Suara traktor bajak sawah menderu di sepanjang jalan yang melewati persawahan. Nata memperhatikan setiap aktivitas yang dilakukan para pahlawan perut. Seorang ibu meniti galengan dengan membawa gendongan menuju gubuk di tengah sawah. Di beberapa petak para lelaki ada yang mendorong-dorong lumpur dengan alat tradisional. Mencangkul, mencabut benih, ada yang hanya mengobrol dengan asap rokok mengepul di antaranya. Jalan menuju stasiun kereta api mengharuskan Nata melihat aktivitas Bertani di musim tanam akhir tahun ini. Sebenarnya ada stasiun Pagaden yang lebih dekat dengan rumahnya namun ia sengaja berangkat dari stasiun KA di Haurgeulis karena kereta yang berangkat ada yang siang hari. Dengan perjalanan di siang hari diharapkan sampai tujuan tak akan kemalaman. Perjalanannya menuju stasiun memang memakan waktu lebih dari 30 menit. Apalagi banyak kendaraan besar yang melewati jalan yang sejalur dengan perjalanannya. Jalan kabupaten yang tak begitu lebar menyebabkan beberapa kendaraan besar tak bisa memacu kendaraannya dengan kencang. Nata menikmati perjalanan sebelum perjalanan panjang dengan kereta api. Kendaraan yang ditumpanginya pun mengikuti irama perjalanan kendaraan lainnya dengan kecepatan yang fluktuatif.
Sungai Cipunagara
yang memisahkan kabupaten Subang dan Indramayu dihubungkan dengan jembatan
Cipunagara Hauegeulis. Sungai nampak deras dengan debit air yang cukup tinggi. Sesudah
melewati jembatan lalulintas tak begitu ramai. Kendaraan besar tak menuju ke
Haurgeulis tetapi menuju jalan pantura. Dengan begitu perjalanan sesudah
jembatan menjadi lancar dan dapat memacu kendaraan dengan leluasa.
Sesudah menunjukkan
tiket kepada petugas, Nata dipersilakan menunggu di ruang tunggu penumpang. Nata
mengeluarkan gawainya dari tas pinggang yang diselendangkan seperti kebanyakan
orang. Sambil menunggu kereta yang akan ditumpanginya ia berselancar di youtube.
‘Strategi Menangkal Hoak’, sebuah caption di salah satu chanel
youtube.
Bel khas
stasiun KA berbunyi dan ‘Mohon perhatian! Kereta Api Fajar Utama Solo jurusan
Solo Balapan tiba dari arah Jakarta di lintasan 3. Para penumpang KA Fajar Utama
Solo dimohon mempersiapkan diri’.
Nata segera
menutup hapenya dan memasukkan kembali ke tas pinggangnya sambil meraih tas
gandongnya kemudian berjalan menuju peron 3. Beberapa penumpang melakukan hal yang
sama seperti Nata. Banyak penumpang yang diantar sanak saudaranya dan berucap
selamat jalan. Nata hanya seorang diri dengan diantar oleh ojek online.
Semua penumpang
menaiki gerbong kereta sesuai nomor yang tertera di tiket dengan bawaannya
masing-masing. Nata juga demikian. Di dalam gerbong ia mencari nomor kursinya,
18D. Ia sengaja memilih tempat duduk dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan
sepanjang perjalanan. Kusri sebelahnya masih kosong. Ia tak menghiraukan. Ia kembali
mengaktifkan hapenya.
“Assalamu’alaikum
warahmatulullahi wabarakaatuh. Salam jumpa kembali dengan saya Dail Ma’ruf. Pada
kesempatan ini saya kedatangan seorang ibu yang hebat di tengah-tengah kesibukannya
sebagai sebagai seorang ibu. Tak kenal maka tak sayang. Lely Suryani, S.Pd. Gr.
Terlahir pada25 juli 1972 di Banjarnegara Jawa Tengah. Beliau sehari-harinya
mengabdi di SDN 1 Gumelem Kulon. Setelah lulus dari KBMN gelombang 23, eh..maaf
founder KBMM, beliau banyak menyelesaikan tulisan solo maupun keroyokan. Beliau
juga segabai guru penggerak Angkatan 5. Ia juga menyibukkan diri sebagai editor
Melintas.id”, demikian ucapan pemilik podcast memulai.
“Wa’alaikumussalam
warahmatulullahi wabarakatuh. Terima kasih seniorku Bapak Dail Ma’ruf”, jawaban
sang tamu.
“Baiklah, kita
akan bicang-bincang soal hoaks yang sering menjadi keluhan banyak orang”,
lanjut Dail.
“Hoaks, kata
yang sangat mengerikan”, balasnya pendek.
“Ya, ya, banyak
orang menganggapnya begitu. Tapi apakah suatu yang mengerikan harus kita
hindari? Bagaimana jika kita tak dapat menghindari?”, Dail melanjutkan
pertanyaannya.
“Baiklah. Hoaks
adalah informasi palsu atau kebohongan yang disebarluaskan melalui berbagai
saluran, seperti media sosial, situs web, atau aplikasi pesan. Hoaks memiliki
tujuan membuat kekacauan atau ketakutan masyarakat, menghasut atau memprovokasi
konflik, memperngaruhi opini publik, meningkatkan trafik situs web atau
aplikasi, dan mencari keuntungan pribadi atau kelompok”, Lely mengungkapkan.
Kereta sudah
mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Melewati permukiman, persawahan, dan
perlintasan. Nata memandangi dengan selintas sambil menyimak youtube-nya.
Nata melihat pemandangan yang hampir sama ketika melewati persawahan.
“Ada beberapa
jenis hoaks yaitu berita palsu (fake news), desas-desus (gossip),
propaganda, disinformasi (penyebaran informasi yang salah), misinformasi
(penyebaran informasi yang tidak akurat)”, lanjut Lely.
“Wah.. ngeri
sekali. Trus bagaimana kita mengenali hoaks?”, tanya Dail lagi.
“Inilah
karakteristik hoaks. Judul sensasional untuk memancing rasa penasaran dan
memicu emosi. Kemudian sumber tak jelas sehingga informasi tak akurat. Dan jelas
akan menyesatkan”, kata Lely.
“Pantesan hoaks
mudah tersebar, soalnya judulnya sensaional, sih”, Dail kesal.
“Itulah. Hoaks mudah
tersebar karena kecepatan informasi yang mudah disebar melalui medsos dan
internet. Kedua, kurangnya literasi digital sehingga masyarakat kurang mampu
mengidentifikasi kebenaran informasi. Ketiga, bersifat viral karena melalui
berbagi dan like. Dan yang keempat, ada kepentingan politik dan ekonomi
sehingga dimanfaatkan untuk mempengaruhi opini publik”, ucap Lely.
“Pasti
menimbulkan dampak, dong?”, Dail penasaran.
“Tentu. Hoaks menimbulkan
dampak ketegangan sosial karena memicu konflik di masyarakat. Dapat merugikan
ekonomi karena mempengaruhi pasar saham. Merugikan secara psikologis karena
menimbulkan rasa takut, ketidakpercayaan, dan kecemasan. Selain itu bisa
menurunkan kredibilitas media”, jelasnya.
“Tapi kenapa
masyarakat terpengaruh oleh hoaks?”, tanya Dail lagi.
“Hoaks dapat
menciptakan ketidakpastian dan kebingungan, dapat memicu amarah dan kebencian,
menyebarkan rasa takut dan panik, semua itu dapat mengurangi kepercayaan
masyarakat”, penjelasan Lely.
“Lalu bagaimana
mendeteksi hoaks?”, tanya Dail lagi.
“Pertama,
periksa sumber berita. Kemudian cari
informasi dari berbagai sumber, selanjutnya verifikasi fakta, dan waspada
terhadap judul sensasional”, jawabnya.
“Maaf, Bu.
Kenapa hoaks marak di medsos dan internet? Apa tak ada pidananya?”, tanya Dail
ragu.
“Ada
undang-undang yang mengaturnya. UU ITE terbaru adalah UU Nomor 1 tahun 2024
yang merupakan perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (ITE)”, jelas Lely.
“Berarti
pemerintah peduli dengan itu, ya”, tanyanya menegaskan.
“Peran
pemerintah dan masyarakat dalam menangkal hoaks adalah meningkatkan literai
digital, membuat regulasi yang tegas untuk meningkatkan penyebaran hoaks,
meningkatkan peran media untuk mengedukasi publik tentang hoaks, dan
peningkatan kewaspadaan masyarakat”, pungkas Lely.
“Maaf Pak,
bantal”, seorang pramugari mengejutkan Nata.
“Terima kasih”,
ucap Nata sambil menerima bantal yang wangi.
Nata menaruh
bantal di pangkuannya. Ia tak menyadari kalau kursi di sebelahnya ada seorang pemuda
yang sedang asyik dengan headset-nya. Mereka bertatap pandang, keduanya
melempar senyum karena keduanya mennggunakan headset.
Nata menahan
menguap. Matanya terasa cape. Goyangan kereta yang tadinya tak terasa, kini menyebabkan
dirinya seperti seperti duduk di kursi goyang. Nata menyandarkan kepalanya di
sandaran kursi. Nata tak kuat menahan rasa kantuknya.
Subang, 22-12-2024
Resume 5
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar