‘Gerimis
Mengundang’, sebuah judul lagu Slam tahun 1995 didendangkan oleh seorang yang
awet cantik, Sri. Nama yang menunjukkan bangsa. Bidadari di langit mentikkan
air mata. Suasana sejuk di suatu siang di bulan Desember. Sofa empuk menjadi
tempat bersantai sambil menikmati teh tak manis. Kenapa? Karena yang
manikmatinya sudah manis. Takut diabet. Sri bukan orang yang suka melamun. Dipangkuannya
ada tablet yang selalu menemaninya. Bukan tablet obat, ya, tapi komputasi
portabel. Jari jemarinya menari di atas layarnya. Terkadang diselingi seruputan
teh atau menilhat langit-langit yang tak pernah tahu kalau sedang dilihatnya.
Kemudian pandangannya kembali ke tablet. Jemarinya kembali menari di layar.
Sesekali melihat ke arah jam dinding artistik yang berada di atas lukisan. Kemudian
mengembalikan ke awal tulisan.
“Betapa riuh
rendahnya dunia medsos saat ini. Tiap waktu ada-ada berita yang menyesakkan
dada. Kalau tak menyesakkan mengarah ke membuat geram. Ada berita tentang
kesengsaraan, penderitaan, kesedihan atau malapetaka yang disebabkan oleh orang
lain atau kelakuan dirinya sendiri. Semua kejadian di dunia ini harus viral.
Ya. Viral mejadi sebuah kata yang kemunculannya mendominasi saat ini. Pengguna
medsos bisa memviralkan kelakuan, tindakan, kata-kata, atau apa saja tentang orang
lain.
Secara naluri
manusia ingin diakui eksistensinya. Pemikiran itu ditangkap oleh pemilik plafon
medsos. Oleh karena itu, disediakanlah tempat untuk mengaktualisaskan diri di
setiap plafon medsos. Para pengguna medsos lalu menggunakan tempat aktualisasi
diri itu untuk berbagai keperluan. Ada yang menggunakan sebagai tempat curhat,
mengeluarkan semua isi hati yang tak berani mengungkapkan secara verbal kepada
orang lain, ada yang menggunakan sebagai tempat pemberitahuan tentang dirinya,
bahkan banyak yang menggunakan untuk mengumpat karena kekesalannya kepada orang
lain.
Semua yang
pernah kita unggah ke medsos atau internet ternyata menjadi sebuah jejak yang
tak akan pernah hilang. Ya, tak akan pernah hilang. Kekal? Tidak juga. Semua
tergantung kebijakan pemilik platform. Dalam hal ini pengguna
medsos/internetlah yang harus bijaksana. Bagaimana menggunakan medsos yang
bijaksana….”
Ada yang
mengetuk pintu. Bukan pintu hati, tapi pintu rumah. Sri segera meletakkan
tabletnya di sisi cangkir teh yang isinya hampir habis. Kakinya bergerak-gerak.
Gerakan kakinya tak selincah kaki ‘Agus IWA’. Terlalu lama menemukan sesuatu
yang dicari kakinya. Dengan sabar membungkukkan badannya, kemudian menggunakan
tangannya meraih sendal yang menjauh dari kakinya.
Kembali pintu
terketuk disertai dengan suara yang lembut.
“Assalamu’alaikum….”,
suara dari balik pintu luar.
Dengan berjalan
sambil menyeret sandal karena belum terpakai sempurna dijawabnya salam dari
luar pintu.
“Walaikumussalam
warahmatullahi wabarokatuh”, dengan napas tak beraturan. Suara gesekan engsel
pintu yang kering mengiringi gerakan daun pintu.
“Assalamu’alaikum
Bunda…”, ucap sang tamu sambil bersalaman, mencium tangan kemudian….berpelukaaaan.
“Masya
Allah….Duh…cantiknya…..”, pujinya tanpa basa-basi.
Lalu mereka
masuk bergandengan. Tamunya didudukkan di sofa tempat semula. Tamunya sudah
terlihat sudah familier dengan empunya.
“Tehnya mau
dingin, panas, apa anget?”, tanyanya yang tak marathon.
“Tiga-tiganya
boleh….. Anget ajalah”, jawabnya dengan canda diserta dengan tawa bersama.
Tanpa menunggu
lama ia segera beranjak ke dapur untuk membikinkan teh anget untuk tamunya.
Sementara tamunya melihat tablet yang masih menyala dengan tulisan yang
terbaca. Cahaya tablet meredup. Dengan ragu-ragu disentuhnya layar tablet.
Bray, layar tablet kembali terang. Dengan ragu lagi ia meneruskan membaca
tulisan yang terpampang di layar. Dengan Teknik membaca memindai ia segera
memahami apa isi tulisan Bunda Sri.
“Nyantai aja,
ya?”, tiba-tiba Bunda Sri sudah membawa baki dengan cangkir, dan toples berisi
cemilan. Sang tamu agak sedikit kaget karena merasa bersalah telah mencuri
membaca tulisan yang ada di layar tablet. Namun ia tak menunjukkan
kekagetannya.
“Hehe…tulisan
bagus”, ia komen denga napa yang dicurinya.
“Wah, wah, wah.
Pelanggaran namanya. Ntar tak laporin”, ancamnya.
“Hehe… Jadi
males buka-buka medsos, Bunda. Isinya umpatan dengan kata-kata kotor. Videonya
kekerasan, bullying, pelanggaran HAM, dan banyak lagi hal-hal berbau kejahatan.
Para pengguna medsos sepertinya orang-orang toxic. Orang-orang alim kalah
pamor”, ucapnya agak kesal.
“Sabar Jeng
Aam. Tergantung kita menyikapinya”, nada sabar yang terdengar.
“Bukan masalah
sabar dan tidak sabar Bunda. Bukankah setiap apa yang kita posting dapat
dilacak dikemudian hari, seperti kata Bunda?”, Aam Nurhasanah balik bertanya.
“Ya, benar.
Apa-apa yang pernah kita posting di internet akan menjadi jejak digital. Bahan
apa yang pernah kita selusuri lewat mesin pencarian”, jelas Bunda.
“Trus harus
bagaimana cara kita berselancar di dunia maya?”, pertanyaan terlontar
begitu saja.
“Setiap
tindakan kita di internet merupakan jejak digital yang kita tinggalkan. Dan hal
tersebut mencerminkan gambaran kita di dunia maya. Dunia maya merupakan sebuah
buku catatan dalam kita berselancar. Menjaga kerapian, kebersihan buku catatan
kita adalah langkah yang bijaksana yaitu dengan menghindari informasi yang
salah dan menjaga reputasi”, tambahnya.
“Yes, I see”,
sambil mengangguk-angguk.
“Ayo, sambil
sruput tehnya!”, kata Bunda Sri sambil mengambil makanan di toples.
“Terima kasih.
Bunda, bagaimana hal yang baik untuk mengelola jejak digital?”, tanyanya lagi
sesudah menyeruput tehnya.
“Jejak digital
itu ada yang aktif dan ada yang pasif. Yang aktif itu sesuatu yang kita sengaja
posting, sedangkan yang pasif itu yang tak disadari oleh pengguna seperti
pelacakan cookie, lokasi geografi, dan pola pencarian. Oleh karena itu, posting
hal positif, hindari posting data diri, hindari perundungan, stop oversharing,
hindari komentar buruk, dan hapus cookie”, Bunda menjelaskan.
“Apa langkah
preventif untuk menghindari pelanggaran privasi?”, Aam terus nrocos.
“Sabar, dong,
biar aku bernafas lah”, Bunda Sri membenarkan duduknya.
“Hehe.. maaf.
Seru sih”, ucapnya.
“Langkah
preventif untuk menghindari pelanggaran privasi adalah dengan pengaturan
privasi dengan selalu meninjau dan menyesuaikan pengaturan privasi di medsos.
Kedua, dengan menggunakan kata sandi yang kuat. Ketiga, menghapus akun yang
sudah tak dipakai. Keempat, memeriksa jejak digital secara berkala. Dalam hal
menjelajah bisa menggunakan mode penyamaran. Dan yang terakhir, jangan
sembarangan membuka tautan atau pengunduhan. Demikian pejelasannya”, mereka
terkekeh bersama.
Gerimis di luar
rumah tak dirasakan oleh mereka berdua. Bunga-bunga dan tanaman hias yang
tertata di halaman ruman Bunda Sri tampak basah. Tukang baso memukul-mukul
mangkoknya. Tukang bakso tak lagi teriak-teriak menawarkan baksonya. Tukang
bakso yang sudah bertahun tahun melewati jalan depan rumah Bunda Sri. Para
penghuni sudah hapal dengan bunyi mangkok yang dipukulnya.
“Bakso?”, tanya
Bunda Sri pada Aam. Tanpa menunggu jawaban Aam, Bunda Sri pergi ke dapur
mengambil mangkok. Bunda Sri juga sudah menaruh uang pas pada mangkok yang
diserahkan pada tukang bakso. Bunda Sri tak banyak bicara kepada tukang bakso.
Aam menikmati cemilan yang disuguhkan padanya. Tak lama kemudian Bunda Sri
membawa masuk sebuah mangkok bakso, tapi cuma satu.
“Bunda mana?”,
tanya Aam penasaran.
“Ssst. Bakso
bisa membunuhku. Ga usah protes”, ucap Bunda membuat Aam tak berkata lagi.
Aam menggeser
cangkir tehnya. Tapi entah bagaimana, lengan bajunya membuat toples cemilan
jatuh. Prak. Cemilan berantakan. Aam jadi salah tingkah membuat cangkir tehnya
terguling dan tumpah. Basah taplak meja, kotor lantai oleh cemilan. Suasana
jadi tak kondusif.
“Tenang-tenang,
kenaka jadi grogi gitu”, Bunda mencairkan suasana.
“Nggak, Bun. Untung
baksonya gak tumpah. Bunda jelasin aja yang mau Bunda jelasin, biar aku
menikmati bakso”, ucap Aam santai.
“Enak aja. Tapi
tak apalah. Terakhir nih. Resiko atau efek negatif akibat jejak digital.
Pertama, merusak citra diri akibat unggahan konten negatif dan akan menjadi
target cyberbulliying. Kedua, kehilangan kesempatan baik, akibat konten
tak pantas. Ketiga, berpeluang kena tipuan atau kejahatan lain akibat tautan
atau undahan yang serampangan. Udah deh”, Bunda Sri mengakhirinya.
Aam belum
mengakhiri baksonya. Ia masih menahan
pedasnya saus dan sambal. Bunda tahu kalau Aam peru air putih. Tanpa basa-basi
ia mengambilkan sebuah air mineral yang tersedia biasa untuk kalau ada tamu.
“Makasih, Bun”,
ucapnya sambil hah-hah menyemburkan rasa pedas. Bunda hanya tersenyum melihat
Aam semangat dengan baksonya.
Resume 2, 20-12-2024
HADISUSILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar