Total Tayangan Halaman

Senin, 23 Desember 2024

MINAT

 Jalanan tak seramai hari Senin sampai Jumat. Kendaraan roda dua biasanya saling mendahului dengan kecepatan yang tinggi. Ada yang mengenakan seragam kaos, ada yang menggunakan seragam baju, tergantung hari. Para pegawai pabrik umumnya menggunaan seraam kaos. Orang dapat dilihat kerja dimananya dari kaos seragam yang dikenakannya. Pun demikian yang menggunakan baju. Ada yang masih sekolah bahkan ada yang masih menggunakan seragam SMP tetapi berpacu dijalanan bersaing dengan oran-orang dewasa.

Tidak hari ini. Hanya beberapa sepeda motor yang berlalu-lalang melaju dengan kecepatan biasa. Semenjak pasar baru diresmikan untuk umum, pengunjung atau yang berbelanja di pasar baru tak seheboh sebelum direnovasi. Desas-desus yang tersebar konon harganya terlalu mahal bagi pedagang kecil. Dan memang benar kata Surti yang biasa mangkal di pasar dulu. Sebelum direnovasi Surti berdagang bubur ayam dan pelanggannyab banyak. Selain sesama pedagang, pelanggannya para pengunjung pasar yang berbelanja. Pengunjung pasar juga ada yang berbelanja untuk dijual kembali dengan membuka waung atau didagangkan keliling. Dan mereka itu pelanggan tetap Surti.

Semenjak direnovasi, Surti berdagang di pinggir jalan ang melintasi depan pasar. Pedagang lain pun demikian. Bagi pedagang-pedagang grosir menyewa ruko di sepanjang jalan.

“Mak, belum habis?”, tanya Dadi anaknya.

“Dikit lagi”, jawab Surti singkat.

“Ngajar dimana Dik?”, seorang pelanggan yang sedang makan bertanya.

“Di SMP 2, Pak. Tapi masih honor”, jawab Dadi tak percaya diri.

“Oh… Nggak apa-apa, jalani saja”, saran pelanggan tersebut.

“Iya, saya suruh dagang aja nggak mau. Maunya jadi guru. Gajinya nggak cukup buat beli bensin”, Surti menyelingi percakapan mereka.

“Ngajar apa?”, tanya pelanggan tadi.

“Aslinya Bahasa Indonesia, Pak. Tapi nggak kebagian jam, jadi ngajar mapel lain”, Dadi menjawab dengan agal memelas.

“Semua berapa jam?”, pelanggan itu kepo.

“14 jam, Pak”, jawab Dadi malu.

“Berarti banyak waktu luang buat bantuin ibu”, ucap pelanggan.

“Iya, tapi masa begini terus”, keluhnya.

“Ya. Ini kan baru awal”, pelanggan itu menghibur.

“Udah hampir 2 tahun, Pak. Nggak ada peningkatan”, jelas dadi.

“Jadi penulis aja. Selain sebagai pengisi waktu, kalau hoky hasilnya lebih dari yang ASN”, pelanggan itu memberi harapan.

“Berat, Pak jadi penulis. Ngga ada bakat”, keluh Dadi.

“Udah nyoba? Punya medsos WA, IG, atau lainnya?”, pelanggan itu menelisik.

“Jelaslah, Pak masa anak muda kudet, he”, jawab Dadi nggak mau disebut generasi jadul.

“Suka komen atau chating? Atau kirim video, foto mungkin, atau membalas dengan vn?”, pelanggan itu terus bertanya.

“Iya, memang kenapa?”, Dadi merasa ada yang aneh.

“Berarti kamu suka menulis, suka bikin video, foto, suka ngomong. Cuma nggak terarah. Coba diarahkan tulisannya, gambarnya, videonya, voice note-nya. Kan jurusan Bahasa”, pelanggan setengan menyindir.

Dadi merasa ternohok dengan perkataan pelanggan yang sedang menikmati bubur ayam buatan ibunya. Tapi kalau dipikir-pikir ia membenarkan perkataan pelanggan tersebut. Dia suka memberi tugas kepada siswanya untuk membuat laporanlah, menulis puisilah biat majalah dinding walaupun ia tak mengajar Bahasa Indonesia. Ia juga suka menyuruh siswanya menirim video kegiatan P5.

“Ini kata Om Jay, orang yang sudah melalang  buana digital ‘Menyalurkan hobi di media digital saat ini mudah sekali. Anda bisa menyalurkan dengan berbagai platform media sosial. Anda bisa kirimkan foto tersebut ke media sosial seperti Facebook, Twitter atau x, bahkan di Instagram atau tiktok. Sekarang ini Anda bebas memotret apa yang ingin Anda potret. Asalkan seizin yang dipotret’ jelaskan?”, kata pelanggan dengan memberhentikan suara yang ada di hapenya.

“Coba Simak baik-bai! ‘Anda bisa juga mempublikasikan kegiatan yang menarik seperti kegiatan media satuguru. Artinya apa yang Anda lihat dan Anda baca, bisa Anda bagikan kepada semua orang. Asalkan saring sebelum sharing. Hobi manusia itu macam-macam. Ada yang hobi menulis dan ada yang hobi membaca. Ada juga yang hobi bicara’ kan, hobi itu bisa disalurkan lewat medsos”, pelanggan itu menambahkan.

“ Kalau mau ’Untuk menyalurkan hobi itu kami di asosiasi profesi dan keahlian sejenis atau apks PGRI membuka berbagai kelas online. Ada kelas menulis dan ada kelas bicara. Ada juga kelas lainnya seperti kelas guru motivator literasi digital’ tinggal pilih aja dimana passion-mu”.

“ Kata Om Jay ‘Guru yang pantang menyerah dan mau belajar dengan berbagai media. Saat ini kita dimudahkan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelegensi atau AI. Kita bisa menyalurkan hobi dengan AI yang semakin sempurna dibuat orang pintar di dunia dengan berbagai Bahasa’ Di WA ada Meta AI-kan?”, tanya pelanggan.

Dadi mengangguk sambil melihat ke WA. Dia merasa belum pernah menggunakannya.

“Menyalurkan hobi di media atau platform digital sekarang ini sangat mudah. Kita bisa menggunakannya dimana saja dan kapan saja. Namun ingatlah selalu bahwa jarimu adalah harimaumu. Jangan asal menulis dan asal bicara sebelum kita mampu mengendalikan diri sendiri. Sebab menaklukan ribuan orang belum bisa dianggap sebagai pemenang. Namun mampu menaklukkan diri sendiri itulah yang disebut sebagai pemenang”, pelanggan itu mengingatkan dengan mengutip apa yang pernah didengar dari Om Jay.

“Saran Om Jay ‘Buat Anda yang hobi menulis dan membaca sebaiknya punya blog pribadi yang berbayar

Selain punya blog Omjay juga punya akun YouTube dengan akun https://YouTube.com/wijayalabs’ silakan kamu buka sendiri nanti”, kata pelanggan itu.

“Jangan beralasan hapenya jelek. Ni, saya bacakan postingan Om Jay ‘Hp pertama Omjay beli di negara China tahun 2019 dan saat Omjay dapat kesempatan belajar steam di negara China sebelum pandemi COVID. HP kedua dibelikan anak pertama Omjay karena melihat ayahnya senang menulis setiap hari dan menjadi guru blogger Indonesia. Dengan kedua ponsel pintar ini Omjay menyalurkan hobi di media digital

Kalau lagi banyak yang baca bisa sampai dua setengah juta. Jadi menulis adalah hobi yang dibayar dan kita menjadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan’ Sekarang kembali ke dirimu sendiri” ujar pelanggan.

“Bapak juga memiliki konten-konten di medsos?”, tanya Dadi.

“Hanya punya akun. Saya dagang konveksi. Kebetulan ada pedagang di pasar yang mau pesen kaos seragam sama baju batik, katanya mau buat hajat”, jawab Pak Asli.

“Jadi berapa Bu?”, tanya pelanggan itu.

Orang tersebut segera membayar sesuai dengan yang disebutkan oleh Surti ibunya Dadi. Setelahnya berpamitan.

“Maaf, Pak. Tadi Bapak bilang ada pelatihan online gratis, dimana Pak?”, Dadi penasaran.

“Oke. Nomor hape?”, tanya pelanggan

Kemudian Dadi meyebutkan nomor hapenya. Tak berapa lama hape Dani berbunyi.

“Itu nomorku, kasih nama Babeh”, pungkasnya.

Subang, 23-12-2024

Resume 7

HADISUSILO

3 komentar: