Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Desember 2024

NAPAK TILAS

 

‘Gerimis Mengundang’, sebuah judul lagu Slam tahun 1995 didendangkan oleh seorang yang awet cantik, Sri. Nama yang menunjukkan bangsa. Bidadari di langit mentikkan air mata. Suasana sejuk di suatu siang di bulan Desember. Sofa empuk menjadi tempat bersantai sambil menikmati teh tak manis. Kenapa? Karena yang manikmatinya sudah manis. Takut diabet. Sri bukan orang yang suka melamun. Dipangkuannya ada tablet yang selalu menemaninya. Bukan tablet obat, ya, tapi komputasi portabel. Jari jemarinya menari di atas layarnya. Terkadang diselingi seruputan teh atau menilhat langit-langit yang tak pernah tahu kalau sedang dilihatnya. Kemudian pandangannya kembali ke tablet. Jemarinya kembali menari di layar. Sesekali melihat ke arah jam dinding artistik yang berada di atas lukisan. Kemudian mengembalikan ke awal tulisan.

“Betapa riuh rendahnya dunia medsos saat ini. Tiap waktu ada-ada berita yang menyesakkan dada. Kalau tak menyesakkan mengarah ke membuat geram. Ada berita tentang kesengsaraan, penderitaan, kesedihan atau malapetaka yang disebabkan oleh orang lain atau kelakuan dirinya sendiri. Semua kejadian di dunia ini harus viral. Ya. Viral mejadi sebuah kata yang kemunculannya mendominasi saat ini. Pengguna medsos bisa memviralkan kelakuan, tindakan, kata-kata, atau apa saja tentang orang lain.

Secara naluri manusia ingin diakui eksistensinya. Pemikiran itu ditangkap oleh pemilik plafon medsos. Oleh karena itu, disediakanlah tempat untuk mengaktualisaskan diri di setiap plafon medsos. Para pengguna medsos lalu menggunakan tempat aktualisasi diri itu untuk berbagai keperluan. Ada yang menggunakan sebagai tempat curhat, mengeluarkan semua isi hati yang tak berani mengungkapkan secara verbal kepada orang lain, ada yang menggunakan sebagai tempat pemberitahuan tentang dirinya, bahkan banyak yang menggunakan untuk mengumpat karena kekesalannya kepada orang lain.

Semua yang pernah kita unggah ke medsos atau internet ternyata menjadi sebuah jejak yang tak akan pernah hilang. Ya, tak akan pernah hilang. Kekal? Tidak juga. Semua tergantung kebijakan pemilik platform. Dalam hal ini pengguna medsos/internetlah yang harus bijaksana. Bagaimana menggunakan medsos yang bijaksana….”

Ada yang mengetuk pintu. Bukan pintu hati, tapi pintu rumah. Sri segera meletakkan tabletnya di sisi cangkir teh yang isinya hampir habis. Kakinya bergerak-gerak. Gerakan kakinya tak selincah kaki ‘Agus IWA’. Terlalu lama menemukan sesuatu yang dicari kakinya. Dengan sabar membungkukkan badannya, kemudian menggunakan tangannya meraih sendal yang menjauh dari kakinya.

Kembali pintu terketuk disertai dengan suara yang lembut.

“Assalamu’alaikum….”, suara dari balik pintu luar.

Dengan berjalan sambil menyeret sandal karena belum terpakai sempurna dijawabnya salam dari luar pintu.

“Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh”, dengan napas tak beraturan. Suara gesekan engsel pintu yang kering mengiringi gerakan daun pintu.

“Assalamu’alaikum Bunda…”, ucap sang tamu sambil bersalaman, mencium tangan kemudian….berpelukaaaan.

“Masya Allah….Duh…cantiknya…..”, pujinya tanpa basa-basi.

Lalu mereka masuk bergandengan. Tamunya didudukkan di sofa tempat semula. Tamunya sudah terlihat sudah familier dengan empunya.

“Tehnya mau dingin, panas, apa anget?”, tanyanya yang tak marathon.

“Tiga-tiganya boleh….. Anget ajalah”, jawabnya dengan canda diserta dengan tawa bersama.

Tanpa menunggu lama ia segera beranjak ke dapur untuk membikinkan teh anget untuk tamunya. Sementara tamunya melihat tablet yang masih menyala dengan tulisan yang terbaca. Cahaya tablet meredup. Dengan ragu-ragu disentuhnya layar tablet. Bray, layar tablet kembali terang. Dengan ragu lagi ia meneruskan membaca tulisan yang terpampang di layar. Dengan Teknik membaca memindai ia segera memahami apa isi tulisan Bunda Sri.

“Nyantai aja, ya?”, tiba-tiba Bunda Sri sudah membawa baki dengan cangkir, dan toples berisi cemilan. Sang tamu agak sedikit kaget karena merasa bersalah telah mencuri membaca tulisan yang ada di layar tablet. Namun ia tak menunjukkan kekagetannya.

“Hehe…tulisan bagus”, ia komen denga napa yang dicurinya.

“Wah, wah, wah. Pelanggaran namanya. Ntar tak laporin”, ancamnya.

“Hehe… Jadi males buka-buka medsos, Bunda. Isinya umpatan dengan kata-kata kotor. Videonya kekerasan, bullying, pelanggaran HAM, dan banyak lagi hal-hal berbau kejahatan. Para pengguna medsos sepertinya orang-orang toxic. Orang-orang alim kalah pamor”, ucapnya agak kesal.

“Sabar Jeng Aam. Tergantung kita menyikapinya”, nada sabar yang terdengar.

“Bukan masalah sabar dan tidak sabar Bunda. Bukankah setiap apa yang kita posting dapat dilacak dikemudian hari, seperti kata Bunda?”, Aam Nurhasanah balik bertanya.

“Ya, benar. Apa-apa yang pernah kita posting di internet akan menjadi jejak digital. Bahan apa yang pernah kita selusuri lewat mesin pencarian”, jelas Bunda.

“Trus harus bagaimana cara kita berselancar di dunia maya?”, pertanyaan terlontar begitu  saja.

“Setiap tindakan kita di internet merupakan jejak digital yang kita tinggalkan. Dan hal tersebut mencerminkan gambaran kita di dunia maya. Dunia maya merupakan sebuah buku catatan dalam kita berselancar. Menjaga kerapian, kebersihan buku catatan kita adalah langkah yang bijaksana yaitu dengan menghindari informasi yang salah dan menjaga reputasi”, tambahnya.

Yes, I see”, sambil mengangguk-angguk.

“Ayo, sambil sruput tehnya!”, kata Bunda Sri sambil mengambil makanan di toples.

“Terima kasih. Bunda, bagaimana hal yang baik untuk mengelola jejak digital?”, tanyanya lagi sesudah menyeruput tehnya.

“Jejak digital itu ada yang aktif dan ada yang pasif. Yang aktif itu sesuatu yang kita sengaja posting, sedangkan yang pasif itu yang tak disadari oleh pengguna seperti pelacakan cookie, lokasi geografi, dan pola pencarian. Oleh karena itu, posting hal positif, hindari posting data diri, hindari perundungan, stop oversharing, hindari komentar buruk, dan hapus cookie”, Bunda menjelaskan.

“Apa langkah preventif untuk menghindari pelanggaran privasi?”, Aam terus nrocos.

“Sabar, dong, biar aku bernafas lah”, Bunda Sri membenarkan duduknya.

“Hehe.. maaf. Seru sih”, ucapnya.

“Langkah preventif untuk menghindari pelanggaran privasi adalah dengan pengaturan privasi dengan selalu meninjau dan menyesuaikan pengaturan privasi di medsos. Kedua, dengan menggunakan kata sandi yang kuat. Ketiga, menghapus akun yang sudah tak dipakai. Keempat, memeriksa jejak digital secara berkala. Dalam hal menjelajah bisa menggunakan mode penyamaran. Dan yang terakhir, jangan sembarangan membuka tautan atau pengunduhan. Demikian pejelasannya”, mereka terkekeh bersama.

Gerimis di luar rumah tak dirasakan oleh mereka berdua. Bunga-bunga dan tanaman hias yang tertata di halaman ruman Bunda Sri tampak basah. Tukang baso memukul-mukul mangkoknya. Tukang bakso tak lagi teriak-teriak menawarkan baksonya. Tukang bakso yang sudah bertahun tahun melewati jalan depan rumah Bunda Sri. Para penghuni sudah hapal dengan bunyi mangkok yang dipukulnya.

“Bakso?”, tanya Bunda Sri pada Aam. Tanpa menunggu jawaban Aam, Bunda Sri pergi ke dapur mengambil mangkok. Bunda Sri juga sudah menaruh uang pas pada mangkok yang diserahkan pada tukang bakso. Bunda Sri tak banyak bicara kepada tukang bakso. Aam menikmati cemilan yang disuguhkan padanya. Tak lama kemudian Bunda Sri membawa masuk sebuah mangkok bakso, tapi cuma satu.

“Bunda mana?”, tanya Aam penasaran.

“Ssst. Bakso bisa membunuhku. Ga usah protes”, ucap Bunda membuat Aam tak berkata lagi.

Aam menggeser cangkir tehnya. Tapi entah bagaimana, lengan bajunya membuat toples cemilan jatuh. Prak. Cemilan berantakan. Aam jadi salah tingkah membuat cangkir tehnya terguling dan tumpah. Basah taplak meja, kotor lantai oleh cemilan. Suasana jadi tak kondusif.

“Tenang-tenang, kenaka jadi grogi gitu”, Bunda mencairkan suasana.

“Nggak, Bun. Untung baksonya gak tumpah. Bunda jelasin aja yang mau Bunda jelasin, biar aku menikmati bakso”, ucap Aam santai.

“Enak aja. Tapi tak apalah. Terakhir nih. Resiko atau efek negatif akibat jejak digital. Pertama, merusak citra diri akibat unggahan konten negatif dan akan menjadi target cyberbulliying. Kedua, kehilangan kesempatan baik, akibat konten tak pantas. Ketiga, berpeluang kena tipuan atau kejahatan lain akibat tautan atau undahan yang serampangan. Udah deh”, Bunda Sri mengakhirinya.

Aam belum mengakhiri baksonya.  Ia masih menahan pedasnya saus dan sambal. Bunda tahu kalau Aam peru air putih. Tanpa basa-basi ia mengambilkan sebuah air mineral yang tersedia biasa untuk kalau ada tamu.

“Makasih, Bun”, ucapnya sambil hah-hah menyemburkan rasa pedas. Bunda hanya tersenyum melihat Aam semangat dengan baksonya.

Resume 2, 20-12-2024

HADISUSILO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar