soal sasaran penontonnya, soal….

“Oke, soal logo, seperti latar lapotop kita aja. Namanya, apa, ya?”, Dadang masih berpikir.

‘3D’ tertulis di layar. Dudung memberikan nama ‘3D’, tanpa berkata pada kedua saudaranya. Kedua saudaranya masih membicarakan saol nama chanel-nya.

“Hebat kau, Dung!”, kata Dadang sambil mendorong kepala Dudung dengan kedua jarinya.

“Kita sudah menjadi agen perubahan. Ntar aku kan bilang ke guru TIK, kalau kita sudah menjadi agen perubahan. Kita tak hanya pengguna, kita produktif. Kita punya chanel youtube. Kita akan isi dengan hasil kreatif kita”, ujar Diding semangat.

“Ya, betul, kita harus berkarya untuk konten kita”, Dadang tak kalah semangatnya.

“Ntar tugas-tugas yang diberikan pada kita, kita kontenin aja!”, kata Diding.

“Tugas kamu, Dung, konsultasi pada Pak Zein, soal konten-konten kita”, Dadang menatap Dudung.

Seperti biasanya, Dudung tak berkata-kata, ia hanya menatap Dadang dengan apa yang dikatakannya. Namun ia mengerti.

“Ya, Dung. Supaya konten-konten kita nggak dikatakan konten yang merusak, tapi justru konten yang bermanfaat. Kita juga mau buat onten Pelajaran buat adik-adik SD, gitu”, tambah Diding.

Dudung tak menjawab ya atau tidak apa-apa yang disuruhkan kepadanya, namun Dudung menuiskan semua yang akan dikontenkan di catatan digitalnya. Ia mencatat beberapa yang diingatnya. Dudung mencatat tentang bagaimana membuat google form untuk anak SD. Dudung juga mencatat bagaimana cara melakukan sesuatu dengan mudah. Melakukan sesuatu itu ia beri tanda kurung (lihat pelajaran yang dipraktekkan di SD).

“Kita mau perubahan dengan segala kemampuan, musik. Kita mau menayangkan lewat kita bermusik. Ntar kamu bukin lagu ya, Dung! Kita mau bikin konten nari. Ntar temen kita suruh nari kita rekam, Oke. Hehehe…”, Dadang memang semangat.

“Kalo kita bikin video kayak konten kreator, gemana?”, usul Diding.

“Itu agak susah. Kita harus belajar pengambilan gambar yang melibatkan Teknik pencahayaanlah, efek ini itu. Tapi boleh juga ntar kita cob acari tahu di youtube”, jawab Dadang memberi solusi.

“Bagaimana kalau kita juga menayangkan tentang bahaya narkoba, pergaulan bebas?”, tanya Diding.

“Kita menyiarkan aja video orang lain di chanel kita. Jadi yang menasihati orang lain bukan kita, kita yang cari sumber videonya”, jawab Dadang.

Jemari Dudung kemudian berselancar di laptop mencari apa yang diucapkan oleh Diding. Dengan keterampilan IT-nya Dududng mengunduh konten yang berhubungan dengan bahaya narkoba, perundungan, dan pergaulan bebas. Sementara Dadang dan Diding bermain hape. Tak lama hapenya dibanting ke kasur. Ia berdiri dan mengambil guitar.

“Latihan, yuk!”, Dadang berganti Haluan.

Dudung yang sedari tadi mantengin laptop, akhirnya menutupnya dan beranjak dari duduknya. Setelahnya dikemasinya ke dalam tas dan disimpannya di meja. Diambilnya keybord kecil yang biasa dipakai buat main musik bertiga.

“Ding, katanya Uah mau jadi vokal. Jadi nggak?”, tanya Dadang.

“Jadilah, kan buat konten kita biar banyak yang like, hehehe”, candanya.

Dadang, Diding, dan Dudung dengan nama belakang Mulia, kembar tiga yang ingin perubahan memulai membuat konten kreator di platform youtube dengan chanel 3D.

Subang, 26-12-2024

Resume 10

HADISUSILO 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar