Berat sama
dijinjing ringan sama dipikul. Kata-kata bijak yang tak bisa terbantahkan.
Kalau mau bekerja sama semua akan terasa mudah.
“Dang, Ding,
Dung…. Makan….!”, suara itu terdengar dari luar kamar.
“Ya…”, suara
dari dalam kamar membalasnya.
“Makan yuk!”,
ajak Dadang pada kedua saudaranya.
“Males”, jawab
Diding.
“Daripada….”,
kata Dudung.
Mereka bertiga
keluar kamar.
“He…kalian.
Main-mainlah sama teman-teman! Di kamar aja, gak sumpek apa? Kayak perempuan.
Ntar matang”, ucap ibunya.
“Katanya nggak
boleh main. Di rumah aja. Gemana sih, Bu? Nggak konsekuen”, ptotes Dadang..
“Maksudku,
mainnya jangan di kamar. Sumpek. Bau. Jangan keluar rumah, ntar item”, ujar
ibunya.
“Ye, ye, ye,
ye…..”, Dadang bersuara tak jelas dengan bibir menyon.
Diding dan
Dududng tak berkomentar atas pernyataan ibunya. Mereka memang tak banyak
bicara. Tanpa banyak kata mereka bertiga menyantap nasi goreng bikinan ibunya. Dadang
dan Diding menaruh piring di zink tanpa kata.
“Cuci
piringnya!”, ucap ibunya.
“Ntar ada
Dudung”, jawab Dadang.
Memang setiap
habis makan, Dudunglah yang kebagian mencuci piring. Dudung gerakannya tak
secepat Dadang dan Diding. Mereka sudah punya komitmen kalau teakhir makan
berarti mencuci piring. Kesepakatan mereka tak menimbulkan percekcokan dan
pertengkaran seperti di DPR. Mereka tetap rukun, kompak, dan damai.
“Ding, Dung,
bosen di rumah, ya?”, Dadang memulai percakapan.
“Iya, sih. Cuma
kita moa pa?”, jawab Diding.
“Ya, maksudku
kita bikin apalah. Masa liburan hardolin?”, ucap Dadang kesal.
Dudung yang
sudah selesai mencuci piring, bergabung dengan mereka berdua. Duduk
menyandarkan ke kursi yang diduduki Dadang dan tak berucap apapun.
“Dung, punya
ide?”, tanya Dadang.
Dudung tak
menjawab pertanyaan Dadang, hanya menggelengkan
kepalanya dan tetap menyalakan hape yang dipegangnya.
“Ayolah, ide,
ide, ide. Masa kalian nggak punya ide sama sekali”, Dadang sewot sendiri.
“Kita bikin chanel
youtube, yuk!”, tiba-tiba Diding mengusulkan.
“Nah, gitu.
Sepakat. Dung?”, Dadang menanyai Dudung.
Dudung tak
menjawab lagi, tapi dia mengangkat bahuya seperti akting film di tivi. Bahkan
tak melihat ekspresi Dadang ketika bertanya.
“Kita harus
punya jatidiri. Kita nggak boleh terbawa arus hanya menjadi konsumen, pengguna,
penikmat dari platform medsos. Kita ubah dunia kita menjadi orang yang
produktif”, Dadang menyemangati kedua saudaranya.
“Betul. Kita
belajar dari chanel orang lain untuk berlatih da mengembangkan diri”, tambah
Diding.
“Ya… aku jadi
ingat. Medsos itu bisa berakibat baik dan buruk seperti pisau. Tergantung
penggunanya”, Dadang tambah bersemangat.
“Dung, nyalakan
laptop!”, Dadang menyuruh Dudung menghidupkan laptop.
“Kan bisa pake
hape”, kali ini Dudung menjawab.
“Maksudku, biar
kita bertiga sama-sama melihatnya. Masa kamu bikin kami berdua bengong. Ntar
disangka bullying”, jelas Dadang.
Dudung tak
berkata-kata lagi dan menyalakan laptop. Setelah menunggu booting yang
menyebalkan, akhirnya laptop menyala dengan latar foto mereka bertiga. Setelah
laptop nyala, Dudung membiarkannya.
“Ayo, mulai!”,
kata Dadang.
Dudung menoleh
ke arah Dadang tapi tak berkata apapun.
“Mau ngapain?”,
tanya Diding.
“Kan bikin chanel,
gemana, sih”, ucap Dadang agak kesal.
Lalu mereka
berdebat soal email yang digunakan, soal nama chanel-nya, soal logonya,
soal isinya, soal sasaran penontonnya, soal….
“Oke, soal
logo, seperti latar lapotop kita aja. Namanya, apa, ya?”, Dadang masih
berpikir.
‘3D’ tertulis
di layar. Dudung memberikan nama ‘3D’, tanpa berkata pada kedua saudaranya.
Kedua saudaranya masih membicarakan saol nama chanel-nya.
“Hebat kau,
Dung!”, kata Dadang sambil mendorong kepala Dudung dengan kedua jarinya.
“Kita sudah
menjadi agen perubahan. Ntar aku kan bilang ke guru TIK, kalau kita sudah
menjadi agen perubahan. Kita tak hanya pengguna, kita produktif. Kita punya
chanel youtube. Kita akan isi dengan hasil kreatif kita”, ujar Diding semangat.
“Ya, betul,
kita harus berkarya untuk konten kita”, Dadang tak kalah semangatnya.
“Ntar
tugas-tugas yang diberikan pada kita, kita kontenin aja!”, kata Diding.
“Tugas kamu,
Dung, konsultasi pada Pak Zein, soal konten-konten kita”, Dadang menatap
Dudung.
Seperti
biasanya, Dudung tak berkata-kata, ia hanya menatap Dadang dengan apa yang
dikatakannya. Namun ia mengerti.
“Ya, Dung.
Supaya konten-konten kita nggak dikatakan konten yang merusak, tapi justru
konten yang bermanfaat. Kita juga mau buat onten Pelajaran buat adik-adik SD,
gitu”, tambah Diding.
Dudung tak
menjawab ya atau tidak apa-apa yang disuruhkan kepadanya, namun Dudung
menuiskan semua yang akan dikontenkan di catatan digitalnya. Ia mencatat
beberapa yang diingatnya. Dudung mencatat tentang bagaimana membuat google
form untuk anak SD. Dudung juga mencatat bagaimana cara melakukan
sesuatu dengan mudah. Melakukan sesuatu itu ia beri tanda kurung (lihat
pelajaran yang dipraktekkan di SD).
“Kita mau
perubahan dengan segala kemampuan, musik. Kita mau menayangkan lewat kita
bermusik. Ntar kamu bukin lagu ya, Dung! Kita mau bikin konten nari. Ntar temen
kita suruh nari kita rekam, Oke. Hehehe…”, Dadang memang semangat.
“Kalo kita
bikin video kayak konten kreator, gemana?”, usul Diding.
“Itu agak
susah. Kita harus belajar pengambilan gambar yang melibatkan Teknik
pencahayaanlah, efek ini itu. Tapi boleh juga ntar kita cob acari tahu di youtube”,
jawab Dadang memberi solusi.
“Bagaimana
kalau kita juga menayangkan tentang bahaya narkoba, pergaulan bebas?”, tanya
Diding.
“Kita
menyiarkan aja video orang lain di chanel kita. Jadi yang menasihati
orang lain bukan kita, kita yang cari sumber videonya”, jawab Dadang.
Jemari Dudung
kemudian berselancar di laptop mencari apa yang diucapkan oleh Diding. Dengan
keterampilan IT-nya Dududng mengunduh konten yang berhubungan dengan bahaya
narkoba, perundungan, dan pergaulan bebas. Sementara Dadang dan Diding bermain
hape. Tak lama hapenya dibanting ke kasur. Ia berdiri dan mengambil guitar.
“Latihan,
yuk!”, Dadang berganti Haluan.
Dudung yang
sedari tadi mantengin laptop, akhirnya menutupnya dan beranjak dari duduknya.
Setelahnya dikemasinya ke dalam tas dan disimpannya di meja. Diambilnya keybord
kecil yang biasa dipakai buat main musik bertiga.
“Ding, katanya
Uah mau jadi vokal. Jadi nggak?”, tanya Dadang.
“Jadilah, kan
buat konten kita biar banyak yang like, hehehe”, candanya.
Dadang, Diding,
dan Dudung dengan nama belakang Mulia, kembar tiga yang ingin perubahan memulai
membuat konten kreator di platform youtube dengan chanel 3D.
Subang, 26-12-2024
Resume 10
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar