Jalanan tak seramai hari Senin sampai Jumat. Kendaraan roda dua biasanya saling mendahului dengan kecepatan yang tinggi. Ada yang mengenakan seragam kaos, ada yang menggunakan seragam baju, tergantung hari. Para pegawai pabrik umumnya menggunaan seraam kaos. Orang dapat dilihat kerja dimananya dari kaos seragam yang dikenakannya. Pun demikian yang menggunakan baju. Ada yang masih sekolah bahkan ada yang masih menggunakan seragam SMP tetapi berpacu dijalanan bersaing dengan oran-orang dewasa.
Tidak hari ini.
Hanya beberapa sepeda motor yang berlalu-lalang melaju dengan kecepatan biasa. Semenjak
pasar baru diresmikan untuk umum, pengunjung atau yang berbelanja di pasar baru
tak seheboh sebelum direnovasi. Desas-desus yang tersebar konon harganya
terlalu mahal bagi pedagang kecil. Dan memang benar kata Surti yang biasa
mangkal di pasar dulu. Sebelum direnovasi Surti berdagang bubur ayam dan
pelanggannyab banyak. Selain sesama pedagang, pelanggannya para pengunjung
pasar yang berbelanja. Pengunjung pasar juga ada yang berbelanja untuk dijual
kembali dengan membuka waung atau didagangkan keliling. Dan mereka itu
pelanggan tetap Surti.
Semenjak direnovasi,
Surti berdagang di pinggir jalan ang melintasi depan pasar. Pedagang lain pun
demikian. Bagi pedagang-pedagang grosir menyewa ruko di sepanjang jalan.
“Mak, belum
habis?”, tanya Dadi anaknya.
“Dikit lagi”,
jawab Surti singkat.
“Ngajar dimana
Dik?”, seorang pelanggan yang sedang makan bertanya.
“Di SMP 2, Pak.
Tapi masih honor”, jawab Dadi tak percaya diri.
“Oh… Nggak
apa-apa, jalani saja”, saran pelanggan tersebut.
“Iya, saya
suruh dagang aja nggak mau. Maunya jadi guru. Gajinya nggak cukup buat beli
bensin”, Surti menyelingi percakapan mereka.
“Ngajar apa?”,
tanya pelanggan tadi.
“Aslinya Bahasa
Indonesia, Pak. Tapi nggak kebagian jam, jadi ngajar mapel lain”, Dadi menjawab
dengan agal memelas.
“Semua berapa
jam?”, pelanggan itu kepo.
“14 jam, Pak”,
jawab Dadi malu.
“Berarti banyak
waktu luang buat bantuin ibu”, ucap pelanggan.
“Iya, tapi masa
begini terus”, keluhnya.
“Ya. Ini kan
baru awal”, pelanggan itu menghibur.
“Udah hampir 2
tahun, Pak. Nggak ada peningkatan”, jelas dadi.
“Jadi penulis aja.
Selain sebagai pengisi waktu, kalau hoky hasilnya lebih dari yang ASN”, pelanggan
itu memberi harapan.
“Berat, Pak
jadi penulis. Ngga ada bakat”, keluh Dadi.
“Udah nyoba? Punya
medsos WA, IG, atau lainnya?”, pelanggan itu menelisik.
“Jelaslah, Pak
masa anak muda kudet, he”, jawab Dadi nggak mau disebut generasi jadul.
“Suka komen
atau chating? Atau kirim video, foto mungkin, atau membalas dengan vn?”,
pelanggan itu terus bertanya.
“Iya, memang
kenapa?”, Dadi merasa ada yang aneh.
“Berarti kamu
suka menulis, suka bikin video, foto, suka ngomong. Cuma nggak terarah. Coba diarahkan
tulisannya, gambarnya, videonya, voice note-nya. Kan jurusan Bahasa”, pelanggan
setengan menyindir.
Dadi merasa ternohok
dengan perkataan pelanggan yang sedang menikmati bubur ayam buatan ibunya. Tapi
kalau dipikir-pikir ia membenarkan perkataan pelanggan tersebut. Dia suka
memberi tugas kepada siswanya untuk membuat laporanlah, menulis puisilah biat
majalah dinding walaupun ia tak mengajar Bahasa Indonesia. Ia juga suka menyuruh
siswanya menirim video kegiatan P5.
“Ini kata Om
Jay, orang yang sudah melalang buana
digital ‘Menyalurkan hobi di media digital saat ini mudah sekali. Anda bisa
menyalurkan dengan berbagai platform media sosial. Anda bisa kirimkan foto
tersebut ke media sosial seperti Facebook, Twitter atau x, bahkan
di Instagram atau tiktok. Sekarang ini Anda bebas memotret apa yang ingin Anda
potret. Asalkan seizin yang dipotret’ jelaskan?”, kata pelanggan dengan
memberhentikan suara yang ada di hapenya.
“Coba Simak baik-bai!
‘Anda bisa juga mempublikasikan kegiatan yang menarik seperti kegiatan media
satuguru. Artinya apa yang Anda lihat dan Anda baca, bisa Anda bagikan kepada
semua orang. Asalkan saring sebelum sharing. Hobi manusia itu
macam-macam. Ada yang hobi menulis dan ada yang hobi membaca. Ada juga yang
hobi bicara’ kan, hobi itu bisa disalurkan lewat medsos”, pelanggan itu
menambahkan.
“ Kalau mau ’Untuk
menyalurkan hobi itu kami di asosiasi profesi dan keahlian sejenis atau apks
PGRI membuka berbagai kelas online. Ada kelas menulis dan ada kelas
bicara. Ada juga kelas lainnya seperti kelas guru motivator literasi digital’
tinggal pilih aja dimana passion-mu”.
“ Kata Om Jay ‘Guru
yang pantang menyerah dan mau belajar dengan berbagai media. Saat ini kita
dimudahkan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelegensi atau AI. Kita
bisa menyalurkan hobi dengan AI yang semakin sempurna dibuat orang pintar di
dunia dengan berbagai Bahasa’ Di WA ada Meta AI-kan?”, tanya pelanggan.
Dadi mengangguk
sambil melihat ke WA. Dia merasa belum pernah menggunakannya.
“Menyalurkan
hobi di media atau platform digital sekarang ini sangat mudah. Kita bisa
menggunakannya dimana saja dan kapan saja. Namun ingatlah selalu bahwa jarimu
adalah harimaumu. Jangan asal menulis dan asal bicara sebelum kita mampu
mengendalikan diri sendiri. Sebab menaklukan ribuan orang belum bisa dianggap
sebagai pemenang. Namun mampu menaklukkan diri sendiri itulah yang disebut
sebagai pemenang”, pelanggan itu mengingatkan dengan mengutip apa yang pernah
didengar dari Om Jay.
“Saran Om Jay ‘Buat
Anda yang hobi menulis dan membaca sebaiknya punya blog pribadi yang berbayar
Selain punya
blog Omjay juga punya akun YouTube dengan akun https://YouTube.com/wijayalabs’
silakan kamu buka sendiri nanti”, kata pelanggan itu.
“Jangan
beralasan hapenya jelek. Ni, saya bacakan postingan Om Jay ‘Hp pertama Omjay
beli di negara China tahun 2019 dan saat Omjay dapat kesempatan belajar steam
di negara China sebelum pandemi COVID. HP kedua dibelikan anak pertama Omjay
karena melihat ayahnya senang menulis setiap hari dan menjadi guru blogger
Indonesia. Dengan kedua ponsel pintar ini Omjay menyalurkan hobi di media
digital
Kalau lagi
banyak yang baca bisa sampai dua setengah juta. Jadi menulis adalah hobi yang
dibayar dan kita menjadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan’ Sekarang kembali
ke dirimu sendiri” ujar pelanggan.
“Bapak juga memiliki
konten-konten di medsos?”, tanya Dadi.
“Hanya punya
akun. Saya dagang konveksi. Kebetulan ada pedagang di pasar yang mau pesen kaos
seragam sama baju batik, katanya mau buat hajat”, jawab Pak Asli.
“Jadi berapa
Bu?”, tanya pelanggan itu.
Orang tersebut
segera membayar sesuai dengan yang disebutkan oleh Surti ibunya Dadi. Setelahnya
berpamitan.
“Maaf, Pak. Tadi
Bapak bilang ada pelatihan online gratis, dimana Pak?”, Dadi penasaran.
“Oke. Nomor hape?”,
tanya pelanggan
Kemudian Dadi
meyebutkan nomor hapenya. Tak berapa lama hape Dani berbunyi.
“Itu nomorku,
kasih nama Babeh”, pungkasnya.
Subang, 23-12-2024
Resume 7
HADISUSILO
Mantap
BalasHapusTengyu Om Jay
HapusTengyu, Om
BalasHapus