Postingan di medsos ramai oleh penilaian dan pengisian rapor. Ini berarti aura liburan sudah terasa. Di televisi sering disiarkan berita libur nataru.
Lely tak
merencanakan liburan di akhir tahun ini. Ia ingin memanfaatkan waktu liburnya
untuk kegiatan yang bisa menjadikannya fresh walaupun bukan traveling. Ia
merebahkan badannya di karpet bludru di depan tivi. Bantal panjang mengganjal
kepalanya. Tangannya memegang gawai kesayangannya. Sebentar berganti dengan
remote tivi untuk memindahkan chanel yang ada acara yang lebih menarik.
Sesekali menguap panjang. Matanya mulai meredup. Akhirnya tivi yang diputarnya
yang menyaksikan tidurnya. Lely merasa terhormat berada di kursi yang
berhadapan dengan kursi lainnya di suatu panggung. Ia membaca tulisan yang
terpampang di banner ‘Mengembangkan Minat dan Bakat Melalui Dunia Digital’
sebagai judul. Tertulis namanya sebagai moderator dan Dail Ma’ruf, M.Pd.
sebagai narasumber. Terdapat logo PGRI di sudut kanan.
Lely melayangkan
pandangannya ke seluruh ruangan. Tak ada seorang pun. Hanya kursi-kursi kosong
tertata di depan panggung. Mikropon yang tertempel dibajunya terasa agak
mengganggu gerakannya. Ia mencoba memindahkan mikropon ke sebelah sisi kirinya.
Ia mencoba berbicara. Tak ada suara terdengar dari sound system. Kemudian ia
memindahkan kembali ke sisi kanan. Ia mencoba berbicara. Suaranya menggema ke
seluruh ruangan.
“Ini kayaknya
bukan seminar biasa, deh”, pikirnya. Ia lebih yakin kalau acaranya sebuah talk
show, dan ia menjadi host-nya. Tetapi apapun namanya Lely tak
memedulikannya. Ia berharap acaranya lancar dari awal sampai akhir. Bermanfaat
bagi masyarakat.
“Bu Lely sudah
siap?”, seseorang mengagetkannya.
“Siyap”,
jawabnya agak gugup.
“Bisa kita
mulai sekarang?”, tanyanya lagi.
“Bapak Dail
Ma’ruf?”, tanyanya ragu.
“Ya, saya
sendiri”, jawabnya singkat.
Setelah menata
detak jantung dan komat-kamit entah mengucapkan sesuatu yang tak terdengar,
Lely duduk dengan tegap.
“Assalamu’alaikum
warahmatulullahi wabarakaatuh”, ucapnya lantang terdengar sampai ke sudut-sudut
ruangan.
“Waalaikumussalam
warahmatulullahi wabarakaatuh”, jawab Pak Dail.
Lely segera
mengucapkan banyak kata pembukaan kepada audience kemudian memperkenalkan sang
narasumber.
“Narasumber
kali ini Bapak Dail Ma’ruf, M.Pd. Lahir pada 13 Mei 1977 di Serang. Setelah
menyelesaikan Pendidikan dasar dan menengahnya, beliau menyelesaikan S1 bahasa
arab, dilanjutkan dengan S2, dan sekarang sedang menempuh Pendidikan S3 di UMM.
Selain sebagai peneliti belaiu juga pernah mengajar dibeberapa sekolah sampai
sebelum mendirikan Yayasan Yasalam di tahun 2022. Pada tahun berikutnya
mendirikan Portal online Melintas Pendidikan bersama tiga rekannya yaitu saya
sendiri Lely, Pak Ahmad, dan Pak Brian. Beliau juga menjadi instruktur dan
narasumber”, panjang lebar Lely memperkenalkan narasumbernya.
“Terima kasih
Bu Lely”, ucapnya singkat.
“Hadirin
sekalian selanjutnya kita akan berbincang-bincang dengan beliau sampai tuntas”,
tutur Lely selanjutnya.
“Silakan,
dimulai dari mana?”, Pak Dail menyilakan.
“Di masa kini
hampir setiap orang bermain di dunia digital. Nah bagaimana caranya agar kit
aini ni bukan hanya sebagai penonton yang hanya bertepuk tangan, teriak-teriak
sambil ngopi. Gemana ini?”, sebuah pertanyaan awal dari Lely.
“Betul sekali.
Sepertinya hanya buang uang sia-sia kalau kita tak pandai memanfaatkan dunia
digital yang kita jalani. Perkembangan teknologi sangat cepat sehingga
memengaruhi berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan, pendidikan, dan
interaksi sosial”, jawabnya.
“Lalu bagaimana
seharusnya kita menyikapi hal tersebut?”, pertanyaan Lely selanjutnya.
“Karena
perkembangan teknologi yang cepat tersebut, kita harus mengimbanginya dengan
mengembangkan potensi pada diri kita”, jelasnya.
“Caranya?”
“Ada 6 alasan
mengapa kita harus mengembangkan potensi diri di era digital saat ini. Pertama,
mengembangkan potensi diri dengan teknologi, komunikasi, dan kreativitas agar
tetap relevan dan kompetitif. Kedua, beradaptasi dengan perubahan perkembangan
teknologi. Ketiga, menciptakan peluang baru agar dapat meningkatkan kualitas
hidup dan mencapai tujuan. Keempat, meningkatkan efisiensi dan produktivitas
keterampilan digital seperti menggunakan perangkat lunak, alat kolaborasi, atau
kecerdasan buatan baik dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari. Kelima,
memperluas jaringan dan relasi. Digitalisasi memungkinkan orang dengan mudah
terhubung dengan platform media sosial atau komunitas online.
Keenam, meningkatkan kreativitas dan inovasi. Dengan akses informasi yang melimpah dan alat-alat kreativitas
berbasis teknologi, kita bisa
menyelesaikan masalah, menciptakan produk, atau memberikan solusi
inovatif”, jelasnya panjang lebar.
“Wah wah wah”,
ucap Lely sambil bertepuk tangan.
Pak Dail
mengambil minum yang sudah disediakan di gelas jernih. Basah bibirnya diusap
dengan tisu dekat vas bunga.
“Kita terus?”,
tantangnya kemudian.
“Ok. Dengan 6
alasan yang Bapak sebutkan tadi, terus bagaimana caranya kita meningkatkan
potensi diri?”, sambung Lely.
“Nah, ini poin
kita. Langkah yang pertama, kita harus menemukan passion kita. Kegiatan
apa yang membuat kita bahagia, semangat, menuliskah, bikin videokah, atau
apalah. Dari salah satu kegiatan tersebut yang paling membuat kita bahagia dan
semangat, itulah passion kita”.
“Bisa dipahami.
Lanjut”, ucap Lely.
“Langkah kedua,
pelajari keterampilan baru. Sesudah menjalani passion, kembangkan dengan
keterampilan baru yang bisa meningkatkan aktualisasi diri”.
“Berarti selain
passion yang kita punya, kita harus mengembangkan diri dengan
keterampilan baru gitu?”, Lely mempertegas.
“Betul.
Langkah selanjutnya yang ketiga, membangun portofolio digital. Apa itu
portofolio digital? Kita harus memiliki berbagai macam aku medsos. Kemudian
kembangkan lagi dengan akun blog. Semua akun bisa digunakan untuk
mempublikasikan apa yang sudah kita produksi ke semua akun medsos. Kemudian
langkah keempat adalah mengikuti atau bergabung dengan komunitas online.
Lingkungan akan membentuk karakter. Dengan bergabung dengan komunitas online
niscaya karakter kita akan terbentuk secara perlahan-lahan. Langkah yang kelima
yaitu membangun personal branding. Langkah ini mungkin tak semua orang bisa
melampuinya. Seperti yang saya alami. Saya bisa dijuluki presiden lomba dengan
melalui tahapan yang tida mudah. Dan langkah terakhir adalah eksplorasi
teknologi baru dengan puncaknya adalah artificial intelegence (AI). Tamat”, Pak
Dail mengakhiri.
“Pakeet”,
suara dari luar mengagetkan Lely. Ia tersentak dan segera bangun mendengar
suara dari luar. Kemudian ia membuka pintu. Di luar sudah ada tukang paket yang
menenteng sebuah paket.
“Lely Suryani?”, tanya tukang paket. Lely
menganggguk.
Tukang
paket memberikan paket yang dibawanya.
“Boleh
ambil foto?”, tanya tukang paket lagi.
Resume 3, 20-12-2024
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar